Jam Piket Organ Tubuh

Posted in Technology on November 23, 2009 by JonRS

Zaman sekarang masyarakat sudah super sibuk,jadi setiap orang terkadang lupa dengan kesehatan dalam tubuhnya sendiri…Jadi gw mau sedikit kasih info jadwal kerja organ tubuh kita…Biar para juragan semua dapat beraktivitas dengan pola hidup yang sehat.

Berikut jadwal kerja organ kita :

LAMBUNG Jam 07.00 – 09.00 Jam piket organ lambung
sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk proses pembentukan energi tubuh sepanjang hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna segera terserap tubuh.

LIMPA Jam 09.00 – 11.00 Jam piket organ limpa
kuat, dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan. Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah. Kurangi konsumsi gula, lemak, minyak dan protein hewani.

JANTUNG Jam 11.00 – 13.00 Jam piket organ jantung
kuat, harus istirahat, hindari panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama pada penderita gangguan pembuluh darah.

HATI Jam 13.00 – 15.00 Jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi proses regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka tubuh kuat untuk menangkal semua penyakit.

PARU-PARU Jam 15.00 – 17.00 Jam piket organ paru-paru lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk proses pembuangan racun dan proses pembentukan energi paru-paru

GINJAL Jam 17.00 – 19.00 Jam piket organ ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar karena terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan otak serta kecerdasan.

LAMBUNG Jam 19.00 – 21.00 Jam piket organ lambung lemah sebaiknya tidak mengkonsumsi makan yang sulit dicerna atau lama dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan

LIMPA Jam 21.00 – 23.00 Jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan jiwa, untuk meningkatkan imunitas.

JANTUNG Jam 23.00 – 01.00 Jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung.

HATI Jam 01.00 – 03.00
Jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil metabolisme tubuh. Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan gangguan mata. Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri.

PARU-PARU Jam 03.00 – 05.00 Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun pada organ paru-paru, apabila terjadi batuk, bersin-bersin dan berkeringat menandakan adanya gangguan fungsi paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi paru yang sehat dan kuat.

USUS BESAR Jam 05.00 – 07.00 Jam piket organ usus besar kuat, sebaiknya biasakan BAB secara teratur.

Semoga bermanfaat bagi Anda.

Arti tanda segitiga pada kemasan plastik

Posted in Technology on November 23, 2009 by JonRS

Kode-kode ntu dikeluarin ama The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat trus diadopsi ama lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization).

Berikut tanda pengenal plastik secara umumnya :
1. Berada atau terletak di bagian bawah
2. Berbentuk segitiga
3. Di dalam segitiga tersebut terdapat angka
4. Serta nama jenis plastik di bawah segitiga

Tanda pengenal plastik itu dibagi menjadi 7 buah kelompok. Serta 3 tambahan sehingga totalnya ada 10 buah. Tanda-tanda plastik tersebut adalah:
1. PET/ PETE ( Polyethylene Terephthalate )

Tanda ini biasanya tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya
serta tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik, berwarna jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. BOTOL JENIS PET/PETE ini direkomendasikan HANYA SEKALI PAKAI. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang

2. HDPE ( High Density Polyethylene )

Umumnya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. Sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.

3. V/PVC

Tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V. V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain (bukan bertanda 3 dan V) seperti plastik yang terbuat dari polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya)
nihh gan kode-kodenya

4. LDPE (Low Density Polyethylene)

Tertera logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE. LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.

Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah
1. Kuat,
2. Agak tembus cahaya,
3. Fleksibel dan permukaan agak berlemak.
4. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia,
5. Daya proteksi terhadap uap air tergolong baik,
6. Kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. 7. Plastik ini dapat didaur ulang, baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, dan memiliki resistensi yang baik terhadap reaksi kimia.
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini

5. PP ( Polypropylene )

Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

6. PS/PolyStyrene

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS. PS (polystyrene) ditemukan tahun 1839, oleh Eduard Simon, seorang apoteker dari Jerman, secara tidak sengaja. PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga

7. O/ OTHER
Tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER. Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 jenis, yaitu :
1. SAN – styrene acrylonitrile,
2. ABS – acrylonitrile butadiene styrene,
3. PC – polycarbonate,
4. Nylon

Dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan. SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.

Plastik dengan jenis 7 yaitu SAN dan ABS merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman. Bagaimana jenis plastik dengan kode 7 serta tulisan PC? PC – atau nama Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.

Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas

Yang harus kita lakukan adalah :
1. Harus bijak dalam menggunakan plastik, khususnya kode 1, 3, 6, dan 7 (PC), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Gunakan hanya sekali pakai!
2. Akan aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5, dan 7 (SAN atau ABS)

JANGAN LUPA!!!!!!!!!!!!

Hindari Panas & Minyak

Penggunaan plastik untuk membungkus makanan juga perlu diwaspadai. Hindari memanaskan makanan dengan wadah atau bungkus yang terbuat dari plastik dalam microwave.
Hindari menggunakan tempat dari bahan plastik untuk menaruh makanan panas, apalagi berminyak, dalam microwave. beberapa studi menunjukan migrasi komponen plastik ke dalam bahan pangan selama pemanasan atau pada suhu tinggi semakin besar.

Kita juga sering melihat pedagang makanan menggunakan plastik untuk membungkus makanan tersebut dalam keadaan panas. cara ini sangat beresiko karena kantong plastik yang digunakan tidak jelas asal usulnya. Migrasi bahan berbahaya dapat saja terjadi jika plastik tersebut bukan plastik berlabel food grade. Karena kurangnya pengetahuan, kita tidak dapat menyalahkan pedagang kecil. maka disarankan, jika akan membeli makanan panas, berminyak, atau berkuah, sebaiknya membawa sendiri wadah yang aman dari rumah.

Kesimpulan :
– Plastik sangat berbahaya jika terkena air / makanan yang panas.
– Jangan masak atau ngambil nasi di magic jar memakai centong yang terbuat dari plastik.
– Pakai peralatan plastik yang ada tanda food grade-nya

VARIABEL BUDAYA HOFSTEDE

Posted in Kuliah on November 17, 2009 by JonRS

VARIABEL BUDAYA HOFSTEDE DALAM PENELITIAN
PEMASARAN INTERNASIONAL

ABSTRAK

Semakin meningkatnya penelitian mengenai hubungan antara budaya dan konsumsi sebagai eksponensial (Ogden D., Ogden J. Dan Schau HJ. Penelitian Pengaruh Budaya dan Akulturasi pada keputusan membeli konsumen: terhadap perspektif budaya mikro. Academy Marketing Science Review 2004:3). Budaya selanjutnya merupakan konsep yang sulit difahami yang menimbulkan kesulitan untuk penelitian lintas budaya (Clark T. Pemasaran Internasional dan Karakter Bangsa: Tinjauan dan Proposal teori integratif. Jurnal Pemasaran 1990; Oktober: 66 – 79; Dawar N., Parker P. Dan Price L. Penelitian Pertukaran Informasi interpersonal Lintas Budaya. Jurnal Penelitian Bisnis Internasional 1996; Manrai L., dan Manrai McCort D., dan Malhotra NK. Budaya dan Perilaku Konsumen: Terhadap Pemahaman perilaku konsumen lintas budaya dalam Pemasaran Internasional. Jurnal Pemasaran Internasional 1993; Nasif EG., Al-Daeaj H., Ebrahimi B. Dan Thilbodeaux M. Masalah Metofologis dalam penelitian lintas budaya: Tinjauan Manajemen Internasional 1991; Lenartowicz T. Dan Roth K. Konsep penilaian budaya. Jurnal Penelitian Bisnis Internasional, 1999. Artikel ini meneliti metode konseptualisasi dan operasionalisasi budaya yang berbeda dalam penelitian pemasaran. Artikel membahas keuntungan penggunaan variabel budaya – khususnya nilai-nilai budaya Hofstede. Artikel ini mengusulkan metode tiga tahap untuk operasionalisasi budaya mencakup nasionalitas, variabel budaya Hofstede dan pengukuran budaya pada tahap individu.
Kata Kunci : Penelitian Lintas-Budaya, Variabel budaya; Hofstede.

1.PENDAHULUAN

Budaya memberikan pengaruh luas pada beberapa dimensi perilaku manusia. Penyebaran budaya ini menimbulkan kesulitan dalam penentuan budaya (McCort dan Malhotra, 1993). Kesulitan ini menghambat penelitian mengenai pengaruh budaya pada perilaku konsumen internasional (Manrai dan Manrai, 1996; McCort dan Malhotra, 1993; Clark, 1990; Nasif dan rekan, 1991; Dawar dan rekan, 1996; Lenartowitz dan Roth, 1999). Dan digunakan untuk mengkritik penelitian lintas-budaya (Sekaran, 1983). Budaya merupakan ”tempat untuk menampung beberapa perbedaan struktur pasar dan perilaku yang tidak dapat dijelaskan dalam bentuk faktor-faktor yang berwujud” (Buzzell, 1969: 191), konsep ” menampung sampah” dibandingkan sebagai kesan yang jelas dan kuat mengenai jenis konsep budaya yang dangkal, sebagai variabel penjelas tambahan, ”bila penjelasan operatif terbukti tidak berhasil” (Usunier, 1999: 94).

2.DEFINISI BUDAYA

Tylor memberikan satu definisi budaya: ”sebagai unsur kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, moral, kebiasaan dan kemampuan lain dan kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakat” (1871, dalam McCort dan Malhotra, 1993: 97). Kontribusi selanjutnya adalah pertukaran semua sifat budaya yang melibatkan aspek-aspek yang mempengaruhi kehidupan manusia dalam suatu masyarakat.
Kesulitan dalam membedakan faktor-faktor budaya dengan pengaruh tahap-makro menimbulkan kesulitan dalam penentuan budaya. Budaya secara intrinsik berbeda dengan faktor lingkungan makro lain: ”selanjutnya pola perilaku secara budaya berbeda dengan lingkungan politik, hukum, agama, bahasa, pendidikan, teknologi dan lingkungan industri dimana seseorang berupaya menemukan diri mereka” (Sekaran, 1983: 68). Ya, pengisolasian budaya murni dari pengaruh lingkungan makro lain mungkin tidak memadai, seperti terdapat batasan yang tidak jelas diantara beberapa pengaruh yang saling berhubungan. ”perilaku norma budaya dan pola sosialisasi seringkali bersumber dari bauran keyakinan religius (keagamaan), kepentingan ekonomi dan politik, dan sebagainya. Penyortiran beberapa model yang belum jelas sulit secara ekstrim, jika tidak secara keseluruhan tidak memungkinkan” (Sekaran, 1983: 68).

3.Operasionalisasi Budaya

Meskipun kesulitan definsi merupakan tantangan terhadap penelitian lintas budaya, pengaruh budaya pada konsumen dan pemasaran memperoleh perhatian besar baru-baru ini. Lenartowicz dan Roth (2001) melaporkan bahwa hampir 10 persen artikel yang dipublikasikan dalam 10 jurnal terbaru selama tahun 1996 – 2000 menggunakan budaya sebagai variabel bebas (independen). Sebagai akibatnya, sejumlah metode digunakan untuk mengidentifikasi dan mengoperasionalisasikan budaya membutuhkan penelitian empriis.

Berdasarkan tinjauan kepustakaan penelitian lintas budaya selama dua puluh tahun, Sojka dan Tansuhaj (1995: 4) menyatakan bahwa para peneliti menggunakan tiga metode untuk mengoperasionalisasikan budaya: melalui bahasa, melalui barang material atau artefak, dan melalui sistem keyakinan/nilai. Bahasa memberikan ”suatu kode atau skema penafsiran (interpretasi) untuk mengarahkan dan menyatakan dunia”, tetapi bukan sebagai indikator yang tepat untuk etnis dan tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menjelaskan perilaku antar sub budaya dan budaya yang berbeda. Beberapa artefak budaya (misalnya: barang yang tahan lama, mainan, dan pakaian) diteliti menurut konteks lintas budaya. Pada akhirnya, sistem nilai/keyakinan (misalnya: Fatalisme, materialisme, dan hubungan dengan orang lain) sebagai definisi operasional budaya merupakan instrumen untuk memahami perilaku konsumen antar-budaya (lintas budaya).

Lenartowicz dan Roth (1999) menggunakan istilah ”penilaian budaya” untuk mengidentidikasi pengelompokan budaya yang valid dan mengusulkan tipologi berikut: Uraian Etnologi; Penggunaan perwakilan – Persekutuan Regional; Keputusan Manfaat Langsung (DVI) dan Keputusan Manfaat Tidak Langsung (IVI). Tipologi ini memberikan perspektif lebih luas mengenai pendekatan untuk penggunaan budaya dalam kepustakaan.

