Archive for the Kuliah Category

VARIABEL BUDAYA HOFSTEDE

Posted in Kuliah on November 17, 2009 by JonRS

VARIABEL BUDAYA HOFSTEDE DALAM PENELITIAN
PEMASARAN INTERNASIONAL

ABSTRAK

Semakin meningkatnya penelitian mengenai hubungan antara budaya dan konsumsi sebagai eksponensial (Ogden D., Ogden J. Dan Schau HJ. Penelitian Pengaruh Budaya dan Akulturasi pada keputusan membeli konsumen: terhadap perspektif budaya mikro. Academy Marketing Science Review 2004:3). Budaya selanjutnya merupakan konsep yang sulit difahami yang menimbulkan kesulitan untuk penelitian lintas budaya (Clark T. Pemasaran Internasional dan Karakter Bangsa: Tinjauan dan Proposal teori integratif. Jurnal Pemasaran 1990; Oktober: 66 – 79; Dawar N., Parker P. Dan Price L. Penelitian Pertukaran Informasi interpersonal Lintas Budaya. Jurnal Penelitian Bisnis Internasional 1996; Manrai L., dan Manrai McCort D., dan Malhotra NK. Budaya dan Perilaku Konsumen: Terhadap Pemahaman perilaku konsumen lintas budaya dalam Pemasaran Internasional. Jurnal Pemasaran Internasional 1993; Nasif EG., Al-Daeaj H., Ebrahimi B. Dan Thilbodeaux M. Masalah Metofologis dalam penelitian lintas budaya: Tinjauan Manajemen Internasional 1991; Lenartowicz T. Dan Roth K. Konsep penilaian budaya. Jurnal Penelitian Bisnis Internasional, 1999. Artikel ini meneliti metode konseptualisasi dan operasionalisasi budaya yang berbeda dalam penelitian pemasaran. Artikel membahas keuntungan penggunaan variabel budaya – khususnya nilai-nilai budaya Hofstede. Artikel ini mengusulkan metode tiga tahap untuk operasionalisasi budaya mencakup nasionalitas, variabel budaya Hofstede dan pengukuran budaya pada tahap individu.
Kata Kunci : Penelitian Lintas-Budaya, Variabel budaya; Hofstede.

1.PENDAHULUAN

Budaya memberikan pengaruh luas pada beberapa dimensi perilaku manusia. Penyebaran budaya ini menimbulkan kesulitan dalam penentuan budaya (McCort dan Malhotra, 1993). Kesulitan ini menghambat penelitian mengenai pengaruh budaya pada perilaku konsumen internasional (Manrai dan Manrai, 1996; McCort dan Malhotra, 1993; Clark, 1990; Nasif dan rekan, 1991; Dawar dan rekan, 1996; Lenartowitz dan Roth, 1999). Dan digunakan untuk mengkritik penelitian lintas-budaya (Sekaran, 1983). Budaya merupakan ”tempat untuk menampung beberapa perbedaan struktur pasar dan perilaku yang tidak dapat dijelaskan dalam bentuk faktor-faktor yang berwujud” (Buzzell, 1969: 191), konsep ” menampung sampah” dibandingkan sebagai kesan yang jelas dan kuat mengenai jenis konsep budaya yang dangkal, sebagai variabel penjelas tambahan, ”bila penjelasan operatif terbukti tidak berhasil” (Usunier, 1999: 94).

2.DEFINISI BUDAYA

Tylor memberikan satu definisi budaya: ”sebagai unsur kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, moral, kebiasaan dan kemampuan lain dan kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakat” (1871, dalam McCort dan Malhotra, 1993: 97). Kontribusi selanjutnya adalah pertukaran semua sifat budaya yang melibatkan aspek-aspek yang mempengaruhi kehidupan manusia dalam suatu masyarakat.
Kesulitan dalam membedakan faktor-faktor budaya dengan pengaruh tahap-makro menimbulkan kesulitan dalam penentuan budaya. Budaya secara intrinsik berbeda dengan faktor lingkungan makro lain: ”selanjutnya pola perilaku secara budaya berbeda dengan lingkungan politik, hukum, agama, bahasa, pendidikan, teknologi dan lingkungan industri dimana seseorang berupaya menemukan diri mereka” (Sekaran, 1983: 68). Ya, pengisolasian budaya murni dari pengaruh lingkungan makro lain mungkin tidak memadai, seperti terdapat batasan yang tidak jelas diantara beberapa pengaruh yang saling berhubungan. ”perilaku norma budaya dan pola sosialisasi seringkali bersumber dari bauran keyakinan religius (keagamaan), kepentingan ekonomi dan politik, dan sebagainya. Penyortiran beberapa model yang belum jelas sulit secara ekstrim, jika tidak secara keseluruhan tidak memungkinkan” (Sekaran, 1983: 68).

3.Operasionalisasi Budaya

Meskipun kesulitan definsi merupakan tantangan terhadap penelitian lintas budaya, pengaruh budaya pada konsumen dan pemasaran memperoleh perhatian besar baru-baru ini. Lenartowicz dan Roth (2001) melaporkan bahwa hampir 10 persen artikel yang dipublikasikan dalam 10 jurnal terbaru selama tahun 1996 – 2000 menggunakan budaya sebagai variabel bebas (independen). Sebagai akibatnya, sejumlah metode digunakan untuk mengidentifikasi dan mengoperasionalisasikan budaya membutuhkan penelitian empriis.

Berdasarkan tinjauan kepustakaan penelitian lintas budaya selama dua puluh tahun, Sojka dan Tansuhaj (1995: 4) menyatakan bahwa para peneliti menggunakan tiga metode untuk mengoperasionalisasikan budaya: melalui bahasa, melalui barang material atau artefak, dan melalui sistem keyakinan/nilai. Bahasa memberikan ”suatu kode atau skema penafsiran (interpretasi) untuk mengarahkan dan menyatakan dunia”, tetapi bukan sebagai indikator yang tepat untuk etnis dan tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menjelaskan perilaku antar sub budaya dan budaya yang berbeda. Beberapa artefak budaya (misalnya: barang yang tahan lama, mainan, dan pakaian) diteliti menurut konteks lintas budaya. Pada akhirnya, sistem nilai/keyakinan (misalnya: Fatalisme, materialisme, dan hubungan dengan orang lain) sebagai definisi operasional budaya merupakan instrumen untuk memahami perilaku konsumen antar-budaya (lintas budaya).

Lenartowicz dan Roth (1999) menggunakan istilah ”penilaian budaya” untuk mengidentidikasi pengelompokan budaya yang valid dan mengusulkan tipologi berikut: Uraian Etnologi; Penggunaan perwakilan – Persekutuan Regional; Keputusan Manfaat Langsung (DVI) dan Keputusan Manfaat Tidak Langsung (IVI). Tipologi ini memberikan perspektif lebih luas mengenai pendekatan untuk penggunaan budaya dalam kepustakaan.

3.1 Uraian Etnologi

Uraian etnologis membahas mengenai ”metode kualitatif, khususnya aspek sosiologis, psikologis dan antropologi yang digunakan sebagai dasar untuk penjajakan/identifikasi atau perbandingan budaya” (Lenartowitcz dan Roth, 1999: 783). Metode ini memuat penilaian budaya secara deskriptif.

Penelitian pemasaran internasional menggunakan klasifikasi Hall seperti budaya konteks-tinggi dan budaya konteks-rendah (Wills dan rekan, 1991; Samli, 1995; Mattila, 1999; van Everdingen dan Waarts, 2003). Perbedaan ini didasarkan pada cara pesan disampaikan melalui setiap budaya: secara eksplisit atau menurut konteks. Meskipun bermanfaat, klasifikasi ini memiliki keterbatasan, disini semata-mata hanya membolehkan klasifikasi budaya sepanjang satu dimensi. Selanjutnya, pendekatan Gannon (2001: XV) untuk meneliti budaya menggunakan metafora sebagai metode untuk memahami dan membandingkan konsep budaya mengenai negara. Metafora budaya didefinsikan sebagai ”suatu kegiatan, fenomena, atau lembaga dimana anggota menempatkan budaya secara emosional atau melibatkan penjajakan secara kognitif”. Pendekatan ini memuat uraian subjektif yang berkaitan dengan himbauan secara intuitif. Metode deskripsi etnologis mengarahkan penelitian emic budaya, yang bertujuan untuk meneliti budaya tunggal secara intensif dalam menjelaskan dan memahami fenomena yang sebenarnya dan fenomena tertentu. Disini jarang digunakan dalam bisnis internasional (Lenartowitcz dan Roth, 1999).

3.2 Penggunaan Variabel Wakil (Proxy) – Persekutuan Regional

Pendekatan ini terdiri dari definisi budaya berdasarkan karakteristik yang menggambarkan atau menyerupai budaya (misalnya nasionalitas atau tempat kelahiran) dan sudah umum dalam aplikasi bisnis (Hoover dan rekan, 1978; Dawar dan Parker, 1994; Steenkamp dan rekan, 1999; Lenartowitcz dan Roth, 2001). Hofstede (1984) dan Steenkamp (2001) mendukung metode ini. Steenkamp (2001) mengatakan bahwa terdapat dukungan empiris terhadap perbedaan negara dan perbedaan antar-negara yang membentuk nasionalitas diakui sebagai variabel yang mewakili budaya. Selanjutnya, negara merupakan sumber yang memuat sejumlah pemrograman mental umum untuk warga negara mereka” (Hofstede, 1991: 12), bila negara dengan riwayat yang panjang memiliki pengaruh yang kuat terhadap integrasi selanjutnya. Pada kenyataannya, budaya, negara, bangsa dan masyarakat sering digunakan secara saling bertukaran (Sekaran, 1983; Nasif dan rekan, 1991). Selanjutnya, berdasarkan hubungan yang tidak sempurna antara batasan politik dengan budaya, begitu juga di negara yang memiliki budaya sama atau homogen (Sheth dan Sethi, 1977), para sarjana seringkali melibatkan kelompok etnis rangkap dalam meneliti setiap negara.
Pendekatan Proxy digunakan pada tahap budaya yang berbeda. ”Budaya ditetapkan pada tahap analisis yang berbeda, berkisar dari tahap kelompok hingga tahap organisasi atau tahap nasional” (Erez dan Earley, 1993: 23) atau pada kelompok negara seperti Uni Eropa (Steenkamp, 2001). Contoh, penelitian Mattila (1999) mengenai pengaruh budaya pada motivasi pembelian melalui pemenuhan jasa memperlihatkan perbedaan antara budaya Asia dengan Budaya Barat. Pada waktu yang sama, Dawar dan Parker (1994) mengajukan ”wilayah bisnis etno-geografis sebagai suatu alternatif operasional untuk budaya, dan menetapkan empat kelompok budaya: Amerika Utara; Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC); negara Eropa Non-EEC, dan negara lainnya. Pada kutub yang berlawanan, sub budaya juga diteliti (Lenartowitcz dan Roth, 2001).

Variabel wakil (proxy) lain juga digunakan, seperti tahap keterlibatan budaya pada sektor retail (Dawar cdan Parker, 1994). Samli (1995) mengatakan bahwa perilaku konsumen dapat diprediksi dengan menggunakan sistem skor pada variabel budaya yang relevant yang membutuhkan identifikasi pola perilaku konsumen internasional tertentu Dia mengajukan seperangkat variabel berikut: struktur kelas, bahasa, konteks (rendah/tinggi), hubungan antar personal, jenjang kebutuhan, peran seks, peran anak, teritorialitas, temporalitas, pembelajaran, etika kerta, kebutuhan untuk privacy (kebebasan), pemanfaatan sumber daya, penggunaan sumber daya, peran keluarga dalam pengambilan keputusan, ukruan keluarga, keagamaan, orientasi tradisi, dan pencapaian teknologi.
Selanjutnya, pendekatan ini merupakan metode klasifikasi dimana variabelnya kurang memadai untuk menguji hubungan yang dihipotesis mengenai pengaruh budaya pada vaiabel terikat (dependent variable).

3.3 Perolehan Manfaat Langsung (DVI)

Pendekatan ini terdiri dari pengukuran nilai-nilai subjek dalam sampel, dan perolehan karakteristik budaya berdasarkan pada penggabungan beberapa nilai (Lenartowitcz dan Roth, 1999). Penelitian Hofstede (1984, 1991, 2001) menggunakan metode tersebut. Berdasarkan analisis statistik untuk sampel nilai-nilai kerja dari banyak-negara, Hofstede mengatakan bahwa budaya dapat dibandingkan pada lima dimensi (variabel), yang melibatkan penelitian semua negara (Hofstede, 1991, 2001): individualistis/kelompok; penghindaran ketidakpastian; jenjang kekuasaanl; Maskulinitas-Feminitas dan orientasi jangka panjang.

Struktur nilai-nilai universal dari Schwartz menyesuaikan pendekatan ini (Schwartz, 1992, 1994; Schwartz dan Bilsky, 1987, 1990; Schwartz dan Sagiv, 1995). Dia mengidentifikasi nilai-nilai psikologis universal dan mengajukan sebuah teori untuk materi dan struktur nilai universal. Konsep Schwartz memberikan potensi besar dalam pemasaran internasional (Steenkamp, 2001).

Pada akhirnya, beberapa penelitian mereplikasi penelitian nilai-nilai kerja dari Hofstede menggunakan skala yang berbeda (Dorfman dan Howell, 1988; Fernandez dan rekan, 1997; Donthu dan Yoo, 1998; Furrer dan rekan, 2000; Liu dan rekan, 2001) atau modul angket nilai-nya (VSM; Hoppe, 1990; Heuer dan rekan, 1999; Merritt, 2000; Schramm-Nielsen, 2000; Pheng dan Yuquan, 2002). Dari beberapa penelitian, penelitian Hoppe (1990) digunakan sebagai perbaikan skor Hofstede (Steenkamp dan rekan, 1999).

3.4 Perolehan Manfaat Tidak Langsung atau ukuran pembanding (IVI)

Pendekatan ini menggunakan data sekunder untuk mempertimbangkan karakteristik pengelompokan budaya tanpa mengukur anggota kelompok secara langsung. Contoh metode ini adalah penggunaan skor budaya nasional Hofstede (Hofstede, 1984). Lenartowitcz dan Roth (1999: 786) mengajukan penggunaan metode benchmark: ”Pemusatan metode ini adalah pada kesalahan pengukuran potensial yang terjadi melalui perkiraan (ekstrapolasi) nilai-nilai budaya dari kelompok yang dinilai oleh penelitian pembanding pada sampel yang disurvey”. Metode ini mengambil hukum untuk perumusan hipotesis dan penyediaan variabel budaya untuk penelitian lintas-budaya dengan pendekatan tidak langsung.