3.1 Uraian Etnologi

Uraian etnologis membahas mengenai ”metode kualitatif, khususnya aspek sosiologis, psikologis dan antropologi yang digunakan sebagai dasar untuk penjajakan/identifikasi atau perbandingan budaya” (Lenartowitcz dan Roth, 1999: 783). Metode ini memuat penilaian budaya secara deskriptif.

Penelitian pemasaran internasional menggunakan klasifikasi Hall seperti budaya konteks-tinggi dan budaya konteks-rendah (Wills dan rekan, 1991; Samli, 1995; Mattila, 1999; van Everdingen dan Waarts, 2003). Perbedaan ini didasarkan pada cara pesan disampaikan melalui setiap budaya: secara eksplisit atau menurut konteks. Meskipun bermanfaat, klasifikasi ini memiliki keterbatasan, disini semata-mata hanya membolehkan klasifikasi budaya sepanjang satu dimensi. Selanjutnya, pendekatan Gannon (2001: XV) untuk meneliti budaya menggunakan metafora sebagai metode untuk memahami dan membandingkan konsep budaya mengenai negara. Metafora budaya didefinsikan sebagai ”suatu kegiatan, fenomena, atau lembaga dimana anggota menempatkan budaya secara emosional atau melibatkan penjajakan secara kognitif”. Pendekatan ini memuat uraian subjektif yang berkaitan dengan himbauan secara intuitif. Metode deskripsi etnologis mengarahkan penelitian emic budaya, yang bertujuan untuk meneliti budaya tunggal secara intensif dalam menjelaskan dan memahami fenomena yang sebenarnya dan fenomena tertentu. Disini jarang digunakan dalam bisnis internasional (Lenartowitcz dan Roth, 1999).

3.2 Penggunaan Variabel Wakil (Proxy) – Persekutuan Regional

Pendekatan ini terdiri dari definisi budaya berdasarkan karakteristik yang menggambarkan atau menyerupai budaya (misalnya nasionalitas atau tempat kelahiran) dan sudah umum dalam aplikasi bisnis (Hoover dan rekan, 1978; Dawar dan Parker, 1994; Steenkamp dan rekan, 1999; Lenartowitcz dan Roth, 2001). Hofstede (1984) dan Steenkamp (2001) mendukung metode ini. Steenkamp (2001) mengatakan bahwa terdapat dukungan empiris terhadap perbedaan negara dan perbedaan antar-negara yang membentuk nasionalitas diakui sebagai variabel yang mewakili budaya. Selanjutnya, negara merupakan sumber yang memuat sejumlah pemrograman mental umum untuk warga negara mereka” (Hofstede, 1991: 12), bila negara dengan riwayat yang panjang memiliki pengaruh yang kuat terhadap integrasi selanjutnya. Pada kenyataannya, budaya, negara, bangsa dan masyarakat sering digunakan secara saling bertukaran (Sekaran, 1983; Nasif dan rekan, 1991). Selanjutnya, berdasarkan hubungan yang tidak sempurna antara batasan politik dengan budaya, begitu juga di negara yang memiliki budaya sama atau homogen (Sheth dan Sethi, 1977), para sarjana seringkali melibatkan kelompok etnis rangkap dalam meneliti setiap negara.
Pendekatan Proxy digunakan pada tahap budaya yang berbeda. ”Budaya ditetapkan pada tahap analisis yang berbeda, berkisar dari tahap kelompok hingga tahap organisasi atau tahap nasional” (Erez dan Earley, 1993: 23) atau pada kelompok negara seperti Uni Eropa (Steenkamp, 2001). Contoh, penelitian Mattila (1999) mengenai pengaruh budaya pada motivasi pembelian melalui pemenuhan jasa memperlihatkan perbedaan antara budaya Asia dengan Budaya Barat. Pada waktu yang sama, Dawar dan Parker (1994) mengajukan ”wilayah bisnis etno-geografis sebagai suatu alternatif operasional untuk budaya, dan menetapkan empat kelompok budaya: Amerika Utara; Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC); negara Eropa Non-EEC, dan negara lainnya. Pada kutub yang berlawanan, sub budaya juga diteliti (Lenartowitcz dan Roth, 2001).

Variabel wakil (proxy) lain juga digunakan, seperti tahap keterlibatan budaya pada sektor retail (Dawar cdan Parker, 1994). Samli (1995) mengatakan bahwa perilaku konsumen dapat diprediksi dengan menggunakan sistem skor pada variabel budaya yang relevant yang membutuhkan identifikasi pola perilaku konsumen internasional tertentu Dia mengajukan seperangkat variabel berikut: struktur kelas, bahasa, konteks (rendah/tinggi), hubungan antar personal, jenjang kebutuhan, peran seks, peran anak, teritorialitas, temporalitas, pembelajaran, etika kerta, kebutuhan untuk privacy (kebebasan), pemanfaatan sumber daya, penggunaan sumber daya, peran keluarga dalam pengambilan keputusan, ukruan keluarga, keagamaan, orientasi tradisi, dan pencapaian teknologi.
Selanjutnya, pendekatan ini merupakan metode klasifikasi dimana variabelnya kurang memadai untuk menguji hubungan yang dihipotesis mengenai pengaruh budaya pada vaiabel terikat (dependent variable).

3.3 Perolehan Manfaat Langsung (DVI)

Pendekatan ini terdiri dari pengukuran nilai-nilai subjek dalam sampel, dan perolehan karakteristik budaya berdasarkan pada penggabungan beberapa nilai (Lenartowitcz dan Roth, 1999). Penelitian Hofstede (1984, 1991, 2001) menggunakan metode tersebut. Berdasarkan analisis statistik untuk sampel nilai-nilai kerja dari banyak-negara, Hofstede mengatakan bahwa budaya dapat dibandingkan pada lima dimensi (variabel), yang melibatkan penelitian semua negara (Hofstede, 1991, 2001): individualistis/kelompok; penghindaran ketidakpastian; jenjang kekuasaanl; Maskulinitas-Feminitas dan orientasi jangka panjang.

Struktur nilai-nilai universal dari Schwartz menyesuaikan pendekatan ini (Schwartz, 1992, 1994; Schwartz dan Bilsky, 1987, 1990; Schwartz dan Sagiv, 1995). Dia mengidentifikasi nilai-nilai psikologis universal dan mengajukan sebuah teori untuk materi dan struktur nilai universal. Konsep Schwartz memberikan potensi besar dalam pemasaran internasional (Steenkamp, 2001).

Pada akhirnya, beberapa penelitian mereplikasi penelitian nilai-nilai kerja dari Hofstede menggunakan skala yang berbeda (Dorfman dan Howell, 1988; Fernandez dan rekan, 1997; Donthu dan Yoo, 1998; Furrer dan rekan, 2000; Liu dan rekan, 2001) atau modul angket nilai-nya (VSM; Hoppe, 1990; Heuer dan rekan, 1999; Merritt, 2000; Schramm-Nielsen, 2000; Pheng dan Yuquan, 2002). Dari beberapa penelitian, penelitian Hoppe (1990) digunakan sebagai perbaikan skor Hofstede (Steenkamp dan rekan, 1999).

3.4 Perolehan Manfaat Tidak Langsung atau ukuran pembanding (IVI)

Pendekatan ini menggunakan data sekunder untuk mempertimbangkan karakteristik pengelompokan budaya tanpa mengukur anggota kelompok secara langsung. Contoh metode ini adalah penggunaan skor budaya nasional Hofstede (Hofstede, 1984). Lenartowitcz dan Roth (1999: 786) mengajukan penggunaan metode benchmark: ”Pemusatan metode ini adalah pada kesalahan pengukuran potensial yang terjadi melalui perkiraan (ekstrapolasi) nilai-nilai budaya dari kelompok yang dinilai oleh penelitian pembanding pada sampel yang disurvey”. Metode ini mengambil hukum untuk perumusan hipotesis dan penyediaan variabel budaya untuk penelitian lintas-budaya dengan pendekatan tidak langsung.

Empat metode ini memiliki kelemahan yang tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya Lenartowitcz dan Roth (1999: 787) mengatakan bahwa ”tidak terdapat metodologi tunggal yang dapat mengatasi seperangkat kriteria penilaian budaya yang relevant dalam penelitian bisnis.”

4.Penggunaan Variabel Budaya

Menurut beberapa peneliti, manfaat konsep budaya untuk menjelaskan perbedaan budaya tergantung pada kemampuan untuk mengungkapkannya dan mengidentifikasi komponennya seperti ”Budaya tentunya sebagai konsep global yang menjaid variabel penjelas yang bermanfaat” (van de Vijver dan Leung, 1997: 3; Leung, 1989; Schwartz, 1994; Bagozzi, 1994; Samieee dan Jeong, 1994). Menggunakan sejumlah variabel terbatas untuk membandingkan budaya yang memiliki sumber antropologis. Para sarjana bidang ini sebelumnya mengatakan bahwa hasil-hasil diversitas budaya dari jawaban yang berbeda pada masyarakat yang berbeda dengan prtanyaan universal yang sama: ”Eksistensi dua jenis kelamin; ketidakberdayaan bayi; perlunya pemenuhan kebutuhan biologis pokok seperti makanan, keakraban dan seks, kehadiran seseorang dengan usia yang berbeda dan kemampuan fisik serta kemampuan lain yang berbeda” (Kluckkhohn dalam Hofstede, 1984: 36). Parsons dan Shills (1951) menggambarkan variabel pola budaya atau dilema budaya yang menetapkan dan mengkategorikan budaya: afektivitas versus netralitas afektif (perasaan emosi); orientasi diri versus orientasi kolektif; universalisme versus particularisme; pengakuan versus pencapaian dan kekuatan versus kelemahan. Beberapa kontribusi mempengaruhi personalitas modal, memfokuskan pada ”penilaian kondisi pola kehidupan pada masyarajat tertentu untuk menghasilkan pola kepribadian unik pada anggotanya?” (Inkeles dan Levinson, 1969: 118). Inkeles dan Levinson (1969) mengajukan istilah karakter sosial, struktur kepribadian dasar, dan karakter bangsa.

Penjajakan variabel yang reliabel untuk menggabungkan aspek-aspek perbedaan budaya yang penting dapat memberikan kontribusi penting untuk penelitian lintas budaya atau antar-budaya. Mereka memberikan suatu pilihan untuk konseptual dan pengukuran budaya secara kompleks, sebagai struktur multi-dimensi dibandingkan sebagai variabel kategori sederhana.

Selanjutnya, variabel emic mungkin dibutuhkan untuk mengkarakteristikan aspek-aspek budaya unik tertentu. Bagaimanapun, melalui pemusatan terbatas, disini menuntut peneliti untuk memperlihatkan bahwa perbedaan budaya emic yang nyata tidak dapat dinyatakan secara memadai sepanjang variabel universal (Schwartz, 1994: 88).

5.Variabel Budaya Hofstede

Beberapa sarjana membahas pilihan variabel yang sesuai untuk konseptualisasi dan operasionalsiasi budaya (Bond, 1987; Clark, 1990; Dorfman dan Howell, 1988; Hofstede, 1984, 1991; Inkeles dan Levinson, 1969; Keillor dan Hult, 1999; Schwartz, 1994; Smith dan rekan, 1996; Steenkamp, 2001). Bagaimanapun, konsep Hofstede telah digunakan secara luas dalam konsep budaya nasional dalam penelitian bidang psikologi, sosiologi, pemasaran, atau manajemen (Sondergaard, 1994; Steenkamp, 2001). Hofstede menggunakan 116.000 angket dari lebih 60.000 responden di tujuh puluh negara dalam penelitian empirisnya (Hofstede 1984, 1991, 2001). Dia menetapkan lima dimensi sebagai indeks untuk semua negara, dan menghubungkan variabel aspek demografi, geografi, ekonomi, dan aspek-aspek politik dari suatu masyarakat (Kale dan Barnes, 1992), yaitu karakteristik yang tidak dapat disesuaikan oleh konsep lain. Selanjutnya, konsep ini bermanfaat dalam perumusan hipotesis untuk penelitian lintas-budaya komparatif. Sebagai akibatnya, operasionalisasi budaya Hofstede (1984) merupakan norma yang digunakan dalam penelitian pemasaran internasional (Dawar dan Silvakumar dan Nakata, 2001; Sondergaard, 1994). Tabel 1 membandingkan variabel Hofstede dengan penekatan lain untuk pengungkapan konsep budaya. Disini menunjukkan tingkat konvergensi yang tinggi diantara pendekatan/metode, mendukung relevansi teoritis dari konsep Hofstede, dan menyesuaikan penggunaan variabel selanjutnya.

5.1 Individualisme – Collestivism

Individualisme-collectivism menggambarkan hubungan individu pada setiap budaya. Pada masyarakat inividualistis, individu merasa memiliki setelah diri mereka dan keluarganya, sedangkan menurut budaya collectivistic, individu memiliki kelompok setelah merek melakukan pertukaran loyalitas.

5.2 Penghindaran Ketidakpastian

Penghindaran ketidakpastian berhubungan dengan ”tahap dimana seseorang merasa terancam dengan ketidakpastian dan perangkapan makna (ambiguitas) dan mencoba untuk menghindari beberapa situasi” (Hofstede, 1991 : 113). Variabel ini digunakan sesuai dengan kebutuhan untuk penentuan peraturan yang sesuai dengan perilaku yang ditetapkan.

5.3 Jenjang Kekuasaan

Variabel ini menggambarkan konsekuensi dari ketidakseimbangan kekuasaan dan hubungan otoritas (wewenang) dalam suatu masyarakat. Variabel ini mempengaruhi jenjang dan ketergantungan hubungan menurut konteks keluarga dan konteks organisasi.

5.4 Maskulinitas – Feminitas
Nilai-nilai dominan di negara maskulinitas merupakan pencapaian (prestasi) dan keberhasilan, dan di negara-negara feminitas merupakan perhatian terhadap orang lain dan kualitas kehidupan.

5.5 Orientasi Jangka Panjang

Orientasi jangka panjang ”hadir untuk memperjuangkan kebaikan yang diarahkan pada dukungan masa mendatang, khususnya melalui perlindungan dan penghematan tertentu” (Hofstede, 2001 : 359). Tambahan untuk empat dimensi sebelum (Bond, 1987), variabel ini mewakili tahap nilai-nilai Confucianisme dan Dinamisme Confucian. Selanjutnya Hofstede (1991) mengajukan tujuan jangka pendek-tujuan jangka panjang sesuai dengan variabel ini.

Penelitian Hofstede secara simultan memperoleh pujian secara antusias selain juga kritikan pedas. Hal terpenting disini adalah, disini dapat memberikan ”langkah awal untuk pondasi yang dapat mendukung pembentukan teori ilmiah dalam penelitian lintas-budaya” (Sekaran, 1983: 69). Tinjauan mengenai Indeks Kutipan Ilmiah Sosial (SSCI) yang menghasilkan 1036 kutipan melalui rangkaian budaya pada jurnal periode 1970 hingga September 1993 (Sondergaard, 1994).

Di sisi lain, penelitian Hofstede memiliki beberapa kelemahan. Pertama, penelitian empiris yang bertujuan untuk mengungkap empat variabel awal. selanjutnya, meskipun terdapat perubahan budaya, perubahan tersebut diyakini sebagai perubahan yang sangat lambat (Silvakumar dan Nakata, 2010) dan perbedaan budaya relatif yang terjadi terus menerus. Hofstede mengatakan bahwa perubahan budaya cukup untuk membatalkan skor indeks negara yang tidak diakui untuk periode jangka panjang, mungkin hingga 2100 (Hofstede, 2001):

Sistem nilai budaya nasional cukup stabil sepanjang waktu; Unsur budaya nasional dapat berlangsung dalam jangka panjang, dan dilakukan dari generasi ke generasi. Contoh, negara-negara yang menjadi bagian dari Kaisar Roma masih dapat melakukan pertukaran beberapa unsur nilai umum, berbeda dengan negara tanpa warisan budaya Roma (Hofstede dan Usunier, 1999: 120).

Para sarjana juga mengkritik proses identifikasi variabel secara empiris – dibandingkan dengan variabel yang berasal dari teori (Albers-Miller dan Gelb, 1996), sebagai kesempatan sumber daya (Erez dan Earley, 1993), sebagai pengabungan item atau pernyataan subjektif (Fernandez dan rekan, 1997; Dorfman dan Howell, 1988), sebagai aspek yang dangkal (Schwart, 1994), dan didasarkan pada perusahaan atau korporasi (Schwartz 1994; Erez dan Earley, 1993; Lenartowitcz dan Roth, 2001). Pada akhirnya, kritis yang diarahkan pada penerapan untuk semua budaya, mengatakan bahwa : ”seseorang dapat mendukung jenis sampel yang mungkin dihasilkan dari dimensi berbeda atau negara berbeda” (Schwartz, 1994: 90; Erez dan Earlet, 1993). Namun demikian, Hofstede mengatakan bahwa penyesuaian sampel dilakukan karena kesulitan dalam memperoleh sampel nasional yang mewakili dan perbedaan apa saja yang diukur antara budaya nasional dengan ”seperangkat sampel populasi negara yang sama dapat menyediakan informasi mengenai perbedaan tersebut” (Hofstede, 2001: 73).

6.Penggunaan Variabel Budaya Hofstede dalam Penelitian Pemasaran

Meskipun Hofstede menggunakan konteks yang berkaitan dengan tugas dan pada awalnya konsepnya digunakan untuk manajemen sumber daya manusia, konsep ini digunakan secara luas dalam penelitian bisnis dan pemasaran (Milner dan rekan, 1993; Sondergaard, 1994; Engel dan rekan, 1995; Dawar dan rekan, 1996; Silvakumar dan Nakata, 2001; Shamkarmahesh dan rekan, 2003).

Beberapa variabel digunakan untuk membandingkan budaya, untuk mendukung hipotesis, dan sebagai landasan teori untuk membandingkan budaya, jika dalam beberapa hal, skor yang sebenarnya (aktual) tidak digunakan dan variabel diukur dengan angket baru atau instrumen yang ditetapkan (Lu dan rekan, 1999). Penelitian ini mendukung relevansi beberapa variabel budaya untuk pemasaran internasional dan perilaku konsumen (lihat Tabel 2 untuk penelitian mengenai pengaruh budaya pada perilaku konsumen). Khususnya, inovasi pengaruh Collectivisme (Lynn dan Gelb, 1996; Steenkamp dan rekan, 1999; Yaveroglu dan Donthu, 2002; Yeniyurt dan Townsend, 2003; van Everdingen dan Waarts, 2003), kinerja jasa (Birgelen dan rekan, 2002), dan himbauan periklanan (Albers-Miller dan Gelb, 1996). Penghindaran ketidakpastian mempengaruhi perilaku pertukaran informasi (Dawar dan rekan, 1996), inovasi (Lynn dan Gelb, 1996; Steenkamp dan rekan, 1999; Yeniyurt dan Townsend, 2003), dan himbauan periklanan (Albers-Miller dan Gelb, 1996), perilaku pertukaran informasi (Dawar dan rekan, 1996), inovasi (Yaroglu dan Donthu 2002; Yeniyurt dan Townsend, 2003; van Everdingen dan Waarts, 2003), dan kinerja jasa (Biergelen dan rekan, 2002). Maskulinitas mempengaruhi peran seks (Milner dan Collins, 1998), inovasi (van Everdingen dan Waarts, 2003), dan kinerja jasa (Birgelen dan rekan, 2002). Pada akhirnya, orientasi jangka panjang mempengaruhi inovasi (van Everdingen dan Waarts, 2003).

7.Operasionalisasi Budaya menggunakan Variabel Hofstede

Metode rangkap akan digunakan untuk menilai budaya seperti metode tunggal ”tidak memadai untuk memenuhi semua persyaratan metodologis dan persyaratan konseptual untuk identifikasi kelompok budaya yang valid” (Lenartowitcz dan Roth, 1999: 788). Maka, penelitian eksploratoris lintas budaya dan perilaku pengambilan resiko menggunakan pendekatan tiga-metode untuk mengukur budaya (Soares, 2005): afiliasi atau hubungan regional, perolehan manfaat tidak langsung, dan perolehan manfaat langsung. Berdasarkan keunikan (perbedaan) dalam menggunakan pengukuran budaya multi-variabel, artikel ini membahas penelitian secara lebih rinci.

Pendekatan hubungan regional terbentuk melalui penggunaan variabel yang mewakili (proxy). Soares (2005) menggunakan kebangsaan (nasionalitas) untuk menggambarkan budaya. Meskipun dianjurkan menggunakan metode ini, terdapat dukungan empiris untuk perbedaan antar-negara (Hofstede, 1984; Steenkamp, 2001). Negara dapat digunakan sebagai variabel yang mewakili budaya bila anggota atau penduduk suatu negara cenderung melakukan pertukaran bahasa yang sama, sejarah, agama, pemahaman mengenai sistem lembaga, dan suasana identitas yang sama (Dawar dan Parker, 1994; Hofstede 1984), menggunakan pendekatan umum untuk operasionalisasi budaya (Hoover dan ekanrekan, 1978; Dawar dan Parker, 1994; Steenkamp dan rekan, 1999; Yeniyurt dan Townsend, 2003).
Kedua, Soares (2005) menggunakan benchmark (patokan), metode manfaat tidak langsung, yang terdiri dari karakteristik pengakuan terhadap budaya berdasarkan penelitian lain. Dia menggunakan skor Hofstede (1984) untuk mengklasifikasikan Portugis dan Inggris sebagai dua negara dengan skor yang berbeda. Portugas menganut budaya collectivistic, feminist, orientasi jangka panjang, penghindaran ketidakpastian yang tinggi, dan jenjang kekuasaan yang tinggi, sedangkan Inggris memiliki profil yang berbeda. Contoh, Inggris memiliki skor individualisme tertinggi di Eropa, sedangkan Portugis memiliki skor individualisme terendah di Eropa. Keduanya memperlihatkan penghindaran ketidakpastian yang berbeda (masing-masing ke-47/ke-48 dan ke-2 dari 53 negara). Dengan menggunakan negara yang memiliki persamaan beberapa aspek teoritis, terpisah dari berbagai kemungkinan lain yang dianjurkan untuk memperbaiki reliabilitas dan meningkatkan kemampuan generalisasi (Alden dan rekan, 1993; Silvakumar dan Nakata, 2001).

Ketiga, Soeares (2005) menggunakan metode perolehan manfaat langsung, berdasarkan pengukuran nilai-nilai subjek pada sampel untuk perolehan karakteristik budaya. Selanjutnya, meskipun klasifikasi budaya Hofstede memberikan pertimbangan awal untuk penilaian Nilai-nilai Budaya, sampel selanjutnya diklasifikasikan menurut variabel budaya sesuai dengan karaktetistik mereka.

Para peneliti menggunakan metode yang berbeda untuk mengukur nilai-nilai budaya, menggunakan persepsi nilai-nilai kelompok individual (leung, 1989), atau menggunakan istilah Hofstede, ”tahap analisis ekologi”. Yaitu analisis yang berusaha mengungkap nilai-nilai Hofstede melalui hubungan diantara item pada masing-masing skala dan melalui analisis faktor untuk menetapkan variabel dengan menggunakan skor rata-rata dari responden dan digabungkan pada tahap nasional. Selanjutnya, para sarjana mempermasalahkan tujuan dan manfaat variabel yang diperoleh berdasarkan tahap analisis ekologi untuk penelitian tahap-mikro (Dorfman dan Howell, 1988; Yoo dan rekan, 2001). Nilai-nilai individual merupakan prediktor yang sesuai untuk perilaku seseorang ”jika nilai-nilai budaya kolektif tidak melibatkan pertukaran oleh anggota dari kelompok budaya” (Lenartowitcz dan Roth, 2001: 150). Dake (1991: 77) menggunakan perspektif yang sama dan melakukan pengukuran budaya melalui ”orientasi individu terhadap apa yang kita anggap sebagai perspektif ethos budaya atau pertimbangan usia”

Budaya secara kolektif memiliki seperangkat kebiasaan dan tujuan, beberapa budaya diinternalisasi (diserap) olehs seseorang, menjadi bagian dari kepribadian dan mempengaruhi transaksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Maka, kecenderungan yang ada diamati pada tahap individu sebagai atribut-atribut kepribadian, dengan tingkat dimana mereka secara kolektif dipandang sebagai kecenderungan budaya (Dake, 1991 : 78).

Selanjutnya, penelitian akan meneliti nilai-nilai budaya apda tahap individu, menggunakan persepsi kelompok terpisah. Selanjutnya, metode, budaya ini dipandang sebagai atribut yang diukur pada tahap individu seperti yang dibuktikan dengan keyakinan seseorang yang kuat pada variabel budaya kunci. Selanjutnya, kecuali untuk operasionalisasi (penggunaan) variabel individualisme/collectivism dalam psikologi sosial (Triandis dan rekan, 1988; Triandis, 1995), memvalidasi instrumen untuk mengukur nilai-nilai budaya masih jarang dilakukan.

Skala nilai-nilai budaya dari Furrer dan rekan (2002) adalah pilihan pertama yang dipertimbangakn oleh Soares (2005). Mereka mengajukan 20 item skala Likert 7-poin (empat item untuk masing variabel) berdsarkan Hofstede (1991). Soares melakukan pre-test skala untuk reliabilitas di Portugasl dan hasilnya tidak reliabel (Tabel 3).