Empat metode ini memiliki kelemahan yang tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya Lenartowitcz dan Roth (1999: 787) mengatakan bahwa ”tidak terdapat metodologi tunggal yang dapat mengatasi seperangkat kriteria penilaian budaya yang relevant dalam penelitian bisnis.”

4.Penggunaan Variabel Budaya

Menurut beberapa peneliti, manfaat konsep budaya untuk menjelaskan perbedaan budaya tergantung pada kemampuan untuk mengungkapkannya dan mengidentifikasi komponennya seperti ”Budaya tentunya sebagai konsep global yang menjaid variabel penjelas yang bermanfaat” (van de Vijver dan Leung, 1997: 3; Leung, 1989; Schwartz, 1994; Bagozzi, 1994; Samieee dan Jeong, 1994). Menggunakan sejumlah variabel terbatas untuk membandingkan budaya yang memiliki sumber antropologis. Para sarjana bidang ini sebelumnya mengatakan bahwa hasil-hasil diversitas budaya dari jawaban yang berbeda pada masyarakat yang berbeda dengan prtanyaan universal yang sama: ”Eksistensi dua jenis kelamin; ketidakberdayaan bayi; perlunya pemenuhan kebutuhan biologis pokok seperti makanan, keakraban dan seks, kehadiran seseorang dengan usia yang berbeda dan kemampuan fisik serta kemampuan lain yang berbeda” (Kluckkhohn dalam Hofstede, 1984: 36). Parsons dan Shills (1951) menggambarkan variabel pola budaya atau dilema budaya yang menetapkan dan mengkategorikan budaya: afektivitas versus netralitas afektif (perasaan emosi); orientasi diri versus orientasi kolektif; universalisme versus particularisme; pengakuan versus pencapaian dan kekuatan versus kelemahan. Beberapa kontribusi mempengaruhi personalitas modal, memfokuskan pada ”penilaian kondisi pola kehidupan pada masyarajat tertentu untuk menghasilkan pola kepribadian unik pada anggotanya?” (Inkeles dan Levinson, 1969: 118). Inkeles dan Levinson (1969) mengajukan istilah karakter sosial, struktur kepribadian dasar, dan karakter bangsa.

Penjajakan variabel yang reliabel untuk menggabungkan aspek-aspek perbedaan budaya yang penting dapat memberikan kontribusi penting untuk penelitian lintas budaya atau antar-budaya. Mereka memberikan suatu pilihan untuk konseptual dan pengukuran budaya secara kompleks, sebagai struktur multi-dimensi dibandingkan sebagai variabel kategori sederhana.

Selanjutnya, variabel emic mungkin dibutuhkan untuk mengkarakteristikan aspek-aspek budaya unik tertentu. Bagaimanapun, melalui pemusatan terbatas, disini menuntut peneliti untuk memperlihatkan bahwa perbedaan budaya emic yang nyata tidak dapat dinyatakan secara memadai sepanjang variabel universal (Schwartz, 1994: 88).

5.Variabel Budaya Hofstede

Beberapa sarjana membahas pilihan variabel yang sesuai untuk konseptualisasi dan operasionalsiasi budaya (Bond, 1987; Clark, 1990; Dorfman dan Howell, 1988; Hofstede, 1984, 1991; Inkeles dan Levinson, 1969; Keillor dan Hult, 1999; Schwartz, 1994; Smith dan rekan, 1996; Steenkamp, 2001). Bagaimanapun, konsep Hofstede telah digunakan secara luas dalam konsep budaya nasional dalam penelitian bidang psikologi, sosiologi, pemasaran, atau manajemen (Sondergaard, 1994; Steenkamp, 2001). Hofstede menggunakan 116.000 angket dari lebih 60.000 responden di tujuh puluh negara dalam penelitian empirisnya (Hofstede 1984, 1991, 2001). Dia menetapkan lima dimensi sebagai indeks untuk semua negara, dan menghubungkan variabel aspek demografi, geografi, ekonomi, dan aspek-aspek politik dari suatu masyarakat (Kale dan Barnes, 1992), yaitu karakteristik yang tidak dapat disesuaikan oleh konsep lain. Selanjutnya, konsep ini bermanfaat dalam perumusan hipotesis untuk penelitian lintas-budaya komparatif. Sebagai akibatnya, operasionalisasi budaya Hofstede (1984) merupakan norma yang digunakan dalam penelitian pemasaran internasional (Dawar dan Silvakumar dan Nakata, 2001; Sondergaard, 1994). Tabel 1 membandingkan variabel Hofstede dengan penekatan lain untuk pengungkapan konsep budaya. Disini menunjukkan tingkat konvergensi yang tinggi diantara pendekatan/metode, mendukung relevansi teoritis dari konsep Hofstede, dan menyesuaikan penggunaan variabel selanjutnya.

5.1 Individualisme – Collestivism

Individualisme-collectivism menggambarkan hubungan individu pada setiap budaya. Pada masyarakat inividualistis, individu merasa memiliki setelah diri mereka dan keluarganya, sedangkan menurut budaya collectivistic, individu memiliki kelompok setelah merek melakukan pertukaran loyalitas.

5.2 Penghindaran Ketidakpastian

Penghindaran ketidakpastian berhubungan dengan ”tahap dimana seseorang merasa terancam dengan ketidakpastian dan perangkapan makna (ambiguitas) dan mencoba untuk menghindari beberapa situasi” (Hofstede, 1991 : 113). Variabel ini digunakan sesuai dengan kebutuhan untuk penentuan peraturan yang sesuai dengan perilaku yang ditetapkan.

5.3 Jenjang Kekuasaan

Variabel ini menggambarkan konsekuensi dari ketidakseimbangan kekuasaan dan hubungan otoritas (wewenang) dalam suatu masyarakat. Variabel ini mempengaruhi jenjang dan ketergantungan hubungan menurut konteks keluarga dan konteks organisasi.

5.4 Maskulinitas – Feminitas
Nilai-nilai dominan di negara maskulinitas merupakan pencapaian (prestasi) dan keberhasilan, dan di negara-negara feminitas merupakan perhatian terhadap orang lain dan kualitas kehidupan.

5.5 Orientasi Jangka Panjang

Orientasi jangka panjang ”hadir untuk memperjuangkan kebaikan yang diarahkan pada dukungan masa mendatang, khususnya melalui perlindungan dan penghematan tertentu” (Hofstede, 2001 : 359). Tambahan untuk empat dimensi sebelum (Bond, 1987), variabel ini mewakili tahap nilai-nilai Confucianisme dan Dinamisme Confucian. Selanjutnya Hofstede (1991) mengajukan tujuan jangka pendek-tujuan jangka panjang sesuai dengan variabel ini.

Penelitian Hofstede secara simultan memperoleh pujian secara antusias selain juga kritikan pedas. Hal terpenting disini adalah, disini dapat memberikan ”langkah awal untuk pondasi yang dapat mendukung pembentukan teori ilmiah dalam penelitian lintas-budaya” (Sekaran, 1983: 69). Tinjauan mengenai Indeks Kutipan Ilmiah Sosial (SSCI) yang menghasilkan 1036 kutipan melalui rangkaian budaya pada jurnal periode 1970 hingga September 1993 (Sondergaard, 1994).

Di sisi lain, penelitian Hofstede memiliki beberapa kelemahan. Pertama, penelitian empiris yang bertujuan untuk mengungkap empat variabel awal. selanjutnya, meskipun terdapat perubahan budaya, perubahan tersebut diyakini sebagai perubahan yang sangat lambat (Silvakumar dan Nakata, 2010) dan perbedaan budaya relatif yang terjadi terus menerus. Hofstede mengatakan bahwa perubahan budaya cukup untuk membatalkan skor indeks negara yang tidak diakui untuk periode jangka panjang, mungkin hingga 2100 (Hofstede, 2001):

Sistem nilai budaya nasional cukup stabil sepanjang waktu; Unsur budaya nasional dapat berlangsung dalam jangka panjang, dan dilakukan dari generasi ke generasi. Contoh, negara-negara yang menjadi bagian dari Kaisar Roma masih dapat melakukan pertukaran beberapa unsur nilai umum, berbeda dengan negara tanpa warisan budaya Roma (Hofstede dan Usunier, 1999: 120).

Para sarjana juga mengkritik proses identifikasi variabel secara empiris – dibandingkan dengan variabel yang berasal dari teori (Albers-Miller dan Gelb, 1996), sebagai kesempatan sumber daya (Erez dan Earley, 1993), sebagai pengabungan item atau pernyataan subjektif (Fernandez dan rekan, 1997; Dorfman dan Howell, 1988), sebagai aspek yang dangkal (Schwart, 1994), dan didasarkan pada perusahaan atau korporasi (Schwartz 1994; Erez dan Earley, 1993; Lenartowitcz dan Roth, 2001). Pada akhirnya, kritis yang diarahkan pada penerapan untuk semua budaya, mengatakan bahwa : ”seseorang dapat mendukung jenis sampel yang mungkin dihasilkan dari dimensi berbeda atau negara berbeda” (Schwartz, 1994: 90; Erez dan Earlet, 1993). Namun demikian, Hofstede mengatakan bahwa penyesuaian sampel dilakukan karena kesulitan dalam memperoleh sampel nasional yang mewakili dan perbedaan apa saja yang diukur antara budaya nasional dengan ”seperangkat sampel populasi negara yang sama dapat menyediakan informasi mengenai perbedaan tersebut” (Hofstede, 2001: 73).

6.Penggunaan Variabel Budaya Hofstede dalam Penelitian Pemasaran

Meskipun Hofstede menggunakan konteks yang berkaitan dengan tugas dan pada awalnya konsepnya digunakan untuk manajemen sumber daya manusia, konsep ini digunakan secara luas dalam penelitian bisnis dan pemasaran (Milner dan rekan, 1993; Sondergaard, 1994; Engel dan rekan, 1995; Dawar dan rekan, 1996; Silvakumar dan Nakata, 2001; Shamkarmahesh dan rekan, 2003).

Beberapa variabel digunakan untuk membandingkan budaya, untuk mendukung hipotesis, dan sebagai landasan teori untuk membandingkan budaya, jika dalam beberapa hal, skor yang sebenarnya (aktual) tidak digunakan dan variabel diukur dengan angket baru atau instrumen yang ditetapkan (Lu dan rekan, 1999). Penelitian ini mendukung relevansi beberapa variabel budaya untuk pemasaran internasional dan perilaku konsumen (lihat Tabel 2 untuk penelitian mengenai pengaruh budaya pada perilaku konsumen). Khususnya, inovasi pengaruh Collectivisme (Lynn dan Gelb, 1996; Steenkamp dan rekan, 1999; Yaveroglu dan Donthu, 2002; Yeniyurt dan Townsend, 2003; van Everdingen dan Waarts, 2003), kinerja jasa (Birgelen dan rekan, 2002), dan himbauan periklanan (Albers-Miller dan Gelb, 1996). Penghindaran ketidakpastian mempengaruhi perilaku pertukaran informasi (Dawar dan rekan, 1996), inovasi (Lynn dan Gelb, 1996; Steenkamp dan rekan, 1999; Yeniyurt dan Townsend, 2003), dan himbauan periklanan (Albers-Miller dan Gelb, 1996), perilaku pertukaran informasi (Dawar dan rekan, 1996), inovasi (Yaroglu dan Donthu 2002; Yeniyurt dan Townsend, 2003; van Everdingen dan Waarts, 2003), dan kinerja jasa (Biergelen dan rekan, 2002). Maskulinitas mempengaruhi peran seks (Milner dan Collins, 1998), inovasi (van Everdingen dan Waarts, 2003), dan kinerja jasa (Birgelen dan rekan, 2002). Pada akhirnya, orientasi jangka panjang mempengaruhi inovasi (van Everdingen dan Waarts, 2003).

7.Operasionalisasi Budaya menggunakan Variabel Hofstede

Metode rangkap akan digunakan untuk menilai budaya seperti metode tunggal ”tidak memadai untuk memenuhi semua persyaratan metodologis dan persyaratan konseptual untuk identifikasi kelompok budaya yang valid” (Lenartowitcz dan Roth, 1999: 788). Maka, penelitian eksploratoris lintas budaya dan perilaku pengambilan resiko menggunakan pendekatan tiga-metode untuk mengukur budaya (Soares, 2005): afiliasi atau hubungan regional, perolehan manfaat tidak langsung, dan perolehan manfaat langsung. Berdasarkan keunikan (perbedaan) dalam menggunakan pengukuran budaya multi-variabel, artikel ini membahas penelitian secara lebih rinci.

Pendekatan hubungan regional terbentuk melalui penggunaan variabel yang mewakili (proxy). Soares (2005) menggunakan kebangsaan (nasionalitas) untuk menggambarkan budaya. Meskipun dianjurkan menggunakan metode ini, terdapat dukungan empiris untuk perbedaan antar-negara (Hofstede, 1984; Steenkamp, 2001). Negara dapat digunakan sebagai variabel yang mewakili budaya bila anggota atau penduduk suatu negara cenderung melakukan pertukaran bahasa yang sama, sejarah, agama, pemahaman mengenai sistem lembaga, dan suasana identitas yang sama (Dawar dan Parker, 1994; Hofstede 1984), menggunakan pendekatan umum untuk operasionalisasi budaya (Hoover dan ekanrekan, 1978; Dawar dan Parker, 1994; Steenkamp dan rekan, 1999; Yeniyurt dan Townsend, 2003).
Kedua, Soares (2005) menggunakan benchmark (patokan), metode manfaat tidak langsung, yang terdiri dari karakteristik pengakuan terhadap budaya berdasarkan penelitian lain. Dia menggunakan skor Hofstede (1984) untuk mengklasifikasikan Portugis dan Inggris sebagai dua negara dengan skor yang berbeda. Portugas menganut budaya collectivistic, feminist, orientasi jangka panjang, penghindaran ketidakpastian yang tinggi, dan jenjang kekuasaan yang tinggi, sedangkan Inggris memiliki profil yang berbeda. Contoh, Inggris memiliki skor individualisme tertinggi di Eropa, sedangkan Portugis memiliki skor individualisme terendah di Eropa. Keduanya memperlihatkan penghindaran ketidakpastian yang berbeda (masing-masing ke-47/ke-48 dan ke-2 dari 53 negara). Dengan menggunakan negara yang memiliki persamaan beberapa aspek teoritis, terpisah dari berbagai kemungkinan lain yang dianjurkan untuk memperbaiki reliabilitas dan meningkatkan kemampuan generalisasi (Alden dan rekan, 1993; Silvakumar dan Nakata, 2001).