Selanjutnya, Soares meneliti cara-cara untuk memperbaiki skala melalui penambahan item (pertanyaan) untuk skala tersebut. Hofstede (1991) merangkum perbedaan kunci antara kutub yang berbeda dari setiap variabel budaya dalam bentuk norma-norma umum, keluarga, sekolah dan lingkungan kerja, politik dan ide-ide (kecuali untuk orientasi jangka panjang). Tujuh keputusan pemasaran dan pengetahuan sosial yang memiliki kesamaan dengan budaya Portugis dan Inggris menganalsis rangkuman item dan item-item yang diidentifikasi secara berbeda antara kedua negara. Selanjutnya, dia menggunakan item yang memiliki perbedaan semantik untuk memfokuskan pada kutub yang berbeda dengan setiap pernyataan, agar mereka dapat difahami lebih jelas oleh responden (Green dan rekan, 1988). 28 skala-item yang direvisi melibatkan pre-test pada mahasiswa Portugal untuk menilai kesesuaian internal (tabel 4).

Selanjutnya, Soares mengidentifikasi skala nilai-nilai budaya (CVSCAL) sebagai alternatif (Donthu dan Yoo, 1998; Yoo dan rekan, 2001). Angket 26-item ini mengukur lima variabel budaya, yang digunakan untuk situasi konsumen umum dan memiliki sifat psikometris yang memadai (Donthu dan Yoo, 1998; Lenartowuitcz dan Roth, 2001). Dalam penelitiannya, skala ini memiliki reliabilitas yang sesuai untuk collectivisme dan maskulinitas untuk sampel Protugal, dan memiliki reliabilitas yang sesuai untuk Sampel Inggris (kecuali untuk penghindaran ketidakpastian; Tabel 5). Maka instrumen atau angket ini digunakan untuk mengukur nilai-nilai budaya pada tahap individu dban selanjutnya menggunakan metode tiga tahap untuk operasionalisasi budaya oleh Soares (2005).

8.Kesimpulan

Budaya merupakan konsep penentuan definisi, konseptual, dan operasional yang samar, yang menghambat penelitian terhadap budaya dan pengaruh perilaku konsumen. Kami membahas beberapa metode konspetual dan menggunakan variabel multi dimensi ini dalam penelitian dan mengajukan metode multi-variabel untuk menilai budaya dengan menggunakan Hubungan Regional, Asumsi manfaat langsung, dan asumsi manfaat tidak langsung. Kami tidak berpendapat bahwa penggunaan beberapa variabel memberikan uraian yang lengkap mengenai perbedaan antar budaya. Selanjutnya, kami menduga bahwa konsep Hofstede memuat shortcut yang mudah, praktis dan bermanfaat untuk penyesuaian penelitian budaya. Melalui kebencian terhadap beberapa kecman atau kritik terhadap variabel (dimensi) ini, dengan alasan bahwa mereka mengukur perbedaan antar budaya dan memperoleh dukungan besar (Lynn dan Gelb, 1996). Maka, terdapat dukungan besar dalam kepustakaan untuk menggunakan konseptualisasi dan operasionalisasi budaya ini. Pengukuran beberapa variabel pada tahap individu akan memberikan kontribusi penting untuk penelitian lintas-budaya.

Sedangkan operasionalisasi budaya tetap sebagai tantangan, pendekatan multi-metode memberikan kontribusi terhadap pengukuran konsep yang sulit difahami (elusive). Implikasi penelitian ini untuk penelitian mendatang mengenai budaya mengacu pada Soares (2005) dan Donthu dan Yoo (1998) sebagai langkah awal yang menjanjikan. Reliabilitas antar negara (Portugal dan Inggris, Soares, 2005), mereka juga memberikan validitas nomologis yang dibuktikan melalui pengaruhnya pada tahap stimulasi optimal dan pengambilan resiko optimal. selanjutnya, penelitian mendatang harus meneliti reliabilitas dan validitas skala melalui penambahan negara dan konteks penelitian melebihi penelitian yang dilakukan oleh Donthu dan Yoo (1998) dan Soares (2005).

Sistem Bilangan Biner

Posted in Technology on November 17, 2009 by JonRS

Sistem bilangan biner atau sistem bilangan basis dua adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit, atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 Byte. Dalam istilah komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode-kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem peng-kode-an 1 Byte.

1. Pengenalan

Ketika kita melihat sistem biner maka yang kita temukan hanyalah sekumpulan digit yang hanya tersusun dari angka 0 dan 1 dan tampak acak sehingga sangat sulit bagi kita untuk bisa memahami apa sebenarnya yang direprsentasikan oleh digit-digit tersebut, seperti:

010010101010101001101011

Tetapi pada dasarnya sekumpulun 0 dan 1 ini bisa direpresentasikan dengan angka desimal dan pertama-tama tentu kita mencoba membaca desimal yang terwakili di dalam sekumpulan 0 dan 1 tersebut. Dan dari angka desimal kemudian bisa diterjemahkan ke dalam teks. Memang komputer sendiri tidak menggunakan sistem desimal ini ketika teks-teks di dalam komputer terkonversi menjadi sistem biner. Jadi cara baca kita ini bukan proses yang dilalui oleh komputer.

2. Sistem Biner

Pertama-tama dalam membaca biner kita layaknya sedang berhadapan dengan bahasa Arab atau Hebrew di mana kita harus membacanya dari kiri ke kanan. Dan sekumpulan angka 0 dan 1 itu biasanya (biasanya apa pasti begitu ya hehehe bukan orang komputer nih, tapi nampaknya kalau melihat 8 bit sih ya memang dibagi ke dalam per 8 digit?) dibagi ke dalam 8 digit maksimal dan setiap digit secara berurutan merepresentasikan nilai value kali 2 selamanya. Jadi nilai-nilai tersebut dimulai dari kanan adalah sebagai berikut:

– Digit pertama adalah bernilai 1
– Digit kedua adalah bernilai 2 yaitu 1 x 2
– Digit ketiga adalah bernilai 4 yaitu 2 x 2
– Digit keempat adalah bernilai 8 yaitu 4 x 2
– Digit kelima adalah bernilai 16 yaitu 8 x 2
– Digit keenam adalah bernilai 32 yaitu 16 x 2
– Digit ketujuh adalah bernilai 64 yaitu 32 x 2, dan
– Digit kedelapan adalah bernilai 128 yaitu 64 x 2 (dan seterusnya dengan kelipatan kali 2 dari digit sebelumnya)

Kemudian, angka 0 dan dan 1 merupakan perwakilan dari salah dan benar (False or True) atau dengan kata lain adalah (yes or no) sehingga ketika digit pertama dipresentasikan dengan angka 1 maka nilai 1 adalah benar dan begitu seterusnya. Dalam contoh akan menjadi lebih jelas sebagai berikut:

10101 adalah sekumpulan sistem biner yang terdiri dari 5 digit di mana digit pertama adalah benar, digit kedua adalah salah, digit ketiga adalah benar, digit keempat adalah salah, dan digit kelima adalah benar. Maka terjemahan sekumpulan biner ini dalam desimal adalah 21. Atau dengan kata lain, ketika anda menginginkan desimal bernilai satu maka dalam biner anda menuliskannya dengan 0 1 dan kalau anda menginginkan nilai 2 maka dalam biner dituliskan dengan 1 0. Misalkan anda ingin merepresantasikan 8 dalam bentuk biner maka anda menuliskan 0 untuk digit pertama karena anda tidak meninginkan nilai 1, menuliskan 0 untuk digit kedua karena begitu juga, dan seperti itu juga pada digit ketiga karena anda tidak menginginkan nilai 4, tapi anda menuliskan 1 pada digit keempat karena digit empat bernilai 8 sehingga akan menjadi 1 0 0 0.

Hal yang terpenting juga, semua digit 0 dari kiri ke kanan tidak terlalu penting karena 1000 akan bernilai sama dengan 0001000. Akan lebih jelas dalam bentuk sebagai berikut:

Pertanyaan, sekumpulan biner ini merepresentasikan apa dalam desimal?
a) 100
b) 000100
c) 100000
d) 0010

Jawabannya:
a) 4
b) 4
c) 32
d) 2

Apabila kita sudah mengerti jawaban di atas maka pada dasarnya kita sudah mengerti sistem dasar biner. Kemudian apabila kita paham dengan nilai yang selalu kelipatan 2 ini maka bagaimana kita merepresentasikan nilai desimal yang ganjil di mana tidak bisa dikali 2. Untuk mendapatkan nilai tersebut maka dalam biner kita tambahkan dengan nilai yang diwakili oleh digit itu sendiri. Misalnya kita menginginkan nilai 3 maka dalam biner dipresentasikan dengan benar pada digit pertama dan benar pada digit kedua maka tertulis dalam biner dengan 1 1, maka nilai 1 pada digit pertama ditambahkan dengan nilai 2 pada digit kedua = 3. Ini adalah total nilai dalam sekumpulan biner dan begitulah cara merepresantasikanya dalam biner

Dalam contoh lain, kita ingin merepresentasikan nilai 5 dalam binary maka kita membutuhkan untuk menambahkan nilai digit pertama dengan digit ketiga. Nilai 5 tertulis dalam biner dengan 101 dan kita membacanya sebagai berikut:</p

– 101 kita baca dari kanan adalah 1 (satu) + 0 (dua) + 1 (empat) = 5. Dalam contoh lain:
– 001011 kita baca dari kanan adalah 1 (satu) + 1 (dua) + 0 (empat) + 1 (delapan) + 0 (enambelas) + 0 (tiga puluh dua) = 11. Jadi yang kita jumblah adalah nilai dalam kurung apabila bernilai 1 pada binernya.

Pertanyaan, berapa nilai desimal dari rangkaian biner berikut:
a) 11011
b) 110
c) 010101
d) 10110

Jawabannya:
a) 27
b) 6
c) 21
d) 22

Apabila kita sudah mengerti ini maka pada dasarnya kita sudan mengerti sistem biner. Memahaminya memang susah, tetapi menjadi mudah dengan begini kan? Sekarang bagaimana makna biner tersebut dalam teks.

3. Membaca biner ke dalam teks (ASCII)

ASCII pada dasarnya adalah hurup-hurup, angka-angka, dan simbol-simbol (hurup simbol) yang tampak dalam komputer kita yang sudah terwakilkan dalam bentuk font sehingga sudah kita baca dalam bahasa manusia. Hal itu bisa kita pahami bahwa setiap kali kita mengetikkan suatu hurup dari keyboard maka itu kemudian dikonversi dalam code yang sesuai dan tepat, apa saja tut yang kita tekan baik berupa angka atau hurup.

Sebagai contoh, dalam sebuah binary yang panjang kita tuliskan sebagai berikut:
0100100001100101011011000110110001101111

Dari sekian banyak sekumpulan kode biner ini terwakili beberapa hurup dan angka untuk code ASCII. Dan dengan delapan digit saja sudah lebih dari cukup untuk mempresentasikan sekian hurup dan angka dan sebagaimana pada dasarnya kode-kode biner dipisahkan dalam 8 digit di mana itu merupakan presentasi 8 bits setiap hurup. Maka code di atas kita baca seperti ini:
01001000-01100101-01101100-01101100-01101111

Setelah itu kita mencoba membaca nilai desimal dari setiap 8 digit ini dengan mengkalkulasikan setiap nilai dari digit yang mewakilinya, sebagai berikut:

01001000 = 72
01100101 = 101
01101100 = 108
01101100 = 108
01101111 = 111

Kalau dalam membaca nilai setiap digit yang diwakili code biner tersebut dari sebelah kanan, maka membaca nilai ASCII tetap dilakukan dari kiri sehingga code biner dalam contoh di atas adalah 72, 101, 108, 108, 111. Sekarang hurup apa saja yang diwakili oleh angka-angka ini dalam code ASCII, baik hurup, angka atau hurup simbol? Tentu kita harus melihat table code ASCII. Akan tetapi dengan komputer bisa dilakukan dengan mudah, yaitu dengan menekan tombol ALT + [Angka tersebut]. Dari contoh di atas, satu persatu kita tekan ALT + 72 dan seterusnya maka hasil yang kita dapatkan adalah:

72 = H
101 = e
108 = l
108 = l
111 = o

Maka code biner dalam contoh kita tersebut bisa dibaca dengan bahasa manusia yang ternyata adalah Hello.

taken from : http://cuma-info.blogspot.com/2008/0…ca-binary.html

————————————————————————————————————-

kalo ini cara mengkonversi angka desimal ke biner
Spoiler for cekidot:

Oke langsung saja misal saya akan mengkonversi bilangan desimal/ basis 10 ke dalam bentuk biner:

63 => cara menghitung

bilangan 63 haris dibagi 2, karena biner itu berbasis 2.

63 / 2 = 31 => sisa ========> 1
31/2 = 15 => sisa =========> 1
15/2 =7 => sisa ==========> 1
7/2 = 3 => sisa ==========> 1
3/2 = 1=> sisa ==========> 1

jadi hasilnya adalah 111111 cara membacanya dari bawah ke atas (hanya bagian yang saya tebalkan saja).
untuk membuktikan benar tidaknya perhitungan diatas, jadi sekalian saya sertakan bagaimana konversi dari biner ke desimal.

baik saya akan mengkonversi hasil biner tadi yaitu 111111, maka akan saya jabarkan menjadi seperti dibawah ini (dibaca dari kanan ke kiri/ angka 1 ujung kanan menjadi angka satu paling atas, sedangkan angka satu yang tadinya di paling kiri menjadi paling bawah ) kemudian masing-masing di pangkat kan berurutan dari 0 hingga jumlah karakter biner tersebut. untuk lebih detailnya silahkan pahami langkah dibawah ini:

1 x 2^0 = 1
1 x 2^1 = 2
1 x 2^2 = 4
1 x 2^3 = 8
1 x 2^4 = 16
1 x 2^5 = 32
————– +
63

kemudian totalkan semua hasil dari exponen tersebut dan ternyata ketemu 63🙂
sumber : http://pqcms.blogspot.com/2009/04/ca…esimal-ke.html

Sebenernya ada cara gampangnya sih gan buat baca biner.. tinggal copas aja
silahkan ke : http://www.roubaixinteractive.com/Pl…ry_To_Text.asp
Thanks to Kaskus

Inggris – Malibu

Posted in Kuliah on November 16, 2009 by JonRS

INGGRIS

Selama beberapa dekade, industri perfilm Inggris, telah memperkaya bakat-bakat seperti aktor Alec Guiness, Peter O’Toole, John Geigud, Ralph Richardson, Alastair Sim, George Cole dan Charles Laughton, yang telah menempatkan Pria Inggris di Layar dunia. BBC, dengan programnya yang mengagumkan seperti Upstairs, Downstair and Yes. Menteri mendukung kesan tersebut.

Pria Inggris mengenakan jaket wool atau stelan jas tiga lapas dan jas hujan Burberry pada saat hujan. Dia mengenakan topi bowler, mengenakan payung hitam dengan tongkat dan memiliki surat kabar pink yang dilipat pada ketiak kirinya. Dia pergi ke gereja pada hari Minggu pagi dan memakan daging sapi dengan puding Yorkshire pada saat makan siang di Hari Minggu. Dia adalah seorang Pangeran Pria, yang menuntut permainan wajar terhadap orang yang tertindas, apakah disini sebagai cara perlakuan yang sesuai dan memperlihatkan kasih sayang terhadap kuda, kucing dan anjing dibandingkan terhadap anak, rubah dan belibis. Dia mungkin pergi ke Eton dan Oxford (Cambridge) dan seringkali ke Ascot, Wimbledon, Twickenham, Lords dan Wentworth. Dia meyakini Partai Monarki, Kaisar dan Partai Konservatif. Pada saat tidak berada dalam Klub-nya, dia duduk di pub lokal dengan para pekebun dan pengawas permainan, dengan aroma bir hangat yang disebut real ale. Seringkali dia minum teh dengan pendeta, dia membahas tentang Gereja Inggris, pertanian, pesta atau jamuan di desa, dan kehidupan dari tahun ke tahun dengan Pengawal.

Pria Inggris menyukai olahraga Cricket, croquet, rugby, sheepdog trual (percobaan pelatihan anjing gembala), kisah detektif dan antrian. Bila jalur lambat, anda jangan mengeluh, seperti orang Inggris yang tidak pernah menciptakan skenario ini, jika mereka memiliki nama rangkap. Penerapan yang sama dilakukan untuk pelayanan buruk suatu restaurant, stasiun kereta api dan lokasi dimana anda membutuhkan passport anda.

Penangkal untuk situasi frustrasi tersebut adalah bibir atas yang kaku (the stiff upper lip). Pada saat berdiri di suatu baris atau duduk di kereta api, seseorang tidak akan terlibat dalam percakapan dengan orang lain – alasannya adalah karena membaca surat kabar. Ketika kereta tergelincir di sebuah terowongan di the London Underground beberapa tahun silam, seorang pria tua berjalan setengah mil di bawah baris jalur stasiun selanjutnya, dimana dia mengatakan: ”Ini merupakan sesuatu yang mengerikan karena lokasinya gelap. Seseorang melakukan pembicaraan satu sama lain.

Stereotype mengenai karakter orang Inggris ini disketsa melalui pemikiran negara lain oleh beberapa generasi film Inggris. Populasi penduduk yang sangat padat meliputi Jepang, India, Asia Tenggara dan Afrika, masih disini masih tetap mengirimkan anak mereka ke Inggris untuk dididik sepanjang jalur yang sama.

Sebagian orang Inggris memikul gambaran sterotype ini. Bukan hanya kesan mengenai tokoh kelas atas era sebelumnya, tetapi disini melibatkan prediksi perbedaan regional, dimana di Inggris nampaknya lebih ekstrim. Jika anda menarik garis lintang melalui kota Oxford, disini disini menimbulkan keraguan jika anda mencari seseorang di belahan utara, yang melakukan hal tersebut melalui sterotype. Pada lokasi pertama, hampir 10 juta orang Britons adalah orang Celtic (Skotlandia, Wales, Irlandia, Cornish dan Manx). Beberapa orang biasanya bersikap romantis, puitis, dan emosional. Mereka, seperti halnya jutaan orang di bumi dan orang Northern English (Inggris Utara) jauh lebih liar dari Oxford, dan lebih kritis mengenai pola dasar pria inggris menurut pemikiran asing. Terdapat sebuah jenis orang Inggris yang berhubungan dengan kesan yang diproyeksikan, tetapi dia terdapat di wilayah Selatan, termasuk kelas atas dan sangat unik sama halnnya seperti di wilayah Selatan, kami membicarakan mengenai masalah kecil, meskipun disini seringkali sebagai pencegahan yang dapat dilihat atau dapat didengar oleh masyarakat.

Apa kesukaan oang Inggris? ”kesan dunia” memuat beberapa kesamaan realita, tetapi tidak semuanya. Sistem kelompok masih tetap berlaku di Inggris – kelemahan anakronisme yang terapat di Amerika Utara dan sebagian negara Eropa telah dihapuskan – tetapi pada kenyataannya sebagian orang Inggris termasuk kelas menengah. Mereka tidak memiliki partai politik yang kuat atau berpengaruh untuk mewakili mereka, meskipun baik partai Konservatif maupun Partai Buruh masih tetap memiliki keinginan besar. Ketidakhadiran partai Centrist Moderat sangat disayangkan untuk kelangsungan polarisasi masyarakat Inggris.

Polarisasi atau tidak, bagaimana orang Inggris berperilaku? Apakah status, pola yang dapat diamati. Ya, kita adalah bangsa yang mengekor, dan mungkin hanya waktu yang menyebabkan orang Inggris yang menyampaikan keluhan hiruk-pikuk bila seseorang terjebak dalam antrian. Tetapi sikap bibir atas yang kaku (the stiff upper lip) dapat diubah – orang Inggris sekarang memiliki sesuatu yang keramat. Raja sangat dihormati, keluarga Raja sering diejek, baik lewat pers (surat kabar) maupun lewat Televisi. Jika orang Inggris menertawakan diri mereka, maka apa yang dapat dilakukan Raja – apakah raja dapat bersikap lebih demokratis?

Humor adalah faktor pendukung kehidupan orang Inggris – beberapa orang mengatakan bahwa humor merupakan produk atau hasil yang berkaitan dengan perubahan iklim – dan beberapa oranbg Inggris memandang bahwa lagu juga memuat humor, disini tidak pernah memperlihatkan keputus-asaan. Disini bukan sebagai kecelakaan yang disiarkan BBC – sebagian humor ditayangkan di seluruh dunia – yang sudah memiliki popularitas tinggi di sebagian negara yang dapat menerimanya.

Benar bahwa orang Inggris mencintai cerita atau kisah Detektif. Agatha Christie adalah novelis dunia dan orang Inggris memimpin dunia dunia dalam hal pengadaan buku kepustakaan. Sherlock Holmes adalah satu dari pria Inggris yang sangat terkenal setiap saat. Pada kenyataannya, orang Inggris memiliki lapisan konspirasi yang kuat mereka mencintai persekongkolan atau kompromi. Pahlawan terbaik Inggris yang memiliki riwayat kelautan adalah Francis Drake dan John Hawkins – keduanya adalah perompak laut.

Selanjutnya, Orang Inggris memandang diri mereka sebagai orang yang jujur, rasional, penuh perhatian dan baik budi. Orisinalitas mereka seringkali terbentuk atau dibatasi pada eksentris, tetapi disini benar bahwa melalui sejarah mereka menjadi pemikir lateral dengan kemampuan karya atau ciptaan besarnya. Potret sebagai negara amatir yang kacau balau akibat kriris, mereka tetap memperlihatkan kemampuan mendalam mereka terhadap kesengsaraan yang sangat buruk.

Jangan meminta orang Inggris untuk merubah bis dengan deck rangkap atau kotak surat merah (red mailbox), atau untuk mengemudikannya dengan benar. Sama halnya bila mereka berbisnis di luar negeri, mereka menggunakan kepompong kepulauan mereka untuk kepentingan mereka.

Kebiasaan rutin, ide tetap, tidak tergesa-gesa terhadap perubahan, tidak profesional. Bagaimana beberapa karakteristik digunakan untuk pelaksanaan bisnis di Inggris? Bagaimana beberapa hal eksentik ditangani ? (Untuk ilustrasi mengenai pola komunikasi orang Inbggris dan kebiasaan mendengar atau menyimak, lihat Gambar 5.5. dan 5.13

Bagaimana Bersikap Empati dengan orang Inggris

Orang Inggris merasa berasa satu rumah dengan bangsa lain yang menggunakan bahasa Inggris, dimana mereka sedikit sulit dalam membentuk hubungan yang efektif. Mereka juga merasa nyaman atau senang dengan orang Nordic, Belanda dan orang Jepang. Mereka berfikir bahwa mereka menghancurkan masa keemasan antara formalitas yang berlebihan (kecenderungan oang Perancis dan Jerman), dan familiaritas prematur (sifat-sifat orang Amerika dan orang Australia).
Tentunya, orang Briton memiliki kelas yang berbeda, dan anda selalu memisatkan pemikiran anda. Bila disini melibatkan kekayaan atau kemakmuran, seperti yang terdapat pada kelompok Southern English, yang lebih menekankan pada peradaban (sipil), aspek pendidikan, dan bila memfokuskan pada kerjas keras mada terdapat Pada kelompok Northern English, Scots, atau Welsh, anda akan lebih memfokuskan pada ketulusan dan kejujuran, tidak melibatkan penanganan yang sulit.

Pada pertemuan bisnis, orang Inggris agak bersifat formal, menggunakan nama pertama hanya setelah dua atau tiga kali pertemuan. Setelah itu mereka semakin informal, dan nama pertama digunakan dan tetap dipertahankan. Orang Inggris lebih suka memperlihatkan diri mereka sebagai orang yang berorientasi keluarga, dan disini merupakan yang hal yang wajar atau umum bagi anda untuk membahas atau mendiskusikan tentang anak, liburan dan mengingat sesuatu selama dan antara pertemuan . Humor sangat penting dalam sesi bisnis di Inggris, dan humor dapat memberikan masukan untuk anda agar sampai pada situasi senda gurau dan anekdot. Orang menggunakan humor dengan baik akan menggunakan bakat mereka sepenuhnya.

Orang Inggris menduga anda dapat memadukan kisah satu dengan kisah lain dan memberikan iklim kondusif dalam pelaksanaan bisnis. Manajer atau eksekutif Inggris dapat menggunakan humor (khususnya ironi/sindiran halus atau sarkasme/sindiran kasar) sebagai senjata dalam mengejek pihak lawan atau memperlihatkan kekecewaan atau kemuakan. Bagaimanapun, sarkasme (sindiran kasar) jarang digunakan terhadap orang Nordic, karena kerendahan hati mereka dan dan upaya untuk melindungi Nordic. Orang Inggris menggunakan humor secara kasar terhadap orang Ameirka Latin dan orang yang bersikap lebih demonstratif.

Kita dapat mempelajari tentang orang Inggris melalui observasi sejauh mana mereka menggunakan humor untuk diri mereka atau untuk rekan atau kolega mereka. Berikut ini adalah penggunaan humor yang sudah umum.