Ketiga, Soeares (2005) menggunakan metode perolehan manfaat langsung, berdasarkan pengukuran nilai-nilai subjek pada sampel untuk perolehan karakteristik budaya. Selanjutnya, meskipun klasifikasi budaya Hofstede memberikan pertimbangan awal untuk penilaian Nilai-nilai Budaya, sampel selanjutnya diklasifikasikan menurut variabel budaya sesuai dengan karaktetistik mereka.

Para peneliti menggunakan metode yang berbeda untuk mengukur nilai-nilai budaya, menggunakan persepsi nilai-nilai kelompok individual (leung, 1989), atau menggunakan istilah Hofstede, ”tahap analisis ekologi”. Yaitu analisis yang berusaha mengungkap nilai-nilai Hofstede melalui hubungan diantara item pada masing-masing skala dan melalui analisis faktor untuk menetapkan variabel dengan menggunakan skor rata-rata dari responden dan digabungkan pada tahap nasional. Selanjutnya, para sarjana mempermasalahkan tujuan dan manfaat variabel yang diperoleh berdasarkan tahap analisis ekologi untuk penelitian tahap-mikro (Dorfman dan Howell, 1988; Yoo dan rekan, 2001). Nilai-nilai individual merupakan prediktor yang sesuai untuk perilaku seseorang ”jika nilai-nilai budaya kolektif tidak melibatkan pertukaran oleh anggota dari kelompok budaya” (Lenartowitcz dan Roth, 2001: 150). Dake (1991: 77) menggunakan perspektif yang sama dan melakukan pengukuran budaya melalui ”orientasi individu terhadap apa yang kita anggap sebagai perspektif ethos budaya atau pertimbangan usia”

Budaya secara kolektif memiliki seperangkat kebiasaan dan tujuan, beberapa budaya diinternalisasi (diserap) olehs seseorang, menjadi bagian dari kepribadian dan mempengaruhi transaksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Maka, kecenderungan yang ada diamati pada tahap individu sebagai atribut-atribut kepribadian, dengan tingkat dimana mereka secara kolektif dipandang sebagai kecenderungan budaya (Dake, 1991 : 78).

Selanjutnya, penelitian akan meneliti nilai-nilai budaya apda tahap individu, menggunakan persepsi kelompok terpisah. Selanjutnya, metode, budaya ini dipandang sebagai atribut yang diukur pada tahap individu seperti yang dibuktikan dengan keyakinan seseorang yang kuat pada variabel budaya kunci. Selanjutnya, kecuali untuk operasionalisasi (penggunaan) variabel individualisme/collectivism dalam psikologi sosial (Triandis dan rekan, 1988; Triandis, 1995), memvalidasi instrumen untuk mengukur nilai-nilai budaya masih jarang dilakukan.

Skala nilai-nilai budaya dari Furrer dan rekan (2002) adalah pilihan pertama yang dipertimbangakn oleh Soares (2005). Mereka mengajukan 20 item skala Likert 7-poin (empat item untuk masing variabel) berdsarkan Hofstede (1991). Soares melakukan pre-test skala untuk reliabilitas di Portugasl dan hasilnya tidak reliabel (Tabel 3).

Selanjutnya, Soares meneliti cara-cara untuk memperbaiki skala melalui penambahan item (pertanyaan) untuk skala tersebut. Hofstede (1991) merangkum perbedaan kunci antara kutub yang berbeda dari setiap variabel budaya dalam bentuk norma-norma umum, keluarga, sekolah dan lingkungan kerja, politik dan ide-ide (kecuali untuk orientasi jangka panjang). Tujuh keputusan pemasaran dan pengetahuan sosial yang memiliki kesamaan dengan budaya Portugis dan Inggris menganalsis rangkuman item dan item-item yang diidentifikasi secara berbeda antara kedua negara. Selanjutnya, dia menggunakan item yang memiliki perbedaan semantik untuk memfokuskan pada kutub yang berbeda dengan setiap pernyataan, agar mereka dapat difahami lebih jelas oleh responden (Green dan rekan, 1988). 28 skala-item yang direvisi melibatkan pre-test pada mahasiswa Portugal untuk menilai kesesuaian internal (tabel 4).

Selanjutnya, Soares mengidentifikasi skala nilai-nilai budaya (CVSCAL) sebagai alternatif (Donthu dan Yoo, 1998; Yoo dan rekan, 2001). Angket 26-item ini mengukur lima variabel budaya, yang digunakan untuk situasi konsumen umum dan memiliki sifat psikometris yang memadai (Donthu dan Yoo, 1998; Lenartowuitcz dan Roth, 2001). Dalam penelitiannya, skala ini memiliki reliabilitas yang sesuai untuk collectivisme dan maskulinitas untuk sampel Protugal, dan memiliki reliabilitas yang sesuai untuk Sampel Inggris (kecuali untuk penghindaran ketidakpastian; Tabel 5). Maka instrumen atau angket ini digunakan untuk mengukur nilai-nilai budaya pada tahap individu dban selanjutnya menggunakan metode tiga tahap untuk operasionalisasi budaya oleh Soares (2005).

8.Kesimpulan

Budaya merupakan konsep penentuan definisi, konseptual, dan operasional yang samar, yang menghambat penelitian terhadap budaya dan pengaruh perilaku konsumen. Kami membahas beberapa metode konspetual dan menggunakan variabel multi dimensi ini dalam penelitian dan mengajukan metode multi-variabel untuk menilai budaya dengan menggunakan Hubungan Regional, Asumsi manfaat langsung, dan asumsi manfaat tidak langsung. Kami tidak berpendapat bahwa penggunaan beberapa variabel memberikan uraian yang lengkap mengenai perbedaan antar budaya. Selanjutnya, kami menduga bahwa konsep Hofstede memuat shortcut yang mudah, praktis dan bermanfaat untuk penyesuaian penelitian budaya. Melalui kebencian terhadap beberapa kecman atau kritik terhadap variabel (dimensi) ini, dengan alasan bahwa mereka mengukur perbedaan antar budaya dan memperoleh dukungan besar (Lynn dan Gelb, 1996). Maka, terdapat dukungan besar dalam kepustakaan untuk menggunakan konseptualisasi dan operasionalisasi budaya ini. Pengukuran beberapa variabel pada tahap individu akan memberikan kontribusi penting untuk penelitian lintas-budaya.

Sedangkan operasionalisasi budaya tetap sebagai tantangan, pendekatan multi-metode memberikan kontribusi terhadap pengukuran konsep yang sulit difahami (elusive). Implikasi penelitian ini untuk penelitian mendatang mengenai budaya mengacu pada Soares (2005) dan Donthu dan Yoo (1998) sebagai langkah awal yang menjanjikan. Reliabilitas antar negara (Portugal dan Inggris, Soares, 2005), mereka juga memberikan validitas nomologis yang dibuktikan melalui pengaruhnya pada tahap stimulasi optimal dan pengambilan resiko optimal. selanjutnya, penelitian mendatang harus meneliti reliabilitas dan validitas skala melalui penambahan negara dan konteks penelitian melebihi penelitian yang dilakukan oleh Donthu dan Yoo (1998) dan Soares (2005).

Advertisements

Inggris – Malibu

Posted in Kuliah on November 16, 2009 by JonRS

INGGRIS

Selama beberapa dekade, industri perfilm Inggris, telah memperkaya bakat-bakat seperti aktor Alec Guiness, Peter O’Toole, John Geigud, Ralph Richardson, Alastair Sim, George Cole dan Charles Laughton, yang telah menempatkan Pria Inggris di Layar dunia. BBC, dengan programnya yang mengagumkan seperti Upstairs, Downstair and Yes. Menteri mendukung kesan tersebut.

Pria Inggris mengenakan jaket wool atau stelan jas tiga lapas dan jas hujan Burberry pada saat hujan. Dia mengenakan topi bowler, mengenakan payung hitam dengan tongkat dan memiliki surat kabar pink yang dilipat pada ketiak kirinya. Dia pergi ke gereja pada hari Minggu pagi dan memakan daging sapi dengan puding Yorkshire pada saat makan siang di Hari Minggu. Dia adalah seorang Pangeran Pria, yang menuntut permainan wajar terhadap orang yang tertindas, apakah disini sebagai cara perlakuan yang sesuai dan memperlihatkan kasih sayang terhadap kuda, kucing dan anjing dibandingkan terhadap anak, rubah dan belibis. Dia mungkin pergi ke Eton dan Oxford (Cambridge) dan seringkali ke Ascot, Wimbledon, Twickenham, Lords dan Wentworth. Dia meyakini Partai Monarki, Kaisar dan Partai Konservatif. Pada saat tidak berada dalam Klub-nya, dia duduk di pub lokal dengan para pekebun dan pengawas permainan, dengan aroma bir hangat yang disebut real ale. Seringkali dia minum teh dengan pendeta, dia membahas tentang Gereja Inggris, pertanian, pesta atau jamuan di desa, dan kehidupan dari tahun ke tahun dengan Pengawal.

Pria Inggris menyukai olahraga Cricket, croquet, rugby, sheepdog trual (percobaan pelatihan anjing gembala), kisah detektif dan antrian. Bila jalur lambat, anda jangan mengeluh, seperti orang Inggris yang tidak pernah menciptakan skenario ini, jika mereka memiliki nama rangkap. Penerapan yang sama dilakukan untuk pelayanan buruk suatu restaurant, stasiun kereta api dan lokasi dimana anda membutuhkan passport anda.

Penangkal untuk situasi frustrasi tersebut adalah bibir atas yang kaku (the stiff upper lip). Pada saat berdiri di suatu baris atau duduk di kereta api, seseorang tidak akan terlibat dalam percakapan dengan orang lain – alasannya adalah karena membaca surat kabar. Ketika kereta tergelincir di sebuah terowongan di the London Underground beberapa tahun silam, seorang pria tua berjalan setengah mil di bawah baris jalur stasiun selanjutnya, dimana dia mengatakan: ”Ini merupakan sesuatu yang mengerikan karena lokasinya gelap. Seseorang melakukan pembicaraan satu sama lain.

Stereotype mengenai karakter orang Inggris ini disketsa melalui pemikiran negara lain oleh beberapa generasi film Inggris. Populasi penduduk yang sangat padat meliputi Jepang, India, Asia Tenggara dan Afrika, masih disini masih tetap mengirimkan anak mereka ke Inggris untuk dididik sepanjang jalur yang sama.

Sebagian orang Inggris memikul gambaran sterotype ini. Bukan hanya kesan mengenai tokoh kelas atas era sebelumnya, tetapi disini melibatkan prediksi perbedaan regional, dimana di Inggris nampaknya lebih ekstrim. Jika anda menarik garis lintang melalui kota Oxford, disini disini menimbulkan keraguan jika anda mencari seseorang di belahan utara, yang melakukan hal tersebut melalui sterotype. Pada lokasi pertama, hampir 10 juta orang Britons adalah orang Celtic (Skotlandia, Wales, Irlandia, Cornish dan Manx). Beberapa orang biasanya bersikap romantis, puitis, dan emosional. Mereka, seperti halnya jutaan orang di bumi dan orang Northern English (Inggris Utara) jauh lebih liar dari Oxford, dan lebih kritis mengenai pola dasar pria inggris menurut pemikiran asing. Terdapat sebuah jenis orang Inggris yang berhubungan dengan kesan yang diproyeksikan, tetapi dia terdapat di wilayah Selatan, termasuk kelas atas dan sangat unik sama halnnya seperti di wilayah Selatan, kami membicarakan mengenai masalah kecil, meskipun disini seringkali sebagai pencegahan yang dapat dilihat atau dapat didengar oleh masyarakat.

Apa kesukaan oang Inggris? ”kesan dunia” memuat beberapa kesamaan realita, tetapi tidak semuanya. Sistem kelompok masih tetap berlaku di Inggris – kelemahan anakronisme yang terapat di Amerika Utara dan sebagian negara Eropa telah dihapuskan – tetapi pada kenyataannya sebagian orang Inggris termasuk kelas menengah. Mereka tidak memiliki partai politik yang kuat atau berpengaruh untuk mewakili mereka, meskipun baik partai Konservatif maupun Partai Buruh masih tetap memiliki keinginan besar. Ketidakhadiran partai Centrist Moderat sangat disayangkan untuk kelangsungan polarisasi masyarakat Inggris.

Polarisasi atau tidak, bagaimana orang Inggris berperilaku? Apakah status, pola yang dapat diamati. Ya, kita adalah bangsa yang mengekor, dan mungkin hanya waktu yang menyebabkan orang Inggris yang menyampaikan keluhan hiruk-pikuk bila seseorang terjebak dalam antrian. Tetapi sikap bibir atas yang kaku (the stiff upper lip) dapat diubah – orang Inggris sekarang memiliki sesuatu yang keramat. Raja sangat dihormati, keluarga Raja sering diejek, baik lewat pers (surat kabar) maupun lewat Televisi. Jika orang Inggris menertawakan diri mereka, maka apa yang dapat dilakukan Raja – apakah raja dapat bersikap lebih demokratis?

Humor adalah faktor pendukung kehidupan orang Inggris – beberapa orang mengatakan bahwa humor merupakan produk atau hasil yang berkaitan dengan perubahan iklim – dan beberapa oranbg Inggris memandang bahwa lagu juga memuat humor, disini tidak pernah memperlihatkan keputus-asaan. Disini bukan sebagai kecelakaan yang disiarkan BBC – sebagian humor ditayangkan di seluruh dunia – yang sudah memiliki popularitas tinggi di sebagian negara yang dapat menerimanya.

Benar bahwa orang Inggris mencintai cerita atau kisah Detektif. Agatha Christie adalah novelis dunia dan orang Inggris memimpin dunia dunia dalam hal pengadaan buku kepustakaan. Sherlock Holmes adalah satu dari pria Inggris yang sangat terkenal setiap saat. Pada kenyataannya, orang Inggris memiliki lapisan konspirasi yang kuat mereka mencintai persekongkolan atau kompromi. Pahlawan terbaik Inggris yang memiliki riwayat kelautan adalah Francis Drake dan John Hawkins – keduanya adalah perompak laut.