• Kemerosotan diri.
• Untuk mengatasi hambatan atau tekanan dalam situasi dimana terjadi intrasigensi.
• Untuk mempercepat pembahasan (diskusi) biola formalitas berlebihan dan disini lambat ditangani.
• Untuk mengkritik langsung terhadap atasan tanpa menimbulkan pemecatan
• Untuk memperkenalkan sesuatu yang baru, ide yang liar yang terhadap kolega atau rekan yang tidak memiliki fantasi (the trial balloon”).
• Untuk memperkenalkan negosiasi yang kaku dan diluar dugaan.
• Untuk tertawa dalam situasi sulit atau menempatkan prioritas manajemen ”misteri” dan sebagai penempatan perspektif dalam perencanaan perusahaan yang serius.

Singkatnya, Humor diakui sebagai satu senjata yang sangat efektif atau sebagai senjata bagi manajer Inggris, dan beberapa orang dapat memperoleh keyakinan (konfidensial) dari orang Inggris dengan memperlihatkan bahwa mereka dapat menyesuaikan diri mereka di negara ini. (bagi orang Swiss, Austria, Turki atau Jerman sulit melakukan hal ini).

Manajer Inggris berupaya menonjolkan diri mereka selama rapat, dimana mereka diarahkan oleh situasi yang tidak rasional, situasi umum atau situasi yang terkesan kompromi. Anda mungkin mengatakan, bahwa orang Inggris selalu mengabaikan ketidaksepakatan, jarang membuat keputusan akhir pada pertemuan pertama. Mereka tidak menyukai sikap tergesa-gesa. Mereka akan mengatakan, ”Apakah kita dapat mencapai keputusan akhir pada pertemuan berikutnya?”

Orang Inggris jarang yang berselisih secara terbuka dengan proposal yang diajukan oleh pihak lain. Mereka menyetujuinya bila memungkinkan, tetapi disini harus memenuhi persetujuan mereka (”Hmmm, bahwa ini merupakan ide yang sangat menarik”.). Bangsa lain lebih terbuka dalam mengakui hal ini. Anda harus mengamati simbol-simbol ketidak setujuan yang tersembunyi, contoh:

• Baik, kami selanjutnya menyukainya.
• Menggunakan jawaban yang samar
• Mengabaikan masalah kecil, bukti dan perbedaan (”Mungkin sebagai trik atau siasat)
• Humor

Beberapa bangsa memahami tentang penggunaan masalah kecil dan humor dengan baik, tetapi disini dapat dihambat dengan sikap kaku orang Inggris. Mereka menggunakannya sebagai dalih atau alasan, menolak lawan, atau menunda suatu bisnis. Meminta mereka untuk membuat keputusan dan mereka lebih sering menjawabnya dengan ”Saya akan menceritakan sebuah kisah untuk anda”. Anda mendengarkan kisah ini dengan penuh minat, disini mungkin menjadi satu persyaratan yang baik. Bila disini sudah berakhir, maka anda mengatakan ”Baik, tetapi bagaimana keputusan yang dicapai?” Saya siap memberitahukan anda,” kata orang Briton. Anda akan melakukannya dengan baik dengan cara anda memahami relevansi kisah atau menceritakannya kembali kepada saya.

Dengan menggunakan pesona (karisma), menggunakan nama samaran, humor, dan bersikap tidak rasional, negosiator Inggris dapat tersenyum tetapi disini membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka selalu memiliki posisi berubah-ubah, dimana mereka bersikap menyembunyikan diri dalam waktu alma. Anda harus mencoba menemukan posisi ini dengan cara yang rasional, tersenyum, bersikap sederhana dan bersikap betahan. Pada akhir negosiasi anda mungkin menemukan kesamaan dengan rencana yang anda miliki pada sebagian situasi. Bidang tawar menawar mungkin sebagai hal penting bagi orang Inggris (ingat bahwa mereka memiliki pengalaman ratusan tahun dengan India, Timur Tengah dan Timur Jauh).

Perwakilan perusahaan Inggris biasanya menggunakan reputasi perusahaan mereka, ukuran dan kesejahteraan atau kekayaan perusahaan mereka dalam melakukan negosiasi, dan anda dapat melakukan dengan cara lain dalam bertransaksi dengan mereka.
Pada akhirnya, terdapat permasalahan mengenai kepulauan Inggris. Inggris biasanya memiliki pernyataan bahwa orang asing yang bertujuan untuk mengakali mereka.

>

 

MOTIVASI

KUNCI Pada Pertemuan, jangan membelokkan arah tujuan
Suasana Abad Silang ,
• Menyukai gaya penanganan konsultatif yang semakin berkembang.
• Semakin memahami perlunya pengarahan lintas budaya
• Konsep Hard-Nosed Amerika yang mulai pudar.
• Akses ke teknologi mutakhir semakin meningkatkan harapan.

Faktor-faktor Motivasi
• Senjata yang paling kuat anda adalah humor, didukung dengan sikap tenang, secara sembarang.
• Bisnis dan perolehan uang merupakan hal yang sangat penting, tetapi anda harus senantiasa berupaya untuk mengamati sifat kausal mengenai hal ini.
• Orang Inggris mengakui tantangan karir.
• Bersikap kompetitif, tetapi jangan bertumpu pada kaki orang lain secara terbuka. Terdapat peraturan lisan mengenai permainan atau persaingan yang wajar (fair play).
• Pernyataan dan tindakan menjadi aspek kurang penting. Setiap hal akan dipertimbangkan menurut pengawasan: Mari kita bergembira
• Perdebatan terbuka boleh dilakukan, selama anda memperoleh kejelasan mengenai opini seseorang dan terpisah dari integritas mereka.
• Bila anda ingin mengkritik, tidak setuju atau memberikan pujian, lakukan secara tidak langsung (menggunakan kata-kata candi atau ungkapan kecil).
• Kondisi ketepatan waktu mungkin sering dipandang sebagai sesuatu yang dilakukan secara berlebihan. Anda mungkin tiba terlambat beberapa menit dalam suatu pertemuan (rapat) meskipun anda telah melakukan persiapan dengan baik. Sebagian rapat dimulai beberapa menit dengan pembicaraan kecil.
• Manajer biasanya ingin dianggap sebagai sebuah tim tetapi tetap mempertahankan jenjang kekuasaan.
• Orang Inggris lebih menyukai bentuk usulan dan petunjuk (”Mungkin kita mencoba hal ini …”. Mereka benci dengan cara hidup yang diawasi (regimentation) dan disini dianggap sebagai konteks abad ke duapuluh satu.
• Dalam suatu diskusi orang Inggris menemukan perangapan jabatan dan siap untuk menjajaki antara dua jalur.
• Disini merupakan kebijakan yang baik untuk menggunakan penghinaan-diri (self-disparagement) dengan orang Inggris dan menertawakan diri anda.
• Disini merupakan jenis bidang kewirausahaan yang cocok. Anda juga harus memuji keberhasilan orang lain.
• Menempatkan sesuatu dalam artikel, biasanya setelah melakukan beberapa diskusi lisan. Orang Inggris menyukai konfirmasi persetujuan, menit pertemuan (rapat), ucapan terima kasih dan memo informatif.
• Menceritakan atau menyampaikan kepada kolega mengenai diri anda dan keluarga anda, tetapi jangan sampai memberikan detail atau uraian yang bersifat pribadi.
• Situasi umum, seperti negara Nordic, merupakan faktor penting bagi Inggris.
• Himbauan untuk tradisi dan preseden yang menarik biasanya membuahkan keberhasilan.
• Perlu diingat bahwa orang Inggris biasanya lebih tertarik dengan hubungan jangka panjang dibandingkan dengan hubungan yang berlangsung singkat. Mereka sangat tertarik dan laba, tetapi sering kali memperlihatkan kesabaran besar dalam menunggunya.
• Siap menerima beberapa idiosyncratic atau perilaku eksentrik. Disini sering dipandang sebagai simbol keaslian yang menghasilkan suatu karya atau ciptaan. Guru, profesor, teknisi, ilmuwan dan programmer komputer dianggap sebagai orang yang cerdas.
• Perlu diingat bahwa terdapat beberapa jenis orang Inggris. Sebagian yang dibahas di atas adalah Southern English. Orang Birmingham utara, begitu juga Inggris eltic, cenderung lebih memfokuskan pada sikap kerjasa keras, memperlihatkan sikap keakraban dan lebih terbuka, memiliki pengakuan yang kurang terhadap keunikan kelompok, yang diterapkan oleh orang Nordic melalui beberapa cara, seringkali mengunakan cara orang Amerika.

Jon87

Irlandia – Malibu

Posted in Kuliah on November 16, 2009 by JonRS

IRLANDIA

Berbicara mengenai “dua Irlandia” biasanya berhubungan dengan divisi politik antara Utara dan Selatan, tetapi perbedaan lain semakin terbukti teletak pada perbedaan kesan mengenai kartu pos (postcard) atau mitos orang Irlandia di satu sisi, dan perusahaan, modernisasi negara Uni Eropa (EU) di sisi lain. Mitos orang Irlandia dianggap sebagai ”orang kecil” (little people), dan sebagai pulau Jamrud, musik folk, dan bukti permai yang dikaruniai dengan lima puluh tempat berteduh yang hijau. Irlandia sangat unit. Negara yang masih baru di Eropa, Irlandia pada kenyataannya didukung oleh subsidi Uni Eropa (EU), merubah dirinya dari masyarakat yang didominasi pertanian ke masyarakat produksi near-urban (sepertiga penduduknya tinggal di Dublin). Sebagai anak kesayangan EU dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi,khususnya diantara perusahaan berteknologi canggih, Irlandia telah melebihi standar kehidupan Inggris, meskipun Irlandia masih mengirimkan lebih dari 40 persen ekspornya ke Inggris.

Kepulauan Britania

Berdasarkan kedekatan Irlandia dengan Inggris, dan keterasingannya dari daratan Eropa, disini diduga bahwa mungkin disini terdapat perhimpunan politik tertutup. Kedua pulau ini dihuni oleh Celts sebelum tahun 300 sebelum masehi, dan selanjutnya diserang oleh sejumlah perompak Viking pada abad kedelapan dan abad ke sembilan. Warisan sejarah mereka tidak selalu sama, bagaimanapun, sejak Roma menguasai Inggris Raya (Great Britain) pada tahun 55 sebelum masehi, tetapi tidak pernah mencapai Irlandia, dimana Inggris terkenal dengan musim hujannya. Wales dan Skotlandia, seperti halnya Irlandia, yang menempati Celtic, selanjutnya pengembangan politik secara meyakinkan menyebabkan Inggris berbeda dari negara tetangganya yaitu dengan adanya Invasi The Norman French tahun 1066. Kombinasi Anglo-Norman menguasai Dublin pada tahun 1169 dan selanjutnya Inggris menggabungkan kekuatannya, hingga Henry VIII dan Elizabeth I. Henry terpisah dengan Roma dan meninggalkan Protestan, sedangkan Irlandia tetap menganut Katholik. Kematian dan perusakan di Irlandia oleh Oliver Cromwell selama Perang Sipil Inggris mengakhiri hubungan antara dua negara.

BUDAYA

Nilai-nilai

Sebagai negara yang didominasi Celtic, Irlandia secara budaya berbeda dengan Inggris Anglo-Saxon-Norman. Orang Celtic memiliki kecenderungan baik linear-aktif maupun multi-aktif, dan berorientasi pada dialog. Sebagian nilai-nilai penting orang Irlandia (beberapa diantaranya diwarisi oleh Welsh dan Scots) adalah sebagai berikut :

• Desa yang sederhana
• Visi dan imajinasi
• Romantis dan idealisme
• Ironi, selera himor
• Informalitas
• Kecenderingan puitis
• Cinta buku (literatur), musik dan theater
• Akrab, dan penuh perona
• Tidak percaya terhadap orang Inggris.
• Terikat pada gereja, keluarga, aspek sosial.

Agama

Beberapa orang Irlandia Utara dianggap sebagai penganut Protestant, dan Irlandia sebagai sebagai Katolik Roma. Penganut Protestant/Katolik yang terdapat di Ulster jumlahnya 58 dan 52 persen. Sedangkan Irlandia Selatan lebih mendominasi Katolik (95 persen), terdapat lebih dari 100.000 penganut Protestant, beberapa diantaranya sangat berpengaruh. Presiden republik pertama, Douglas Hyde adalah sebagai penganut Protestant, seperti tiga penulis terkemuka Oscar Wilde, Samuel Beckett dan W.B. Yeats. Benteng Protestant seperti Trinity College dan Irish Times adalah penganut liberalisme non-sekte.