Selanjutnya, Orang Inggris memandang diri mereka sebagai orang yang jujur, rasional, penuh perhatian dan baik budi. Orisinalitas mereka seringkali terbentuk atau dibatasi pada eksentris, tetapi disini benar bahwa melalui sejarah mereka menjadi pemikir lateral dengan kemampuan karya atau ciptaan besarnya. Potret sebagai negara amatir yang kacau balau akibat kriris, mereka tetap memperlihatkan kemampuan mendalam mereka terhadap kesengsaraan yang sangat buruk.

Jangan meminta orang Inggris untuk merubah bis dengan deck rangkap atau kotak surat merah (red mailbox), atau untuk mengemudikannya dengan benar. Sama halnya bila mereka berbisnis di luar negeri, mereka menggunakan kepompong kepulauan mereka untuk kepentingan mereka.

Kebiasaan rutin, ide tetap, tidak tergesa-gesa terhadap perubahan, tidak profesional. Bagaimana beberapa karakteristik digunakan untuk pelaksanaan bisnis di Inggris? Bagaimana beberapa hal eksentik ditangani ? (Untuk ilustrasi mengenai pola komunikasi orang Inbggris dan kebiasaan mendengar atau menyimak, lihat Gambar 5.5. dan 5.13

Bagaimana Bersikap Empati dengan orang Inggris

Orang Inggris merasa berasa satu rumah dengan bangsa lain yang menggunakan bahasa Inggris, dimana mereka sedikit sulit dalam membentuk hubungan yang efektif. Mereka juga merasa nyaman atau senang dengan orang Nordic, Belanda dan orang Jepang. Mereka berfikir bahwa mereka menghancurkan masa keemasan antara formalitas yang berlebihan (kecenderungan oang Perancis dan Jerman), dan familiaritas prematur (sifat-sifat orang Amerika dan orang Australia).
Tentunya, orang Briton memiliki kelas yang berbeda, dan anda selalu memisatkan pemikiran anda. Bila disini melibatkan kekayaan atau kemakmuran, seperti yang terdapat pada kelompok Southern English, yang lebih menekankan pada peradaban (sipil), aspek pendidikan, dan bila memfokuskan pada kerjas keras mada terdapat Pada kelompok Northern English, Scots, atau Welsh, anda akan lebih memfokuskan pada ketulusan dan kejujuran, tidak melibatkan penanganan yang sulit.

Pada pertemuan bisnis, orang Inggris agak bersifat formal, menggunakan nama pertama hanya setelah dua atau tiga kali pertemuan. Setelah itu mereka semakin informal, dan nama pertama digunakan dan tetap dipertahankan. Orang Inggris lebih suka memperlihatkan diri mereka sebagai orang yang berorientasi keluarga, dan disini merupakan yang hal yang wajar atau umum bagi anda untuk membahas atau mendiskusikan tentang anak, liburan dan mengingat sesuatu selama dan antara pertemuan . Humor sangat penting dalam sesi bisnis di Inggris, dan humor dapat memberikan masukan untuk anda agar sampai pada situasi senda gurau dan anekdot. Orang menggunakan humor dengan baik akan menggunakan bakat mereka sepenuhnya.

Orang Inggris menduga anda dapat memadukan kisah satu dengan kisah lain dan memberikan iklim kondusif dalam pelaksanaan bisnis. Manajer atau eksekutif Inggris dapat menggunakan humor (khususnya ironi/sindiran halus atau sarkasme/sindiran kasar) sebagai senjata dalam mengejek pihak lawan atau memperlihatkan kekecewaan atau kemuakan. Bagaimanapun, sarkasme (sindiran kasar) jarang digunakan terhadap orang Nordic, karena kerendahan hati mereka dan dan upaya untuk melindungi Nordic. Orang Inggris menggunakan humor secara kasar terhadap orang Ameirka Latin dan orang yang bersikap lebih demonstratif.

Kita dapat mempelajari tentang orang Inggris melalui observasi sejauh mana mereka menggunakan humor untuk diri mereka atau untuk rekan atau kolega mereka. Berikut ini adalah penggunaan humor yang sudah umum.

• Kemerosotan diri.
• Untuk mengatasi hambatan atau tekanan dalam situasi dimana terjadi intrasigensi.
• Untuk mempercepat pembahasan (diskusi) biola formalitas berlebihan dan disini lambat ditangani.
• Untuk mengkritik langsung terhadap atasan tanpa menimbulkan pemecatan
• Untuk memperkenalkan sesuatu yang baru, ide yang liar yang terhadap kolega atau rekan yang tidak memiliki fantasi (the trial balloon”).
• Untuk memperkenalkan negosiasi yang kaku dan diluar dugaan.
• Untuk tertawa dalam situasi sulit atau menempatkan prioritas manajemen ”misteri” dan sebagai penempatan perspektif dalam perencanaan perusahaan yang serius.

Singkatnya, Humor diakui sebagai satu senjata yang sangat efektif atau sebagai senjata bagi manajer Inggris, dan beberapa orang dapat memperoleh keyakinan (konfidensial) dari orang Inggris dengan memperlihatkan bahwa mereka dapat menyesuaikan diri mereka di negara ini. (bagi orang Swiss, Austria, Turki atau Jerman sulit melakukan hal ini).

Manajer Inggris berupaya menonjolkan diri mereka selama rapat, dimana mereka diarahkan oleh situasi yang tidak rasional, situasi umum atau situasi yang terkesan kompromi. Anda mungkin mengatakan, bahwa orang Inggris selalu mengabaikan ketidaksepakatan, jarang membuat keputusan akhir pada pertemuan pertama. Mereka tidak menyukai sikap tergesa-gesa. Mereka akan mengatakan, ”Apakah kita dapat mencapai keputusan akhir pada pertemuan berikutnya?”

Orang Inggris jarang yang berselisih secara terbuka dengan proposal yang diajukan oleh pihak lain. Mereka menyetujuinya bila memungkinkan, tetapi disini harus memenuhi persetujuan mereka (”Hmmm, bahwa ini merupakan ide yang sangat menarik”.). Bangsa lain lebih terbuka dalam mengakui hal ini. Anda harus mengamati simbol-simbol ketidak setujuan yang tersembunyi, contoh:

• Baik, kami selanjutnya menyukainya.
• Menggunakan jawaban yang samar
• Mengabaikan masalah kecil, bukti dan perbedaan (”Mungkin sebagai trik atau siasat)
• Humor

Beberapa bangsa memahami tentang penggunaan masalah kecil dan humor dengan baik, tetapi disini dapat dihambat dengan sikap kaku orang Inggris. Mereka menggunakannya sebagai dalih atau alasan, menolak lawan, atau menunda suatu bisnis. Meminta mereka untuk membuat keputusan dan mereka lebih sering menjawabnya dengan ”Saya akan menceritakan sebuah kisah untuk anda”. Anda mendengarkan kisah ini dengan penuh minat, disini mungkin menjadi satu persyaratan yang baik. Bila disini sudah berakhir, maka anda mengatakan ”Baik, tetapi bagaimana keputusan yang dicapai?” Saya siap memberitahukan anda,” kata orang Briton. Anda akan melakukannya dengan baik dengan cara anda memahami relevansi kisah atau menceritakannya kembali kepada saya.

Dengan menggunakan pesona (karisma), menggunakan nama samaran, humor, dan bersikap tidak rasional, negosiator Inggris dapat tersenyum tetapi disini membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka selalu memiliki posisi berubah-ubah, dimana mereka bersikap menyembunyikan diri dalam waktu alma. Anda harus mencoba menemukan posisi ini dengan cara yang rasional, tersenyum, bersikap sederhana dan bersikap betahan. Pada akhir negosiasi anda mungkin menemukan kesamaan dengan rencana yang anda miliki pada sebagian situasi. Bidang tawar menawar mungkin sebagai hal penting bagi orang Inggris (ingat bahwa mereka memiliki pengalaman ratusan tahun dengan India, Timur Tengah dan Timur Jauh).

Perwakilan perusahaan Inggris biasanya menggunakan reputasi perusahaan mereka, ukuran dan kesejahteraan atau kekayaan perusahaan mereka dalam melakukan negosiasi, dan anda dapat melakukan dengan cara lain dalam bertransaksi dengan mereka.
Pada akhirnya, terdapat permasalahan mengenai kepulauan Inggris. Inggris biasanya memiliki pernyataan bahwa orang asing yang bertujuan untuk mengakali mereka.

>

 

MOTIVASI

KUNCI Pada Pertemuan, jangan membelokkan arah tujuan
Suasana Abad Silang ,
• Menyukai gaya penanganan konsultatif yang semakin berkembang.
• Semakin memahami perlunya pengarahan lintas budaya
• Konsep Hard-Nosed Amerika yang mulai pudar.
• Akses ke teknologi mutakhir semakin meningkatkan harapan.

Faktor-faktor Motivasi
• Senjata yang paling kuat anda adalah humor, didukung dengan sikap tenang, secara sembarang.
• Bisnis dan perolehan uang merupakan hal yang sangat penting, tetapi anda harus senantiasa berupaya untuk mengamati sifat kausal mengenai hal ini.
• Orang Inggris mengakui tantangan karir.
• Bersikap kompetitif, tetapi jangan bertumpu pada kaki orang lain secara terbuka. Terdapat peraturan lisan mengenai permainan atau persaingan yang wajar (fair play).
• Pernyataan dan tindakan menjadi aspek kurang penting. Setiap hal akan dipertimbangkan menurut pengawasan: Mari kita bergembira
• Perdebatan terbuka boleh dilakukan, selama anda memperoleh kejelasan mengenai opini seseorang dan terpisah dari integritas mereka.
• Bila anda ingin mengkritik, tidak setuju atau memberikan pujian, lakukan secara tidak langsung (menggunakan kata-kata candi atau ungkapan kecil).
• Kondisi ketepatan waktu mungkin sering dipandang sebagai sesuatu yang dilakukan secara berlebihan. Anda mungkin tiba terlambat beberapa menit dalam suatu pertemuan (rapat) meskipun anda telah melakukan persiapan dengan baik. Sebagian rapat dimulai beberapa menit dengan pembicaraan kecil.
• Manajer biasanya ingin dianggap sebagai sebuah tim tetapi tetap mempertahankan jenjang kekuasaan.
• Orang Inggris lebih menyukai bentuk usulan dan petunjuk (”Mungkin kita mencoba hal ini …”. Mereka benci dengan cara hidup yang diawasi (regimentation) dan disini dianggap sebagai konteks abad ke duapuluh satu.
• Dalam suatu diskusi orang Inggris menemukan perangapan jabatan dan siap untuk menjajaki antara dua jalur.
• Disini merupakan kebijakan yang baik untuk menggunakan penghinaan-diri (self-disparagement) dengan orang Inggris dan menertawakan diri anda.
• Disini merupakan jenis bidang kewirausahaan yang cocok. Anda juga harus memuji keberhasilan orang lain.
• Menempatkan sesuatu dalam artikel, biasanya setelah melakukan beberapa diskusi lisan. Orang Inggris menyukai konfirmasi persetujuan, menit pertemuan (rapat), ucapan terima kasih dan memo informatif.
• Menceritakan atau menyampaikan kepada kolega mengenai diri anda dan keluarga anda, tetapi jangan sampai memberikan detail atau uraian yang bersifat pribadi.
• Situasi umum, seperti negara Nordic, merupakan faktor penting bagi Inggris.
• Himbauan untuk tradisi dan preseden yang menarik biasanya membuahkan keberhasilan.
• Perlu diingat bahwa orang Inggris biasanya lebih tertarik dengan hubungan jangka panjang dibandingkan dengan hubungan yang berlangsung singkat. Mereka sangat tertarik dan laba, tetapi sering kali memperlihatkan kesabaran besar dalam menunggunya.
• Siap menerima beberapa idiosyncratic atau perilaku eksentrik. Disini sering dipandang sebagai simbol keaslian yang menghasilkan suatu karya atau ciptaan. Guru, profesor, teknisi, ilmuwan dan programmer komputer dianggap sebagai orang yang cerdas.
• Perlu diingat bahwa terdapat beberapa jenis orang Inggris. Sebagian yang dibahas di atas adalah Southern English. Orang Birmingham utara, begitu juga Inggris eltic, cenderung lebih memfokuskan pada sikap kerjasa keras, memperlihatkan sikap keakraban dan lebih terbuka, memiliki pengakuan yang kurang terhadap keunikan kelompok, yang diterapkan oleh orang Nordic melalui beberapa cara, seringkali mengunakan cara orang Amerika.

Jon87

Irlandia – Malibu

Posted in Kuliah on November 16, 2009 by JonRS

IRLANDIA

Berbicara mengenai “dua Irlandia” biasanya berhubungan dengan divisi politik antara Utara dan Selatan, tetapi perbedaan lain semakin terbukti teletak pada perbedaan kesan mengenai kartu pos (postcard) atau mitos orang Irlandia di satu sisi, dan perusahaan, modernisasi negara Uni Eropa (EU) di sisi lain. Mitos orang Irlandia dianggap sebagai ”orang kecil” (little people), dan sebagai pulau Jamrud, musik folk, dan bukti permai yang dikaruniai dengan lima puluh tempat berteduh yang hijau. Irlandia sangat unit. Negara yang masih baru di Eropa, Irlandia pada kenyataannya didukung oleh subsidi Uni Eropa (EU), merubah dirinya dari masyarakat yang didominasi pertanian ke masyarakat produksi near-urban (sepertiga penduduknya tinggal di Dublin). Sebagai anak kesayangan EU dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi,khususnya diantara perusahaan berteknologi canggih, Irlandia telah melebihi standar kehidupan Inggris, meskipun Irlandia masih mengirimkan lebih dari 40 persen ekspornya ke Inggris.

Kepulauan Britania

Berdasarkan kedekatan Irlandia dengan Inggris, dan keterasingannya dari daratan Eropa, disini diduga bahwa mungkin disini terdapat perhimpunan politik tertutup. Kedua pulau ini dihuni oleh Celts sebelum tahun 300 sebelum masehi, dan selanjutnya diserang oleh sejumlah perompak Viking pada abad kedelapan dan abad ke sembilan. Warisan sejarah mereka tidak selalu sama, bagaimanapun, sejak Roma menguasai Inggris Raya (Great Britain) pada tahun 55 sebelum masehi, tetapi tidak pernah mencapai Irlandia, dimana Inggris terkenal dengan musim hujannya. Wales dan Skotlandia, seperti halnya Irlandia, yang menempati Celtic, selanjutnya pengembangan politik secara meyakinkan menyebabkan Inggris berbeda dari negara tetangganya yaitu dengan adanya Invasi The Norman French tahun 1066. Kombinasi Anglo-Norman menguasai Dublin pada tahun 1169 dan selanjutnya Inggris menggabungkan kekuatannya, hingga Henry VIII dan Elizabeth I. Henry terpisah dengan Roma dan meninggalkan Protestan, sedangkan Irlandia tetap menganut Katholik. Kematian dan perusakan di Irlandia oleh Oliver Cromwell selama Perang Sipil Inggris mengakhiri hubungan antara dua negara.

BUDAYA

Nilai-nilai

Sebagai negara yang didominasi Celtic, Irlandia secara budaya berbeda dengan Inggris Anglo-Saxon-Norman. Orang Celtic memiliki kecenderungan baik linear-aktif maupun multi-aktif, dan berorientasi pada dialog. Sebagian nilai-nilai penting orang Irlandia (beberapa diantaranya diwarisi oleh Welsh dan Scots) adalah sebagai berikut :

• Desa yang sederhana
• Visi dan imajinasi
• Romantis dan idealisme
• Ironi, selera himor
• Informalitas
• Kecenderingan puitis
• Cinta buku (literatur), musik dan theater
• Akrab, dan penuh perona
• Tidak percaya terhadap orang Inggris.
• Terikat pada gereja, keluarga, aspek sosial.

Agama

Beberapa orang Irlandia Utara dianggap sebagai penganut Protestant, dan Irlandia sebagai sebagai Katolik Roma. Penganut Protestant/Katolik yang terdapat di Ulster jumlahnya 58 dan 52 persen. Sedangkan Irlandia Selatan lebih mendominasi Katolik (95 persen), terdapat lebih dari 100.000 penganut Protestant, beberapa diantaranya sangat berpengaruh. Presiden republik pertama, Douglas Hyde adalah sebagai penganut Protestant, seperti tiga penulis terkemuka Oscar Wilde, Samuel Beckett dan W.B. Yeats. Benteng Protestant seperti Trinity College dan Irish Times adalah penganut liberalisme non-sekte.

Meskipun faham Katolik sebagai tulang punggung dan identitas Irish Celtic, tetapi kehilangan pengaruh pada republik modern, disebabkan oleh sikapnya terhadap wanita. Presiden sebelum Mary Robinson disebut sebagai penganut “Patrilineal, dan sebagai Gereja Katolik yang didominasi oleh pria.

KONSEP

Kepemimpinan dan Status

Kepemimpinan setelah ditanamkan oleh raja Irlandia, dan pada abad ke delapan belas dan abad ke sembilan belas lebih dipengaruhi oleh Gereja Katolik. Pendeta merupakan pemimpin jemaah. Pada abad ke duapuluh politikus muncul di posisi terdepan. Penulis sangat berpengaurh. Pada dekade pertama abad ke dua puluh satu, pemimpin Irlandia baik dalam bisnis maupun politik merupakan orang yang berpikiran maju dan menggunakan prosedur pemikiran terbuka.

Ruang dan Waktu

Ruang kenyamanan di Irlandia masih kurang dibandingkan dengan Inggris. Keramah-tamahan dan beberapa tahap perilaku taktis merupakan hal yang sudah umum. Orang Irlandia rileks dengan waktu, khususnya di daerah pedalaman. Kota Modern di Irlandia adalah sebagai menganut prinsip seperti orang Inggris.

FAKTOR-FAKTOR BUDAYA DALAM KOMUNIKASI

Pola Komunikasi

Orang Irlandia berbicara jauh lebih bersemangat dibandingkan dengan orang Inggris dan digambarkan sebagai ”orang yang berani mengemukakan pendapat”. Sikap keberanian ini seringkali membatasi ucapan yang berlebihan dan sebagai suatu hal untuk kebenaran. Akibatnya apa yang disebut orang Irlandia sebagai blarney dan harus digunakan pada saat melakukan percakapan dengan mereka. Keakraban informal setiap saat, orang Irlandia adalah sebagai improviser terbesar selama diskusi dan menggunakan keahlian mereka dengan memperlihatkan kesepakatan dan kepatuhan yang nyata. Mereka lebih bersikap puitis dan fiolosofis dalam berbicara dibandingkan dengan orang Inggris.

Kebiasaan Mendengar

Pada saat mendengar, orang Irlandia sangat sopan dan penuh perhatian dan jarang menimbulkan perbedaan pendapat secara terbuka. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk menghambat tetapi jarang dilakukannya. Umpan balik mereka cukup banyak, tetapi jarang menggunakan cara yang berliku-liku atau rumit.

Perilaku pada Saat Rapat dan Negosiasi

Pertemuan dengan orang Irlandia selalu akrab dan sopan tanpa kecuali, tetapi mereka sering menolak. Mereka bukan sebagai penganut agenda penting dan secara antusias menyimpang pada saat dihadapi dengan ide yang menarik. Ide yang memiliki kepastian dan lebih penting dari fakta yang ada. Orang Irlandia sangat teratrik dengan sesuatu yang abstrak, inovatif, dan teoritis. Disini mereka menyukai oang Perancis, meskipun kurang memiliki logika yang kuat. Karakteristik ini menyebabkan kecenderungan terhadap penundaan, pada saat mereka mempertimbangkan cara-cara baru dalam menjajaki masalah dan tugas-tugas. Selanjutnya hal ini membentuk suatu kreativitas, mereka bersikap non konvensional dan memiliki semangat bebas yang menentang struktur dan rutinitas. Orang Amerika Latin lebih mudah untuk mengakuinya dibandingkan orang Jerman, Inggris, Swedia dan Finlandia.

Bagaimana bersikap Empati dengan orang Irlandia.

Mereka bersikap akrab, sopan, dan ramah. Perlihatkan visi dan menggunakan imajinasi anda. Ceritakan mengenai kisah. Berfikir dalam bentuk keindahan dan estetika. Memfokuskan pada kesederhanaan. Jangan menyebut mereka orang Inggris atau memuji orang Inggris. Jangan bersikap kasar, tetapi mengakui sindiran mereka dengan lemah lembut. Jangan memperlihatkan sifat angkuh atau mengatur jarak pada mereka. Jangan mendasarkan pada fakta, dan jangan mencoba menarik benang terhadap apa yang anda anggap sebagai mata Centic yang sangat kasar.

MOTIVASI

KUNCI Memperlihatkan Keakraban, sopan, dan humor
Perasaan Abad-silang
• Orang Irlandia menyukai buah-buahan pada abad kedua puluh terakhir.
• Keraguan orang Inggris mengenai keterlibatan penuh EU mendukung orang Irlandia untuk berpatisipasi penuh.
• Mereka cemas untuk membuang keterbelakangan mereka sebelumnya.

Faktor-faktor Motivasi :
• Melakukan sesuai yang anda dapat lakukan.
• Memperlihatkan simpati terhadap masalah orang Irlandia sebelumnya.
• Ramah tamah
• Bersikap puitis, jika anda dapat melakukannya
• Bersikap humor bilamana anda dapat melakukannya.
• Memfokuskan pada toleransi
• Menerima sikap penundaan mereka.
• Meluruskan diri anda dengan ketertarikan mereka terhadap masalah abstrak dan teoritis.
• Mengakui inovasi dan kreativitas mereka.
• Mengakui sejarah mereka, faham Katholik dan kedudukan sebagai negara yang merdeka.

Lingkungan Bisnis Global – MaLiBu

Posted in Kuliah on November 9, 2009 by JonRS

Tantangan Manajemen Lintas Budaya

I. Lingkungan Bisnis Global

I.a. Globalism atau Globalisasi

Para Manajer diseluruh dunia pada abad ke 21 ini sedang menghadapi tantangan yang sangat berat , yaitu untuk mengoperasikan lingkungan bisnis yang terus berkembang , saling ketergantungan dan kompetitif. Siapa saja baik perusahaan nasional dan perusahaan multinasional yang ikut terjun dalam bisnis global harus menyesuaikan bisnis strateginya dan gaya manajemennya dengan tepat sesuai dengan tujuan negara dimana mereka akan melakukan operasinya, apakah itu merubah secara langsung semua kebijakan dan gaya bekerja perusahaan atau melalui semacam bentuk aliansi. Contoh konkret yang ada yaitu seperti yang dialami oleh perusahaan Finland yaitu Nokia. Tantangan yang sampai sekarang dihadapi oleh perusahaan multinasional tersebut termasuk dunia politik Negara yang tempat beroperasinya anak perusahaan, budaya, keamanan negara, dan perlindungan terhadap dunia teknologi. Selain itu kesempatan dan resiko dari pasar global terus meningkat membawa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam dunia bisnis global untuk bekerja secara bersama dan beroperasi secara komunitas.

Maka dengan bergabungnya perusahaan-perusahaan dengan tidak memandang batas benua , timbul masalah baru yaitu dibutuhkannya Manajemen Global. Yaitu sebuah proses merencanakan dan mengembangkan strategi-strategi perusahaan , merancang dan mendesain sistem operasi dan bekerja dengan orang disekeliling dunia untuk memastikan persaingan yang kompetitif dan menghasilkan keuntungan bersama. Kompetisi bisnis global pada saat ini telah berkembang ketingkat yang lebih sulit karena persaingan yang sangat ketat secara global. Kompetisi global dapat berkembang dengan pesat disebabkan oleh jaringan-jaringan yang mengikat Negara-negara, institusi , dan orang-orang yang sangat bergantung kepada perkembangan ekonomi bisnis global. Peranan kompetisi bisnis global terdorong karena fenomena dunia bisnis yang semakin tidak terbatas. Hampir semua perusahaan diseluruh dunia terkena imbas dari persaingan global. Semua perusahaan yang memproduksi sebuah barang sebagai kegiatan operasi bisnisnya, baik itu diluar negeri dan dalam negeri berpatokan kepada harga yang sangat bersaing yang berlaku didunia global atau yang ditetapkan oleh dunia global. Sangatlah penting bagi manajer untuk beroperasi di dunia pasar domestiknya, tetapi dengan hanya melakukan bisnis di dunia pasar domestik secara otomatis mereka telah menjadi manajer yang tertinggal oleh mayoritas manajer lainnya yang berkerja dengan lingkup yang lebih luas dan tidak terbatas yaitu pasar global. Maka karena itu agar tidak tertinggal oleh perkembangan bisnis global , manajer harus memiliki visi untuk masuk ke bisnis global. Dengan mempersiapkan diri mereka untuk meningkatkan kemampuan dan alat untuk mengelola lingkungan global. Perusahaan yang akan memasuki persaingan dunia bisnis global dan yang akan memperluas operasi bisnisnya , harus mengembangkan kader-kader top manajemennya, yang memiliki pengalaman mengoperasikan bisnis dan yang mengerti apa yang harus dilakukan untuk beroperasi di negara lain dan berkerja dengan orang yang berasal dari lain negara dan tentunya dengan budaya yang berbeda juga. Sebagai indikasi lain dari efek globalisasi , investasi asing telah berkembang tiga kali lebih cepat daripada hasil-hasil atau produksi barang-barang. The European Union (EU) telah bekerja sama dengan United States / Amerika untuk berbagi posisi sebagai negara yang memiliki investor terbanyak didunia. United Kingdom atau Inggris telah berlaku sebagai negara yang yang sangat aktif dalam me-merger dan meng-akuisisi perusahaan.

I.b. Regional Blok Perdagangan
– The TRIAD ( Eropa Barat , Asia dan Amerika Utara)
The European Union (EU)

Dengan jumlah 12 sampai 15 negara yang bergabung di Komunitas perdagangan Eropa. Secara sepakat mereka megadopsi mata uang dan kebijakan moneter yang umum. EU sebagai sebuah kesatuan yang tidak memiliki batas di bagian Eropa barat telah menjadi kenyataan. Dan berdasarkan negosiasi antar negara-negara Eropa barat pada tahun 2001, 13 member baru yang bergabung dengan EU. Dengan Euro sebagai mata uang yang umum dan dapat digunakan secara legal untuk perdagangan , bisnis didunia Eropa telah berubah. Manajer global menghadapi dua tantangan penting yang pertama adalah Strategi, yaitu bagaimana perusahaan yang berada diluar Negara Eropa dapat bekerja sama dengan kebijakan yang ditetapkan oleh EU. Tantangan yang kedua adalah budaya, yaitu bagaimana manajer perusahaan melakukan kerja sama dengan budaya dan tradisi yang beragam yang ada di pasar Eropa, contohnya seperti sifat-sifat karyawan yang berbeda dan berapa lama waktu yang digunakan dalam aktivitas bekerja berhubungan dengan kenyamanan bekerja.

Asia
Jepang dan 4 negara macan – Singapore , Hong Kong , Taiwan , dan Korea Selatan, dimana setiap Negara tersebut memiliki sumber daya yang sangat melimpah begitu juga dengan sumber daya manusianya. Pada tahun 1980an dan permulaan 1990 kekuatan dari ekonomi asia yang sangat bersaing dengan dunia global berasal dari Japan’s Kairetsu dan Korea’s Chaebol. Keduanya adalah konglomerat besar dalam keuangan yang terhubung secara grup dari beberapa perusahaan besar, yang memainkan peran penting di perekonomian Negara mereka. Japanese Kairetsus – Mitsubishi dan Toyota adalah kedua nama perusahaan besar yang sangat kuat yang mempengaruhi perekonomian di regional benua Asia. Namun seiring berkembangnya waktu, kesengsaraan atau krisis ekonomi yang dialami asia tenggara berangsur-angsur membaik karena efek dari angin segar perkembangan ekonomi yang disebabkan oleh negara-negara maju yang ada di Asia. Dan pada tahun 2001 Washington dan Tokyo memperbaharui kerja sama mereka dengan membuka pasar bisnis yang lebih terbuka bagi investor-investor asing.
NAFTA
Tujuan dari NAFTA antara Amerika, Canada, dan Mexico adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat ,lebih banyak tersedianya lapangan kerja, kondisi kerja yang lebih baik, dan lingkungan perdangangan yang lebih menguntungkan . Dengan hasil berkembangnya export dan perdagangan, blok ini memiliki 360 juta konsumen dan mempunyai potensi untuk memperluas perdagangan hingga ke daerah amerika selatan, dan menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian di regional Negara Amerika utara.