Meskipun faham Katolik sebagai tulang punggung dan identitas Irish Celtic, tetapi kehilangan pengaruh pada republik modern, disebabkan oleh sikapnya terhadap wanita. Presiden sebelum Mary Robinson disebut sebagai penganut “Patrilineal, dan sebagai Gereja Katolik yang didominasi oleh pria.

KONSEP

Kepemimpinan dan Status

Kepemimpinan setelah ditanamkan oleh raja Irlandia, dan pada abad ke delapan belas dan abad ke sembilan belas lebih dipengaruhi oleh Gereja Katolik. Pendeta merupakan pemimpin jemaah. Pada abad ke duapuluh politikus muncul di posisi terdepan. Penulis sangat berpengaurh. Pada dekade pertama abad ke dua puluh satu, pemimpin Irlandia baik dalam bisnis maupun politik merupakan orang yang berpikiran maju dan menggunakan prosedur pemikiran terbuka.

Ruang dan Waktu

Ruang kenyamanan di Irlandia masih kurang dibandingkan dengan Inggris. Keramah-tamahan dan beberapa tahap perilaku taktis merupakan hal yang sudah umum. Orang Irlandia rileks dengan waktu, khususnya di daerah pedalaman. Kota Modern di Irlandia adalah sebagai menganut prinsip seperti orang Inggris.

FAKTOR-FAKTOR BUDAYA DALAM KOMUNIKASI

Pola Komunikasi

Orang Irlandia berbicara jauh lebih bersemangat dibandingkan dengan orang Inggris dan digambarkan sebagai ”orang yang berani mengemukakan pendapat”. Sikap keberanian ini seringkali membatasi ucapan yang berlebihan dan sebagai suatu hal untuk kebenaran. Akibatnya apa yang disebut orang Irlandia sebagai blarney dan harus digunakan pada saat melakukan percakapan dengan mereka. Keakraban informal setiap saat, orang Irlandia adalah sebagai improviser terbesar selama diskusi dan menggunakan keahlian mereka dengan memperlihatkan kesepakatan dan kepatuhan yang nyata. Mereka lebih bersikap puitis dan fiolosofis dalam berbicara dibandingkan dengan orang Inggris.

Kebiasaan Mendengar

Pada saat mendengar, orang Irlandia sangat sopan dan penuh perhatian dan jarang menimbulkan perbedaan pendapat secara terbuka. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk menghambat tetapi jarang dilakukannya. Umpan balik mereka cukup banyak, tetapi jarang menggunakan cara yang berliku-liku atau rumit.

Perilaku pada Saat Rapat dan Negosiasi

Pertemuan dengan orang Irlandia selalu akrab dan sopan tanpa kecuali, tetapi mereka sering menolak. Mereka bukan sebagai penganut agenda penting dan secara antusias menyimpang pada saat dihadapi dengan ide yang menarik. Ide yang memiliki kepastian dan lebih penting dari fakta yang ada. Orang Irlandia sangat teratrik dengan sesuatu yang abstrak, inovatif, dan teoritis. Disini mereka menyukai oang Perancis, meskipun kurang memiliki logika yang kuat. Karakteristik ini menyebabkan kecenderungan terhadap penundaan, pada saat mereka mempertimbangkan cara-cara baru dalam menjajaki masalah dan tugas-tugas. Selanjutnya hal ini membentuk suatu kreativitas, mereka bersikap non konvensional dan memiliki semangat bebas yang menentang struktur dan rutinitas. Orang Amerika Latin lebih mudah untuk mengakuinya dibandingkan orang Jerman, Inggris, Swedia dan Finlandia.

Bagaimana bersikap Empati dengan orang Irlandia.

Mereka bersikap akrab, sopan, dan ramah. Perlihatkan visi dan menggunakan imajinasi anda. Ceritakan mengenai kisah. Berfikir dalam bentuk keindahan dan estetika. Memfokuskan pada kesederhanaan. Jangan menyebut mereka orang Inggris atau memuji orang Inggris. Jangan bersikap kasar, tetapi mengakui sindiran mereka dengan lemah lembut. Jangan memperlihatkan sifat angkuh atau mengatur jarak pada mereka. Jangan mendasarkan pada fakta, dan jangan mencoba menarik benang terhadap apa yang anda anggap sebagai mata Centic yang sangat kasar.

MOTIVASI

KUNCI Memperlihatkan Keakraban, sopan, dan humor
Perasaan Abad-silang
• Orang Irlandia menyukai buah-buahan pada abad kedua puluh terakhir.
• Keraguan orang Inggris mengenai keterlibatan penuh EU mendukung orang Irlandia untuk berpatisipasi penuh.
• Mereka cemas untuk membuang keterbelakangan mereka sebelumnya.

Faktor-faktor Motivasi :
• Melakukan sesuai yang anda dapat lakukan.
• Memperlihatkan simpati terhadap masalah orang Irlandia sebelumnya.
• Ramah tamah
• Bersikap puitis, jika anda dapat melakukannya
• Bersikap humor bilamana anda dapat melakukannya.
• Memfokuskan pada toleransi
• Menerima sikap penundaan mereka.
• Meluruskan diri anda dengan ketertarikan mereka terhadap masalah abstrak dan teoritis.
• Mengakui inovasi dan kreativitas mereka.
• Mengakui sejarah mereka, faham Katholik dan kedudukan sebagai negara yang merdeka.

Lingkungan Bisnis Global – MaLiBu

Posted in Kuliah on November 9, 2009 by JonRS

Tantangan Manajemen Lintas Budaya

I. Lingkungan Bisnis Global

I.a. Globalism atau Globalisasi

Para Manajer diseluruh dunia pada abad ke 21 ini sedang menghadapi tantangan yang sangat berat , yaitu untuk mengoperasikan lingkungan bisnis yang terus berkembang , saling ketergantungan dan kompetitif. Siapa saja baik perusahaan nasional dan perusahaan multinasional yang ikut terjun dalam bisnis global harus menyesuaikan bisnis strateginya dan gaya manajemennya dengan tepat sesuai dengan tujuan negara dimana mereka akan melakukan operasinya, apakah itu merubah secara langsung semua kebijakan dan gaya bekerja perusahaan atau melalui semacam bentuk aliansi. Contoh konkret yang ada yaitu seperti yang dialami oleh perusahaan Finland yaitu Nokia. Tantangan yang sampai sekarang dihadapi oleh perusahaan multinasional tersebut termasuk dunia politik Negara yang tempat beroperasinya anak perusahaan, budaya, keamanan negara, dan perlindungan terhadap dunia teknologi. Selain itu kesempatan dan resiko dari pasar global terus meningkat membawa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam dunia bisnis global untuk bekerja secara bersama dan beroperasi secara komunitas.

Maka dengan bergabungnya perusahaan-perusahaan dengan tidak memandang batas benua , timbul masalah baru yaitu dibutuhkannya Manajemen Global. Yaitu sebuah proses merencanakan dan mengembangkan strategi-strategi perusahaan , merancang dan mendesain sistem operasi dan bekerja dengan orang disekeliling dunia untuk memastikan persaingan yang kompetitif dan menghasilkan keuntungan bersama. Kompetisi bisnis global pada saat ini telah berkembang ketingkat yang lebih sulit karena persaingan yang sangat ketat secara global. Kompetisi global dapat berkembang dengan pesat disebabkan oleh jaringan-jaringan yang mengikat Negara-negara, institusi , dan orang-orang yang sangat bergantung kepada perkembangan ekonomi bisnis global. Peranan kompetisi bisnis global terdorong karena fenomena dunia bisnis yang semakin tidak terbatas. Hampir semua perusahaan diseluruh dunia terkena imbas dari persaingan global. Semua perusahaan yang memproduksi sebuah barang sebagai kegiatan operasi bisnisnya, baik itu diluar negeri dan dalam negeri berpatokan kepada harga yang sangat bersaing yang berlaku didunia global atau yang ditetapkan oleh dunia global. Sangatlah penting bagi manajer untuk beroperasi di dunia pasar domestiknya, tetapi dengan hanya melakukan bisnis di dunia pasar domestik secara otomatis mereka telah menjadi manajer yang tertinggal oleh mayoritas manajer lainnya yang berkerja dengan lingkup yang lebih luas dan tidak terbatas yaitu pasar global. Maka karena itu agar tidak tertinggal oleh perkembangan bisnis global , manajer harus memiliki visi untuk masuk ke bisnis global. Dengan mempersiapkan diri mereka untuk meningkatkan kemampuan dan alat untuk mengelola lingkungan global. Perusahaan yang akan memasuki persaingan dunia bisnis global dan yang akan memperluas operasi bisnisnya , harus mengembangkan kader-kader top manajemennya, yang memiliki pengalaman mengoperasikan bisnis dan yang mengerti apa yang harus dilakukan untuk beroperasi di negara lain dan berkerja dengan orang yang berasal dari lain negara dan tentunya dengan budaya yang berbeda juga. Sebagai indikasi lain dari efek globalisasi , investasi asing telah berkembang tiga kali lebih cepat daripada hasil-hasil atau produksi barang-barang. The European Union (EU) telah bekerja sama dengan United States / Amerika untuk berbagi posisi sebagai negara yang memiliki investor terbanyak didunia. United Kingdom atau Inggris telah berlaku sebagai negara yang yang sangat aktif dalam me-merger dan meng-akuisisi perusahaan.

I.b. Regional Blok Perdagangan
– The TRIAD ( Eropa Barat , Asia dan Amerika Utara)
The European Union (EU)

Dengan jumlah 12 sampai 15 negara yang bergabung di Komunitas perdagangan Eropa. Secara sepakat mereka megadopsi mata uang dan kebijakan moneter yang umum. EU sebagai sebuah kesatuan yang tidak memiliki batas di bagian Eropa barat telah menjadi kenyataan. Dan berdasarkan negosiasi antar negara-negara Eropa barat pada tahun 2001, 13 member baru yang bergabung dengan EU. Dengan Euro sebagai mata uang yang umum dan dapat digunakan secara legal untuk perdagangan , bisnis didunia Eropa telah berubah. Manajer global menghadapi dua tantangan penting yang pertama adalah Strategi, yaitu bagaimana perusahaan yang berada diluar Negara Eropa dapat bekerja sama dengan kebijakan yang ditetapkan oleh EU. Tantangan yang kedua adalah budaya, yaitu bagaimana manajer perusahaan melakukan kerja sama dengan budaya dan tradisi yang beragam yang ada di pasar Eropa, contohnya seperti sifat-sifat karyawan yang berbeda dan berapa lama waktu yang digunakan dalam aktivitas bekerja berhubungan dengan kenyamanan bekerja.

Asia
Jepang dan 4 negara macan – Singapore , Hong Kong , Taiwan , dan Korea Selatan, dimana setiap Negara tersebut memiliki sumber daya yang sangat melimpah begitu juga dengan sumber daya manusianya. Pada tahun 1980an dan permulaan 1990 kekuatan dari ekonomi asia yang sangat bersaing dengan dunia global berasal dari Japan’s Kairetsu dan Korea’s Chaebol. Keduanya adalah konglomerat besar dalam keuangan yang terhubung secara grup dari beberapa perusahaan besar, yang memainkan peran penting di perekonomian Negara mereka. Japanese Kairetsus – Mitsubishi dan Toyota adalah kedua nama perusahaan besar yang sangat kuat yang mempengaruhi perekonomian di regional benua Asia. Namun seiring berkembangnya waktu, kesengsaraan atau krisis ekonomi yang dialami asia tenggara berangsur-angsur membaik karena efek dari angin segar perkembangan ekonomi yang disebabkan oleh negara-negara maju yang ada di Asia. Dan pada tahun 2001 Washington dan Tokyo memperbaharui kerja sama mereka dengan membuka pasar bisnis yang lebih terbuka bagi investor-investor asing.
NAFTA
Tujuan dari NAFTA antara Amerika, Canada, dan Mexico adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat ,lebih banyak tersedianya lapangan kerja, kondisi kerja yang lebih baik, dan lingkungan perdangangan yang lebih menguntungkan . Dengan hasil berkembangnya export dan perdagangan, blok ini memiliki 360 juta konsumen dan mempunyai potensi untuk memperluas perdagangan hingga ke daerah amerika selatan, dan menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian di regional Negara Amerika utara.

I.c. Regional Lain didunia
Central dan Eropa Timur
Adalah area yang benar–benar merasakan efek dari perkembangan ekonomi didunia bisnis global , dimana sistem komunisme lama telah terbukti tidak lagi efektif untuk digunakan sebagai sistem ekonomi. Perhatian dunia kini tertuju kepada sebuah pasar baru yang terdapat 430 juta orang yang dapat dikategorikan sebagai orang yang berpenghasilan kecil.
China

September 2001 China telah memenuhi tujuannya untuk menjadi salah satu member dari WTO (World Trade Organization). Tujuan China menjadi salah satu member tersebut adalah untuk mendominasi kegiatan ekonomi seperti import dan meningkatkan export mereka .Tarif masuk yang lebih murah akan membuat produk asing lebih terjangkau harganya bagi masyarakat Chinese.