I.c. Regional Lain didunia
Central dan Eropa Timur
Adalah area yang benar–benar merasakan efek dari perkembangan ekonomi didunia bisnis global , dimana sistem komunisme lama telah terbukti tidak lagi efektif untuk digunakan sebagai sistem ekonomi. Perhatian dunia kini tertuju kepada sebuah pasar baru yang terdapat 430 juta orang yang dapat dikategorikan sebagai orang yang berpenghasilan kecil.
China

September 2001 China telah memenuhi tujuannya untuk menjadi salah satu member dari WTO (World Trade Organization). Tujuan China menjadi salah satu member tersebut adalah untuk mendominasi kegiatan ekonomi seperti import dan meningkatkan export mereka .Tarif masuk yang lebih murah akan membuat produk asing lebih terjangkau harganya bagi masyarakat Chinese.

Negara yang kurang berkembang

Perubahan di Negara yang dapat dikategorikan (Less Developed Countries) LDCs secara perlahan-lahan membaik. Sebagaimana mereka berjuang dengan tingkat GNP yang rendah pendapatan perkapita yang rendah, dan beban besar, dan populasi yang kurang memiliki keahlian khusus dan jumlah hutang luar negeri yang besar. Keadaan ekonomi mereka yang kurang kondusif dan seringkali tidak dapat menerima keterlibatan pemerintah sehingga mengecilkan investasi asing yang sebenarnya diperlukan oleh mereka.

I.d. Teknologi Informasi

Perkembangan Teknologi Informasi merupakan sebab dan dampak dari globalisasi di dunia. Konsumen didunia menjadi lebih tertarik dengan beberapa media, karena mereka dapat melihat bagaimana orang hidup di Negara lain. Perkembangan dari pasar secara global men-transformasikan atau merubah para manajer untuk selalu terus mengikuti perkembangan teknologi sehingga membuat tidak ada batasan bagi manajer , karena informasi tidak dikendalikan oleh pemerintah, politik, ekonomi, pasar dan informasi yang berkaitan dengan persaingan dapat dengan mudah diakses oleh siapapun diseluruh dunia tanpa batas negara, benua, dan waktu.

I.e. Workforce Diversity / keanekaragam tanaga kerja

Beberapa negara diseluruh dunia, keanekaragaman kerja berkembang menjadi sangat cepat dan menjadi sangat beragam karena batasan-batasan politik yang kaku, dan padatnya transportasi manusia, dan cepatnya sebuah informasi dapat beredar keseluruh dunia. Faktor lain yang dapat meningkatkan tenaga kerja dapat beragam adalah, meningkatnya para pekerja yang bekerja diluar negaranya dalam segala tingkatannya , meningkatnya rata-rata umum tenaga kerja dan bertambahnya jumlah tenaga kerja wanita dengan jenjang pendidikan dan kualitas yang lebih tinggi.

I.f. The Global Manager Role / peran manajer

Lingkungan bisnis sangat berpengaruh terhadap peranan manajer . Para manajer harus menyesuaikan dengan lingkungan yang dinamis, karena aturan dari manajer secara global telah diatur oleh masing-masing negara (politik, ekonomi, status teknologi, keuntungan-keuntungan perusahaan dan serta norma budaya yang dianut). Mereka harus dapat mengantisipasi hal-hal yang berpengaruh buruk terhadap perusahaannya dan manajer global membuat kebijakan serta mengembangkan strategi yang cocok dengan keadaan tersebut.

2. Lingkungan Politik dan Lingkungan Ekonomi

2.a. Politik dan Lingkungan Ekonomi

Aspek penting disini adalah lingkungan politik dan fenomena etnis, sebuah faktor yang mendorong ketidakstabilan politik diseluruh dunia. Secara fakta banyak terjadinya konflik dan kerusuhan akibat adanya perbedaan pendapat dalam alam politik, dan ini membuat perbedaan dan perpecahan antara suku, etnis, agama dan grup atau ormas-ormas tertentu. Seringkali faktor agamalah yang membuat timbulnya perbedaan tersebut. Manajer harus mengerti bagaimana cara untuk mengelola karyawan dengan memperhatikan isu-isu etnis, suku, dan agama dalam rangka untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya konflik dan masalah-masalah internal perusahaan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan situasi.

2.b. Resiko Politik

Manajer global dari sebuah perusahaan global dan multnasional harus dapat menganalisa dan menginvestigasi resiko politik negara dimana perusahaan tersebut akan beroperasi, dan bagaimana akibat dan efek dari resiko terhadap perekonomian, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesuksesan perusahaan. Resiko Politik biasanya berupa kegiatan pemerintah atau secara politik sebuah peristiwa yang dapat mengakibatkan efek yang berjangka panjang terhadap keuntungan dan profitabilitas perusahaan.

Peristiwa-peristiwa resiko politik yang sering terjadi pada saat ini adalah :
1. Perampasan aset-aset perusahaan tanpa kompensasi.
2. Memaksa penjualan aset warga negara tuan rumah, biasanya pada atau di bawah nilai buku atau dibawah harga yang wajar.
3. Diskriminatif terhadap perusahaan asing dalam penerapan peraturan atau undang-undang.
4. Hambatan untuk dana repatriasi.
5. Kerugian yang bersifat teknologi atau kekayaan intelektual lainnya seperti paten, merek dagang, atau nama produk.
6. Terjadinya intervensi pada saat pengambilan keputusan manajerial.
7. Ketidakjujuran yang dilakukan oleh aparat pemerintah terutama dalam pembatalan atau perubahan persetujuan/perjanjian.

2.c. Menilai Resiko Politik

Perusahaan internasional harus melakukan sebuah bentuk penilaian terhadap resiko politik untuk dapat mengelola dan memaparkan akibat dan efek dari resiko tersebut terhadap perusahaan dan untuk meminimalisir kerugian finansial. Biasanya manajer lokal disetiap negara menilai potensi dari isu-isu yang dapat mempengaruhi kestabilan perusahaan dan mengevaluasi dampaknya bagi masa depan perusahaan. Penilaian resiko oleh perusahaan multinasional biasanya terdiri dari dua cara, yaitu melalui jasa ahli-ahli seperti konsultan yang sudah familiar dengan kondisi negara tempat perusahaan beroperasi dan dapat menjalankan usahanya.
Penggunaan konsultan dan pengamat perusahaan dalam menilai resiko politik adalah untuk mengevaluasi perkembangan-perkembangan penting yang dapat mempengaruhi perusahaan, seperti perubahan yang terjadi pada dunia politik dan pertentangan dari beberapa partai politik. Dan para konsultan akan membuat beberapa skenario khusus untuk alternatif perusahaan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Cara yang kedua adalah dengan cara menggunakan staff internal mereka.

2.d. Mengelola Resiko Politik

Setelah menilai potensi dari resiko politik baik itu penanaman saham atau mempertahankan operasi yang sedang berjalan dalam sebuah negara, manajer biasanya mengalami kesulitan bagaimana cara mengelola resiko tersebut. Dalam suatu tingkatan manajer dapat memilih untuk menangguhkan perjanjian perusahaan mereka dengan beberapa negara, atau dapat juga dengan menghindari investasi yang tidak menguntungkan. Dalam tingkatan lain apabila resiko yang dihadapi tidak terlalu tinggi maka perusahaan dapat mengambil tindakan yang sesuai dengan menghadapi resiko tersebut. Mereka dapat memilih apakah mereka akan memulai bisnis baru tersebut , atau tetap mempertahankan bisnis yang lama. Dan untuk berurusan dengan resiko tersebut perusahaan dapat beradaptasi dengan regulasi dan situasi politik. Arti dari beradaptasi disini adalah seperti yang ditegaskan oleh Taoka dan Beeman yaitu;

– Pembagian Aset
– Manajemen yang partisipatif
– Lokalisasi operasi
– Bantuan pembangunan

Dalam rangka menghindar dari resiko dan beradaptasi, dua alternatif lain bagi manajer untuk mengelola resiko politik adalah ketergantungan. Yang berarti manajer pada waktu tertentu harus dapat mempertahankan ketergantungan dari perusahaan dan bantuan dari negara asing, Yang dapat dijabarkan sebagai berikut;

– Pengendalian input
– Pengandalian pasar
– Pengendalian posisi
– Strategi kontribusi
Pada akhirnya apabila perusahaan tidak dapat meminimalisir atau tidak dapat mengambil keputusan seiring dengan perubahan situasi politik, paling tidak perusahaan dapat mengantisipasinya dengan mempagari, arti dari mempagari tersebut adalah;
– Asuransi Resiko Politik
– Pembiayaan hutang lokal

2.e. Mengelola Resiko Terorisme

Terorisme telah menjadi masalah yang sangat kompleks diseluruh dunia, dan bukan lagi permasalahan yang dapat dianggap sepele, karena dapat berdampak sangat buruk bagi perekonomian dan stabilitas negara. Untuk mengelola masalah ini perusahaan seperti IBM dan Exxon berupaya untuk mengembangkan pandangan yang baik bagi negara yang berpotensi dengan kegiatan terorisme yang tinggi. Mereka berusaha untuk tetap low profiles dan meminimalisir ketenaran publiknya dengan cara menggunakan image perusahaan yang bagus pada situs perusahaannya dan sesuai dengan situasi dan kondisi negara tempat mereka beroperasi. Bahkan beberapa perusahaan bekerja sama untuk memonitor bagaimana perkembangan pergerakan terorisme diseluruh dunia.

2.f. Resiko Ekonomi

Yang paling berhubungan dengan stabilitas politik negara adalah lingkungan perekonomiannya dan resiko yang relatif dapat mempengaruhi perusahaan asing, yang memegang peran penting dalam perkonomian suatu negara. Kemampuan sebuah negara untuk memenuhi kewajiban keungannya atau finansialnya ditentukan oleh situasi resiko ekonominya. Resiko ekonomi yang dikeluarkan oleh perusahaan asing biasanya terbagi menjadi dua kategori yaitu :

1. Apabila pemerintah secara mendadak merubah kebijakan moneter domestik dan kebijakan fiskal.
2. Apabila pemerintah secara mendadak memilih untuk merancang ulang kebijakan investasi asingnya

Ada empat metode yang digunakan untuk menganalisa resiko ekonomi, empat metode ini direkomendasikan oleh John Manthis seroang professor dan pengamat ekonomi yang telah melayani sebagai analis kebijakan keuangan pada World Bank/Bank dunia. Metode-metode tersebut adalah ;

– Pendekatan Kuantitatif – Mengukur secara statistik kemampuan sebuah negara untuk memenuhi kewajiban hutang luar negerinya
– Pendekatan Kualitatif – Mengevaluasi resiko ekonomi sebuah negara dengan menilai kompetensi dari pemimpin negara tersebut dan menganalisa tipe kebijakan negara yang mereka implementasikan.

3. Lingkungan Teknologi

Efek dari perkembangan teknologi sangatlah besar bagi dunia, baik dalam segi bisnis dan kehidupan pribadi. Sekarang kita berada pada masa informasi global , sangatlah jelas bagi perusahaan untuk melibatkan teknologi kedalam sebuah rencana strategi mereka dan operasi mereka dari hari kehari.

3.a. Global E-Business

Internet adalah cara termudah, termurah, dan tercepat bagi perusahaan untuk mendapatkan informasi dan berbagi informasi dengan perusahaan lain atau supplier mereka. Internet juga digunakan sebagai alat pemasaran langsung oleh perusahaan, untuk memasarkan produk mereka keseluruh dunia dengan tanpa memikirkan faktor batasan negara dan waktu, E-Business adalah sebuah sistem yang telah terintegrasi dan digunakan diseluruh dunia dan setiap pasar sudah menggunakan basis internet. Sebagai contoh adalah E-Commerce, yaitu sistem pemasaran secara langsung dan penjualan secara langsung. Perusahaan menggunakan E-Business untuk menambah hubungan dengan partner baru dan juga menggunakannya untuk mempertahankan hubungan dengan partner perusahaan yang lama. Keuntungan dari menggunakan E-Business adalah sebagai berikut :

– Kenyamanan dalam melakukan bisnis secara global, dan tersedianya fasilitas komunikasi.
– Electronic meeting seperti Teleconference sangat memudahkan, daripada harus terbang menggunakan pesawat keluar negeri yang memakan biaya membuang-buang waktu.
– Tersedianya layanan intranet ,berguna untuk menggabungkan, dan mengedit informasi baik itu internal atau informasi external.
– Akses yang tidak terbatas bagi konsumen dan calon konsumen untuk mendapatkan informasi mengenai produk.
– Sebuah jaringan yang efisien untuk distribusi.

Kesimpulan

Seorang manajer global yang telah terlatih pun tidak dapat mengembangkan strategi dan mengkonfirmasi sebuah investasi dari pihak asing , tanpa melihat tantangan dan menilai aspek-aspek lingkungan politik dan lingkungan negara, dan lingkungan teknologi. Manajer global dan manajer negara tuan rumah harus dapat melihat bagaimana lingkungan negara tempat perusahaan beroperasi dapat memberikan keuntungan kepada perusahaan dan bagaimana dampak dari resiko-resiko dalam bisnis global dapat berpengaruh kepada operasi perusahaan.

Proposal Metodologi Penelitian

Posted in Kuliah on October 25, 2009 by JonRS

BAB  I

I a.       LATAR BELAKANG

Kesuksesan tim kerja dari setiap perusahaan tergantung kepada kesuksesan sumber-sumber daya manajemen dalam menjalani suatu proyek , terutama seorang manajer proyek sebagai pemimpin atau moderator  dalam pelaksanaan sebuah proyek yang sedang ditempuh oleh perusahaan. Peran seorang manajer proyek sangat penting dalam  mensukseskan suatu tim kerja, sebagai orang yang memberikan motivasi kepada anggota atau staf tim kerjanya  ,manajer  proyek  akan selalu mencari cara bagaimana cara memotivasi anggota/staf dalam tim kerja.

(PMI- Project Manager Institute, 2004) menekankan bahwa keahlian komunikasi seorang  proyek manajer  yang dibutuhkan untuk memotivasi tim kerja adalah suatu aset penting bagi seorang manajer proyek. Apakah tim kerja sudah termotivasi untuk mencapai target proyek. Ide dari memotivasi tim kerja dalam sebuah proyek dapat menjadi suatu hal yang umum ,  tetapi dapat berbeda bagi seorang manajer proyek , karena tidak mudah bagi seorang manajer proyek untuk  mengerti , sebab persepsi dan definisi dari motivasi dapat berbeda-beda bagi setiap orang.

Kemampuan seorang manajer proyek untuk bekerja dengan sebuah tim kerja dan meraih target sebuah proyek adalah suatu hal yang  penting untuk menyukseskan organisasi. Kesuksesan sebuah proyek manajemen lebih dari sekedar bekerja dengan umum , karena membutuhkan  sebuah tim kerja yang solid termasuk proyek manajer dan anggota tim kerjanya. Sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan bagi seorang proyek manajer pada saat memoderatori suatu tim kerja ,sebagai contoh ,“bagaimana saya memotivasi tim kerja ini?”. Menariknya pertanyaan yang timbul dipikiran seorang proyek manajer tersebut dapat menjadi langkah awal yang kurang tepat. Karena berdasarkan studi yang telah  mensurvei ratusan ribu karyawan dalam puluhan organisasi menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut dapat menurunkan  produktifitas (Sirota, Mischkind & Meltzer , 2005). Berdasarkan  hasil studi tersebut, kebanyakan orang masuk kedalam  sebuah organisasi baru dan bekerja dengan antusias mencari tantangan ,  daripada merasa bangga memberikan kontribusi kepada perusahaan tetapi menjalankan pekerjaan yang membosankan.

I b.       RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasikan Bahwa terdapat dua variable yang dapat dapat ditarik menjadi sebuah pertanyaan yang dapat diuji yaitu, sebagai berikut :

“Apakah ada hubungan  antara kinerja manajer proyek  dengan  kesuksesan/kinerja  tim kerja ?”.

I c.       TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis sejalan dengan masalah yang telah dirumuskan dan berdasarkan latar belakang yang tertera tersebut di atas, yaitu :

–          Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kinerja seorang proyek manajer dengan kesuksesan/kinerja tim kerja.

I d.      MANFAAT PENELITIAN

a. Bagi Penulis

Menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai kegiatan-kegiatan kerja sebuah tim kerja yang tidak lepas dari peranan seorang manajer proyek. Apakah dan seberapa besar pengaruh kinerja seorang manajer dengan kesuksesan sebuah tim kerja. Dan juga sejauh mana ketergantungan kinerja sebuah tim kerja dengan kinerja manajer yang memimpin tim kerja tersebut. Serta sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi agar meraih gelar Strata 1 (S1) di Universitas Trisakti Fakultas Manajemen.

b. Bagi perusahaan / organisasi

Memberikan masukan-masukan pada perusahaan yang pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah dalam meningkatkan kinerja sebuah tim kerja dan meningkatkan kinerja manajer proyek. Hasil penelitian dapat digunakan oleh Manajer Sumber daya Manusia sebuah perusahaan atau organisasi untuk mengambil keputusan-keputusan manajerial yang mencakup korelasi / hubungan antara kinerja proyek manajer dengan kesuksesan/kinerja tim kerja.

c. Bagi lembaga dan Masyarakat

Hasil dari penelitian dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai calon peneliti atau para peneliti lain sebagai bahan acuan dan menambah bahan bacaan dari penelitian yang akan mereka teliti.

BAB II

II a.      TINJAUAN PUSTAKA

Referensi Kinerja Proyek Manajer

  1. Jonathan C Lee; David McCalman. Sep 2008, Japanese Management Approaches: The Fit for Project Management ; International Journal of Management ; 25, 3; ABI/INFORM Global pg. 584.
  2. Kenneth H Rose. Mar 2008, Construction Extension to the PMBOK® Guide-Third Edition ; Project Management Journal ; 39, 1; ABI/INFORM Global pg. 98.
  3. Shlomo Globerson; Ofer Zwikael. Sep 2002, The impact of the project manager on project management planning processes ; Project Management Journal ; 33, 3; ABI/INFORM Global pg. 58.
  4. Mark T Chen. Mar 1997, The modern project manager ; Cost Engineering ; 39, 3; ABI/INFORM Global pg. 27.
  5. Cash, Charles H.; Fox, Robert, II. Sep 1992 , Elements of Successful Project Management ;  Journal of Systems Management ; 43, 9; ABI/INFORM Global pg. 10.

Referensi Kesuksesan/Kinerja Tim Keja

  1. Yuan-Duen Lee; Huan-Ming Chang. Dec 2008, Relations between Team Work and Innovation in Organizations and the Job Satisfaction of Employees ; International Journal of Management ; 25, 4; ABI/INFORM Global pg. 732.
  2. William I Norton; Lyle Sussman. 2009, Team Charters: Theoretical Foundations and Practical Implications for Quality and Performance ; The Quality Management Journal ; 16, 1; ABI/INFORM Global pg. 7.
  3. Anthony R Montebello. Summer 2003, When Teams Work Best Personnel Psychology ; 56, 2; ABI/INFORM Global

pg. 514.

  1. Susan Adams; Leda Kydoniefs. Jan 2000, Making teams work Quality Progress ; 33, 1; ABI/INFORM Global pg. 43.
  2. Hans Doorewaard; Geert Van Hootegem; Rik Huys. 2002, Team responsibility structure and team performance ; Personnel Review ; 31, 3; ABI/INFORM Global pg. 356

II b.     RERANGKA KONSEPTUAL

Kinerja proyek manajer, sebagai variable bebas, mempengaruhi variable terikat yaitu kesuksesan dan kinerja tim kerja. Semakin baik kinerja seorang proyek manajer ,maka akan semakin besar peluang untuk meraih kesuksesan tim kerja. Karena proyek manajer sebagai pimpinan dan orang yang memoderatori sebuah tim atau kelompok kerja mempunyai peran penting dalam kesuksesan sebuah proyek. Sebagai contoh peran seorang proyek manajer  yang mempengaruhi langsung kinerja sebuah tim kerja adalah , manajer proyek sebagai orang yang mengkomunikasikan informasi antara anggota tim kerja, selain itu manajer proyek juga  sebagai orang yang menunjukan arah kemana tim kerja ini akan dibawa apakah itu kesuksesan atau kegagalan, hal tersebut tergantung kepada kesuksesan dan kinerja seorang manajer  proye. Kemudian manajer proyek  juga  bertugas  mengumpulkan data dari berbagai sumber daya , yang dimana data yang dikumpulkan tersebut digunakan   untuk   mengambil keputusan manajerial untuk kesuksesan sebuah proyek yang sedang dilaksanakan oleh tim kerja.

Dengan melihat hubungan yang saling mempengaruhi antara kedua variable  tersebut , maka dapat ditarik sebuah diagram skematis yaitu ,

  • Diagram Skematis untuk kerangka teoritis yang terdiri dari dua variable.

Kesuksesan/Kinerja Tim Kerja — Variabel Bebas (Independent Variable)

Kinerja Manajer Proyek — Variabel Terikat (Dependent Variable)

               

II c.     PENGEMBANGAN HIPOTESA

Motivasi yang diberikan oleh manajer proyek secara langsung berpengaruh terhadap kinerja sebuah tim kerja. Terutama dalam menyelesaikan sebuah proyek , kekompakan kerja sebuah tim kerja yang dikendalikan dan diarahkan oleh manajer proyek, manajer proyek menentukan kesuksesan tim kerja tersebut. Ada hubungan yang signifikan antara perilaku anggota-anggota tim kerja dengan kesuksesan dan keberhasilan tim kerja tersebut (Ntayi, 2005). Kepemimpinan yang ditampilkan oleh seorang manajer proyek dapat mencerminkan kinerjanya dalam menangani sebuah tim kerja didalam proyek yang sedang dijalaninya. Gaya kepemimpinan yang partisipatif adalah kepemimpinan yang melayani tim-nya, agar anggota tim kerja dapat melihat nilai dari keterlibatan mereka dalam proyek tersebut (Leary-Joyce, 2004). Dengan mendapatkan arah yang jelas maka anngota tim kerja akan dapat mengetahui bagaimana cara bekerja yang efektif dan merasakan tantangan yang semakin menggairahkan. Sehingga secara otomatis anggota-anggota tim kerja akan merasakan termotivasi dan dapat meningkatkan kinerja mereka. (Frey, 1997),menjelaskan bahwa di dalam sebuah grup yang tertutup contohnnya seperti tim kerja sementara, motivasi yang besar dari salah satu anggotanya dapat mempengaruhi anggota lainnya dalam grup tersebut. Motivasi tersebut yang harus dimiliki oleh seorang manajer proyek sebagai pimpinan proyek, agar dapat berhasil membuat tim kerja yang sukses.

Hipotesis :

Hipotesis adalah dugaan sementara hasil penelitian yang perlu diuji kebenarannya. Maka dari hubungan antara variabel – variable yang terdapat di rerangka konseptual dan beberapa uraian dalam pengembangan hipotesa, dapat ditarik sebuah hipotesa yaitu :

H1 : Ada hubungan antara kinerja manajer proyek dengan kesuksesan / kinerja  tim kerja.

BAB III

III a.    RISET DESAIN

  1. Tujuan Penelitian

Studi dan penelitian  dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variable , independen dan dependen. Indepedensi antara dua variable yang bersifat kualitatif ini dilakukan dengan pengujian hipotesis. Maka karena itu dengan kata lain studi ini dilakukan untuk menguji korelasi atau hubungan antara dua variable yang diantaranya kinerja manajer proyek sebagai variable bebas, dengan kesuksesan / kinerja tim kerja sebagai variable terikat yang termasuk dalam sebuah hipotesis. Dalam hal ini peneliti akan mencari hubungan antara peran dan kinerja seorang manajer proyek dengan kesuksesan tim kerja. Dalam persaingan global antar perusahaan, sebuah tim kerja yang efektif dan kompak sangatlah dibutuhkan agar dapat menyelesaikan sebuah proyek. Peran seorang manajer proyek tidak lepas dari memberikan motivasi kepada para anggota tim kerjanya, demi kelangsungan dan menyukseskan sebuah proyek.

  1. Jenis Investigasi

Berdasarkan tujuan dari penelitian ini, untuk mencari korelasi/hubungan antara kinerja manajer proyek dengan kesuksesan/kinerja tim kerja. Kedua variable tersebut dianggap memiliki hubungan, maka karena itu untuk menemukan hubungan kedua variable tersebut perlu digunakan studi korelasional (Correlational Study)

.

  1. Unit Analisa

Untuk dapat mengetahui hubungan antara kedua variable yakni kinerja manajer proyek dengan kesuksesan/kinerja tim kerja unit analisis akan dilakukan per individu.

Karena manajer proyek sebagai individu diperkirakan mempengaruhi para anggota tim kerja. Maka karena itu unit analisis adalah Individu.

  1. Data yang digunakan (Horizon Waktu)

Data akan dikumpulkan selama periodik, dan termasuk dalam studi longitudinal. Dengan melihat perkembangan kinerja tim kerja apakah dipengaruhi oleh manajer proyek, sebagai contoh data akan diambil lebih dari satu batas waktu. Kinerja seorang manajer proyek akan dilihat apakah berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan tim kerja dalam sebuah proyek. Dengan mempelajari dan melihat perkembangan perilaku anggota tim kerja pada suatu periode, dan mempelajari bagaimana hubungannya dengan kinerja manajer proyeknya selaku pimpinan tim kerja dalam suatu proyek.

III b.    PENGUKURAN VARIABEL

a. Hipotesis

H1 : Ada hubungan antara kinerja manajer proyek dengan kesuksesan/kinerja

tim kerja.

b. Variabel Diukur

Kinerja Manajer Proyek

Untuk mengumpulkan informasi tersebut, beberapa bagian kuesioner dibuat dan di kembangkan yang terdiri dari beberapa pertanyaan dalam format skala Likert , pertanyaan dengan jawaban pilihan berganda. Pengukuran yang spesifik dan beberapa item yang terpilih dan digunakan untuk mengukur kinerja manajer proyek adalah sebagai berikut,

–          The Dimension of Novelty : Seven of the “Openness to experiences” item in the big 5 factors of personality (Costa & McGrae, 1992).

–          The Dimension of Pace : Eleven items that measures aspects of type of behaviour pattern, based on (Friedmen & Rosenman’s, 1974).

–          The Dimension of Uncertainty : Risk – taking tendencies were choosen for assessing project managers’s attitude toward uncertainty, based on The Choice Dillema Questionnaire (Wallach, Kogan & Bem, 1964)

–          The Dimension of Complexity : Two measures addressed this dimension : the “inventor” personality type in (Jung’s, 1990) typology and the investigative and enterprising personality types according to (Holland’s, 1997) classification of vocational personalities

Kesuksesan/kinerja tim kerja.

Untuk mengukur variable tersebut digunakan kuesioner dengan format skala Likert (Ananya RajaGopal, Team Performance Management.2008). Yang terdiri dari beberapa pertanyaan tentang.

– Leadership (skala 1 = Tidak sama sekali ; 7 = Ya )

– Time Task Synchronization (skala 1 = sangat lemah ; 5 = sangat bagus)

Task Distribution (skala 1 = sangat tidak puas ; 7 = sangat puas)

– Team Coordination (skala 1 = sangat kurang ; 7 = sangat bagus )

– Professional Development (skala 1 = sangat kurang ; 5 = sangat bagus)

III c.    METODE PENGUMPULAN DATA

Adapun cara untuk untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut :

–           Angket/Questioner.

Kuesioner merupakan alat pengumpulan data yang diajukan pada responden secara tertulis. Dengan menggunakan kuesioner data yang dapat dikumpulkan tersebut di jabarkan dalam bentuk pertanyaan tertulis dengan tipe kuesioner tertutup, yang artinya sudah tersedia jawabannya, sehingga responden dapat langsung memilih jawaban yang mewakili mereka. Angket akan disebarkan kepada para responden yang dipilih secara acak. Responden yang dipilih diusahakan mewakili seluruh populasi dan identitas responden dari segala segi, baik itu jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan faktor – faktor lainnya yang dianggap memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil penelitian.

–           Sampel.

Data dikumpulkan dengan cara mengambil sampel secara acak atau  dengan kata lain disebut sampling. Sampel penelitian meliputi sejumlah elemen (responden) yang jumlahnya banyak, dalam buku (J. Supranto, 2006: 239) dimana semakin besar sample (makin besar nilai n = banyaknya elemen sample) akan memberikan hasil yang lebih akurat.

III d. ANALISIS DATA

a. Hipotesis nol dan alternatif

H0 : Tidak ada hubungan antara kinerja manajer proyek dengan kesuksesan/kinerja

tim kerja.