Negara yang kurang berkembang

Perubahan di Negara yang dapat dikategorikan (Less Developed Countries) LDCs secara perlahan-lahan membaik. Sebagaimana mereka berjuang dengan tingkat GNP yang rendah pendapatan perkapita yang rendah, dan beban besar, dan populasi yang kurang memiliki keahlian khusus dan jumlah hutang luar negeri yang besar. Keadaan ekonomi mereka yang kurang kondusif dan seringkali tidak dapat menerima keterlibatan pemerintah sehingga mengecilkan investasi asing yang sebenarnya diperlukan oleh mereka.

I.d. Teknologi Informasi

Perkembangan Teknologi Informasi merupakan sebab dan dampak dari globalisasi di dunia. Konsumen didunia menjadi lebih tertarik dengan beberapa media, karena mereka dapat melihat bagaimana orang hidup di Negara lain. Perkembangan dari pasar secara global men-transformasikan atau merubah para manajer untuk selalu terus mengikuti perkembangan teknologi sehingga membuat tidak ada batasan bagi manajer , karena informasi tidak dikendalikan oleh pemerintah, politik, ekonomi, pasar dan informasi yang berkaitan dengan persaingan dapat dengan mudah diakses oleh siapapun diseluruh dunia tanpa batas negara, benua, dan waktu.

I.e. Workforce Diversity / keanekaragam tanaga kerja

Beberapa negara diseluruh dunia, keanekaragaman kerja berkembang menjadi sangat cepat dan menjadi sangat beragam karena batasan-batasan politik yang kaku, dan padatnya transportasi manusia, dan cepatnya sebuah informasi dapat beredar keseluruh dunia. Faktor lain yang dapat meningkatkan tenaga kerja dapat beragam adalah, meningkatnya para pekerja yang bekerja diluar negaranya dalam segala tingkatannya , meningkatnya rata-rata umum tenaga kerja dan bertambahnya jumlah tenaga kerja wanita dengan jenjang pendidikan dan kualitas yang lebih tinggi.

I.f. The Global Manager Role / peran manajer

Lingkungan bisnis sangat berpengaruh terhadap peranan manajer . Para manajer harus menyesuaikan dengan lingkungan yang dinamis, karena aturan dari manajer secara global telah diatur oleh masing-masing negara (politik, ekonomi, status teknologi, keuntungan-keuntungan perusahaan dan serta norma budaya yang dianut). Mereka harus dapat mengantisipasi hal-hal yang berpengaruh buruk terhadap perusahaannya dan manajer global membuat kebijakan serta mengembangkan strategi yang cocok dengan keadaan tersebut.

2. Lingkungan Politik dan Lingkungan Ekonomi

2.a. Politik dan Lingkungan Ekonomi

Aspek penting disini adalah lingkungan politik dan fenomena etnis, sebuah faktor yang mendorong ketidakstabilan politik diseluruh dunia. Secara fakta banyak terjadinya konflik dan kerusuhan akibat adanya perbedaan pendapat dalam alam politik, dan ini membuat perbedaan dan perpecahan antara suku, etnis, agama dan grup atau ormas-ormas tertentu. Seringkali faktor agamalah yang membuat timbulnya perbedaan tersebut. Manajer harus mengerti bagaimana cara untuk mengelola karyawan dengan memperhatikan isu-isu etnis, suku, dan agama dalam rangka untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya konflik dan masalah-masalah internal perusahaan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan situasi.

2.b. Resiko Politik

Manajer global dari sebuah perusahaan global dan multnasional harus dapat menganalisa dan menginvestigasi resiko politik negara dimana perusahaan tersebut akan beroperasi, dan bagaimana akibat dan efek dari resiko terhadap perekonomian, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesuksesan perusahaan. Resiko Politik biasanya berupa kegiatan pemerintah atau secara politik sebuah peristiwa yang dapat mengakibatkan efek yang berjangka panjang terhadap keuntungan dan profitabilitas perusahaan.

Peristiwa-peristiwa resiko politik yang sering terjadi pada saat ini adalah :
1. Perampasan aset-aset perusahaan tanpa kompensasi.
2. Memaksa penjualan aset warga negara tuan rumah, biasanya pada atau di bawah nilai buku atau dibawah harga yang wajar.
3. Diskriminatif terhadap perusahaan asing dalam penerapan peraturan atau undang-undang.
4. Hambatan untuk dana repatriasi.
5. Kerugian yang bersifat teknologi atau kekayaan intelektual lainnya seperti paten, merek dagang, atau nama produk.
6. Terjadinya intervensi pada saat pengambilan keputusan manajerial.
7. Ketidakjujuran yang dilakukan oleh aparat pemerintah terutama dalam pembatalan atau perubahan persetujuan/perjanjian.

2.c. Menilai Resiko Politik

Perusahaan internasional harus melakukan sebuah bentuk penilaian terhadap resiko politik untuk dapat mengelola dan memaparkan akibat dan efek dari resiko tersebut terhadap perusahaan dan untuk meminimalisir kerugian finansial. Biasanya manajer lokal disetiap negara menilai potensi dari isu-isu yang dapat mempengaruhi kestabilan perusahaan dan mengevaluasi dampaknya bagi masa depan perusahaan. Penilaian resiko oleh perusahaan multinasional biasanya terdiri dari dua cara, yaitu melalui jasa ahli-ahli seperti konsultan yang sudah familiar dengan kondisi negara tempat perusahaan beroperasi dan dapat menjalankan usahanya.
Penggunaan konsultan dan pengamat perusahaan dalam menilai resiko politik adalah untuk mengevaluasi perkembangan-perkembangan penting yang dapat mempengaruhi perusahaan, seperti perubahan yang terjadi pada dunia politik dan pertentangan dari beberapa partai politik. Dan para konsultan akan membuat beberapa skenario khusus untuk alternatif perusahaan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Cara yang kedua adalah dengan cara menggunakan staff internal mereka.

2.d. Mengelola Resiko Politik

Setelah menilai potensi dari resiko politik baik itu penanaman saham atau mempertahankan operasi yang sedang berjalan dalam sebuah negara, manajer biasanya mengalami kesulitan bagaimana cara mengelola resiko tersebut. Dalam suatu tingkatan manajer dapat memilih untuk menangguhkan perjanjian perusahaan mereka dengan beberapa negara, atau dapat juga dengan menghindari investasi yang tidak menguntungkan. Dalam tingkatan lain apabila resiko yang dihadapi tidak terlalu tinggi maka perusahaan dapat mengambil tindakan yang sesuai dengan menghadapi resiko tersebut. Mereka dapat memilih apakah mereka akan memulai bisnis baru tersebut , atau tetap mempertahankan bisnis yang lama. Dan untuk berurusan dengan resiko tersebut perusahaan dapat beradaptasi dengan regulasi dan situasi politik. Arti dari beradaptasi disini adalah seperti yang ditegaskan oleh Taoka dan Beeman yaitu;

– Pembagian Aset
– Manajemen yang partisipatif
– Lokalisasi operasi
– Bantuan pembangunan

Dalam rangka menghindar dari resiko dan beradaptasi, dua alternatif lain bagi manajer untuk mengelola resiko politik adalah ketergantungan. Yang berarti manajer pada waktu tertentu harus dapat mempertahankan ketergantungan dari perusahaan dan bantuan dari negara asing, Yang dapat dijabarkan sebagai berikut;

– Pengendalian input
– Pengandalian pasar
– Pengendalian posisi
– Strategi kontribusi
Pada akhirnya apabila perusahaan tidak dapat meminimalisir atau tidak dapat mengambil keputusan seiring dengan perubahan situasi politik, paling tidak perusahaan dapat mengantisipasinya dengan mempagari, arti dari mempagari tersebut adalah;
– Asuransi Resiko Politik
– Pembiayaan hutang lokal

2.e. Mengelola Resiko Terorisme

Terorisme telah menjadi masalah yang sangat kompleks diseluruh dunia, dan bukan lagi permasalahan yang dapat dianggap sepele, karena dapat berdampak sangat buruk bagi perekonomian dan stabilitas negara. Untuk mengelola masalah ini perusahaan seperti IBM dan Exxon berupaya untuk mengembangkan pandangan yang baik bagi negara yang berpotensi dengan kegiatan terorisme yang tinggi. Mereka berusaha untuk tetap low profiles dan meminimalisir ketenaran publiknya dengan cara menggunakan image perusahaan yang bagus pada situs perusahaannya dan sesuai dengan situasi dan kondisi negara tempat mereka beroperasi. Bahkan beberapa perusahaan bekerja sama untuk memonitor bagaimana perkembangan pergerakan terorisme diseluruh dunia.

2.f. Resiko Ekonomi

Yang paling berhubungan dengan stabilitas politik negara adalah lingkungan perekonomiannya dan resiko yang relatif dapat mempengaruhi perusahaan asing, yang memegang peran penting dalam perkonomian suatu negara. Kemampuan sebuah negara untuk memenuhi kewajiban keungannya atau finansialnya ditentukan oleh situasi resiko ekonominya. Resiko ekonomi yang dikeluarkan oleh perusahaan asing biasanya terbagi menjadi dua kategori yaitu :

1. Apabila pemerintah secara mendadak merubah kebijakan moneter domestik dan kebijakan fiskal.
2. Apabila pemerintah secara mendadak memilih untuk merancang ulang kebijakan investasi asingnya

Ada empat metode yang digunakan untuk menganalisa resiko ekonomi, empat metode ini direkomendasikan oleh John Manthis seroang professor dan pengamat ekonomi yang telah melayani sebagai analis kebijakan keuangan pada World Bank/Bank dunia. Metode-metode tersebut adalah ;

– Pendekatan Kuantitatif – Mengukur secara statistik kemampuan sebuah negara untuk memenuhi kewajiban hutang luar negerinya
– Pendekatan Kualitatif – Mengevaluasi resiko ekonomi sebuah negara dengan menilai kompetensi dari pemimpin negara tersebut dan menganalisa tipe kebijakan negara yang mereka implementasikan.

3. Lingkungan Teknologi

Efek dari perkembangan teknologi sangatlah besar bagi dunia, baik dalam segi bisnis dan kehidupan pribadi. Sekarang kita berada pada masa informasi global , sangatlah jelas bagi perusahaan untuk melibatkan teknologi kedalam sebuah rencana strategi mereka dan operasi mereka dari hari kehari.

3.a. Global E-Business

Internet adalah cara termudah, termurah, dan tercepat bagi perusahaan untuk mendapatkan informasi dan berbagi informasi dengan perusahaan lain atau supplier mereka. Internet juga digunakan sebagai alat pemasaran langsung oleh perusahaan, untuk memasarkan produk mereka keseluruh dunia dengan tanpa memikirkan faktor batasan negara dan waktu, E-Business adalah sebuah sistem yang telah terintegrasi dan digunakan diseluruh dunia dan setiap pasar sudah menggunakan basis internet. Sebagai contoh adalah E-Commerce, yaitu sistem pemasaran secara langsung dan penjualan secara langsung. Perusahaan menggunakan E-Business untuk menambah hubungan dengan partner baru dan juga menggunakannya untuk mempertahankan hubungan dengan partner perusahaan yang lama. Keuntungan dari menggunakan E-Business adalah sebagai berikut :

– Kenyamanan dalam melakukan bisnis secara global, dan tersedianya fasilitas komunikasi.
– Electronic meeting seperti Teleconference sangat memudahkan, daripada harus terbang menggunakan pesawat keluar negeri yang memakan biaya membuang-buang waktu.
– Tersedianya layanan intranet ,berguna untuk menggabungkan, dan mengedit informasi baik itu internal atau informasi external.
– Akses yang tidak terbatas bagi konsumen dan calon konsumen untuk mendapatkan informasi mengenai produk.
– Sebuah jaringan yang efisien untuk distribusi.

Kesimpulan

Seorang manajer global yang telah terlatih pun tidak dapat mengembangkan strategi dan mengkonfirmasi sebuah investasi dari pihak asing , tanpa melihat tantangan dan menilai aspek-aspek lingkungan politik dan lingkungan negara, dan lingkungan teknologi. Manajer global dan manajer negara tuan rumah harus dapat melihat bagaimana lingkungan negara tempat perusahaan beroperasi dapat memberikan keuntungan kepada perusahaan dan bagaimana dampak dari resiko-resiko dalam bisnis global dapat berpengaruh kepada operasi perusahaan.