H1 :  Ada hubungan antara kinerja manajer proyek dengan kesuksesan/kinerja

tim kerja.

b. Alat analisa dan Tehnik analisa

Analisis regresi linear sederhana merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara dua variable atau lebih. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis regresi linear sederhana karena, variabel yang diteliti hanya terdiri dari dua variable (satu variabel bebas dan satu variabel terikat). Penulisan analisis regresi linear sederhana bertujuan untuk mengetahui sejauh mana variabel X yaitu kinerja manajer proyek mempengaruhi variabel Y yaitu kesuksesan/kinerja tim kerja.

c. Tingkat Signifikansi yang diharapkan

Pada penelitian ini penulis belum terlalu ahli dalam mempastikan tingkat kesalahan yang rendah,karena keterbatasan yang saat ini dimiliki oleh peneliti masih pada tingkatan mahasiswa, maka karena itu tingkat signifikansi yang diinginkan adalah

(ρ = 0,05).

d. Memastikan jika hasil dari analisis komputer menunjukan bahwa tingkat signifikansi terpenuhi.

e. Membandingkan nilai ρ dengan nilai α / Pengambilan keputusan

Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak

Jika thitung < ttabel maka H0 diterima

atau

Jika sig dari r < 0,05 maka Ho ditolak

Jika sig dari r > 0,05 maka Ho diterima

Kuesioner Metodologi Penelitian

Posted in Kuliah on October 25, 2009 by JonRS

Senin, 22 Juni 2009

Partisipan yang terhormat,

Kuesioner ini didesain untuk mempelajari kinerja manajer proyek yang menangani beberapa proyek dalam perusahaan. Informasi yang anda berikan akan membantu kami untuk memahami dengan lebih baik kualitas kerja manajer dalam kehidupan dunia kerja kita. Karena anda adalah pihak yang satu-satunya dapat memberikan kami gambaran yang benar tentang bagaimana anda bekerja dengan manajer, dalam sebuah proyek dan kerja, saya sebagai peneliti meminta anda untuk merespons pertanyaan secara terbuka dan jujur.

Respons anda akan dijaga kerahasiannya. Hanya para peneliti yang akan memiliki akses pada informasi yang anda berikan. Untuk memastikan privasi sepenuhnya, saya sebagai peneliti akan sangat menghargai data privasi anda sebagai responden kami. Nomor, nama, atau kuesioner yang telah diisi tidak akan diserahkan kepada siapapun diluar tim penelitian.

Terima kasih atas waktu dan kerja sama Anda. Saya sangat menghargai bantuan organisasi dan anda, sebagai responden yang kami hargai dalam memperlancar usaha penelitian ini.

Salam hangat,

(ttd.)

Jonas Randitya

Mahasiswa Universitas Trisakti

Pertanyaan di bawah ini menanyakan tentang bagaimana anda mengalami kehidupan kerja anda bersama tim kerja yang dipimpin oleh seorang manajer dalam sebuah proyek. Pikirkan dalam kaitan dengan pengalaman dan prestasi kerja Anda di sisi tiap item dengan menggunakan skala dibawah ini. Berikan tanda silang ( X ) kepada jawaban yang anda pilih.

I. Kinerja Manajer Proyek

Untuk mengukur kinerja manajer proyek digunakan 6 pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan hal terbuka dengan mencoba hal-hal baru “openness to experience”,The dimension of novelty(Costa & McCrae, 1992).


1 = Sangat Tidak Setuju           4 = Agak Setuju

2 = Tidak Setuju                       5 = Setuju

3 = Agak Tidak Setuju             6 = Sangat Setuju

1. Saya lebih memilih bekerja secara tim dibandingkan individual. 1 2 3 4 5 6
2. Saya akan berusaha untuk memulai diskusi dengan orang lain apabila  mengalami masalah yang belum saya mengerti. 1 2 3 4 5 6
3. Ketertarikan saya akan segala hal membuat saya termotivasi untuk meningkatkan kinerja saya. 1 2 3 4 5 6
4. Saya memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang lain sehingga saya tidak ragu untuk memberikan ide saya dalam sebuah diskusi. 1 2 3 4 5 6
5. Saya selalu merasa tertarik untuk mencoba suatu hal yang benar-benar berbeda dengan bidang yang saya tekuni. 1 2 3 4 5 6
6. Saya lebih suka mengahabiskan waktu didalam lingkungan yang familiar dengan saya dibandingkan menghabiskan waktu dengan lingkungan yang berbeda. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kinerja manajer proyek digunakan 11 pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan hal tipe-tipe perilaku , “Type a behaviour pattern”,The Dimension of Pace(Friedman and Rosenman’s book, 1974).


1 = Sangat Jarang          4 = Agak Sering

2 = Jarang                      5 = Sering

3 = Agak Jarang            6 = Sangat Sering

1. Saya mengerjakan sesuatu yang lebih penting terdahulu sebelum hal-hal lainnya. 1 2 3 4 5 6
2. Dalam bekerja saya mengerjakan hal-hal yang saya suka terdahulu dibandingkan dengan hal yang tidak saya suka. 1 2 3 4 5 6
3. Saya mengerjakan banyak hal sekaligus dibandingkan mengerjakannya satu per satu. 1 2 3 4 5 6
4. Saya  mengerjakan beberapa aktivitas  dan berusaha untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat. 1 2 3 4 5 6
5. Saya berpikir tentang banyak hal dalam satu waktu. 1 2 3 4 5 6
6. Saya mendengarkan saran dari orang lain dan membandingkannya dengan sudut pandang saya. 1 2 3 4 5 6
7. Saya merasa cepat bosan dan marah apabila terlibat dalam antrian yang panjang. 1 2 3 4 5 6
8. Saya merasa geram dengan suatu hal yang bekerja dengan sangat lamban. 1 2 3 4 5 6
9. Saya merasa ingin membantu apabila melihat teman yang bekerja menghadapi masalah. 1 2 3 4 5 6
10. Apabila seorang teman saya  bekerja sangat lamban saya memilih untuk menegurnya dan menasehatinya karena merasakan geram. 1 2 3 4 5 6
11. Saya berusaha menghormati perasaan orang lain dan berusaha mendengarkannya walaupun  saat itu sedang saya bantu. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kinerja manajer proyek digunakan 15 pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan hal terbuka dengan “Managerial and Entrepreneurial traits”(Pines et al. 2002).


1 = Sangat Jarang          4 = Agak Sering

2 = Jarang                      5 = Sering

3 = Agak Jarang            6 = Sangat Sering

I. 8 items Characterizing Entrepreneurs , love of challenge, initiative, independence, tendency to dream,                      optimism,  creativity, risk taking, and rebelliousness.

1.  Walaupun sudah memiliki pekerjaan tetap saya  juga memiliki usaha lain untuk menambah  pendapatan pribadi saya. 1 2 3 4 5 6
2.  Dalam bekerja saya selalu mengambil posisi untuk terlibat dalam  pekerjaan yang penuh tantangan. 1 2 3 4 5 6
3.  Saya selalu berusaha menegur dan  menasehati  duluan apabila ada sesuatu yang perlu saya sampaikan. 1 2 3 4 5 6
4.  Saya tidak pernah ragu dalam menyampaikan argumen  saya walaupun berbeda pendapat dengan yang lainnya. 1 2 3 4 5 6
5.  Saya selalu memiliki pengharapan yang  positif  terhadap apa yang saya kerjakan. 1 2 3 4 5 6
6. Saya selalu bertegak pada pendirian saya tetapi tetap dalam batasan yang telah ditetapkan seperti peraturan dalam kantor. 1 2 3 4 5 6
7. Saya berani mengambil pekerjaan baru walaupun itu memiliki resiko. 1 2 3 4 5 6
8.  Saya berusaha sebaik mungkin untuk memberikan solusi yang inovatif dan berbeda apabila terlibat dalam sebuah diskusi. 1 2 3 4 5 6

II. 7 items characterizing manager such us commitment, involvement, persistence, need of control, love of management.

1. Mendisiplinkan diri dengan pekerjaan adalah misi saya sehari-hari dalam bekerja 1 2 3 4 5 6
2. Saya berusaha untuk dapat terlibat dalam setiap pekerjaan yang ada didalam bidang saya. 1 2 3 4 5 6
3. Kadang – kadang  perasaan untuk didengarkan oleh orang lain  keluar dari dalam diri saya. 1 2 3 4 5 6
4. Setiap perkerjaan yang saya kerjakan harus selesai dan terlihat presisi. 1 2 3 4 5 6
5. Mungkin saya akan tetap bekerja walaupun tidak digaji. 1 2 3 4 5 6
6. Pekerjaan saya adalah  sebagian  aktivitas  dari hidup saya. 1 2 3 4 5 6
7. Pada waktu tertentu saya mengambil posisi sebagai pengambil keputusan dari beberapa diskusi dengan orang lain. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kinerja manajer proyek digunakan beberapa pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan diri mereka (responden), “attachment teory and the measure of attachment styles”(Hazan and Shaver, 1987)


1 = Sangat tidak seperti saya         4 = Agak seperti saya

2 = Tidak seperti saya                   5 = Seperti saya

3 = Agak tidak seperti saya           6 = Sangat mencerminkan saya

1.  Sangat mudah untuk saya menjadi marah dan kesal apabila berada dikerumunan orang banyak. 1 2 3 4 5 6
2.  Saya merasa nyaman dengan bergantung kepada  keputusan orang lain, tanpa memberikan ide dari saya. 1 2 3 4 5 6
3.  Saya merasa nyaman apabila orang lain bergantung kepada keputusan yang saya ambil. 1 2 3 4 5 6
4.  Saya merasa nyaman dengan  membiarkan orang lain mengambil  keputusan, yang penting saya aman. 1 2 3 4 5 6
5.  Saya selalu menemukan masalah dalam hal memberikan kepercayaan kepada orang lain. 1 2 3 4 5 6
6. Saya merasakan tidak nyaman apabila menjadi terlalu dekat dengan orang lain karena alasan privasi. 1 2 3 4 5 6
7. Saya merasakan kurang percaya apabila akan meminta pertolongan orang lain. 1 2 3 4 5 6
8.  Saya selalu berpikir apakah orang merasakan nyaman berhubungan atau berkomunikasi dengan saya. 1 2 3 4 5 6

II. Kesuksesan/Kinerja tim kerja

Untuk mengukur kesuksesan/kinerja tim kerja digunakan beberapa pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan “leadership”,Team Performance Management vol.14 No.1/2 p.78(Ananya Rajagopal, 2008).


1 = Sangat tidak sama sekali         4 = Agak sering

2 = tidak sama sekali                     5 = Sering

3 = Agak tidak sama sekali           6 = Sangat sering

1.  Dalam sebuah tim kerja saya selalu ingin menjadi pemimpin. 1 2 3 4 5 6
2.  Bekerja dalam sebuah tim selalu membuat saya merasa nyaman. 1 2 3 4 5 6
3.  Saya merasakan dapat bekerja dalam sebuah tim yang  anggotanya memiliki motivasi tinggi. 1 2 3 4 5 6
4.  Apabila ditanya tentang  pendapat,  saya menempatkan diri saya sebagai pemimpin. 1 2 3 4 5 6
5.  Argumen yang saya sampaikan dalam diskusi sebuah tim selalu mewakili anggota tim lain. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kesuksesan/kinerja tim kerja digunakan beberapa pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan “Time Task synchronization”,Team Performance Management vol.14 No.1/2 p.78(Ananya Rajagopal, 2008).


1 = Sangat lamban        4 = Agak cepat

2 = Lamban                   5 = Cepat

3 = Agak lamban           6 = Sangat cepat

1.  Tim selalu bekerja dengan kurun waktu yang. 1 2 3 4 5 6
2.  Kemampuan tim kerja  saya bekerja dalam  mencapai  target. 1 2 3 4 5 6
3.  Kontribusi informasi diantara anggota tim kerja dapat tergolong dalam waktu yang. 1 2 3 4 5 6
4.  Kinerja tim kerja saya dibandingkan dengan tim kerja yang lain. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kesuksesan/kinerja tim kerja digunakan beberapa pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan “Task Distribution”,Team Performance Management vol.14 No.1/2 p.78(Ananya Rajagopal, 2008).


1 = Sangat tidak puas        4 = Agak puas

2 = Tidak Puas                  5 = Puas

3 = Agak tidak puas          6 = Sangat Puas

1.  Distibusi informasi  baik diantara para  anggota tim membuat saya merasa… 1 2 3 4 5 6
2.  Kebijakan yang ditetapkan dalam tim kerja saya memberikan keleluasaan bagi saya untuk bekerja. 1 2 3 4 5 6
3.  Peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan dalam hal  aturan-aturan bekerja sebagai tim membuat saya… 1 2 3 4 5 6
4.  Penetapan jadwal  akhir deadline dari perusahaan  dalam menyelesaikan   sebuah proyek membuat saya… 1 2 3 4 5 6
5.  Pihak perusahaan akan memberikan insentif yang berbeda kepada setiap anggota tim kerja seusai kinerjanya. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kesuksesan/kinerja tim kerja digunakan beberapa pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan “Team Coordination”,Team Performance Management vol.14 No.1/2 p.78(Ananya Rajagopal, 2008).


1 = Sangat kurang        4 = Agak bagus

2 = Kurang                   5 = Bagus

3 = Agak kurang          6 = Sangat Bagus

1.  Kebijakan perusahaan dalam memberikan kebijakan terhadap tim kerja anda. 1 2 3 4 5 6
2.  Intensitas  komunikasi dan bagaimana arus kerja dalam  tim kerja saya. 1 2 3 4 5 6
3.  Kemampuan dalam memberikan informasi yang akurat kepada anggota tim kerja lainnya agar meningkatkan kinerja tim. 1 2 3 4 5 6
4.  Pengendalian tim dimana saya bekerja apabila menghadapi suatu masalah. 1 2 3 4 5 6
5.  Kesiagaan tim kerja saya dalam beroperasi  untuk menghindari sebuah masalah. 1 2 3 4 5 6

Untuk mengukur kesuksesan/kinerja tim kerja digunakan beberapa pernyataan dalam format skala Likert yang bersangkutan dengan “Professional Development”,Team Performance Management vol.14 No.1/2 p.78(Ananya Rajagopal, 2008).


1 = Sangat kurang        4 = Agak bagus

2 = Kurang                   5 = Bagus

3 = Agak kurang          6 = Sangat Bagus

1.  Adaptasi para anggota tim kerja pada saat terjun kelapangan 1 2 3 4 5 6
2.  Daya tim kerja anda dalam menghindari  kesalahan atau error  yang seharusnya tidak terjadi. 1 2 3 4 5 6
3.  Daya  tim kerja anda  dalam menangani sebuah masalah yang  timbul secara tiba-tiba. 1 2 3 4 5 6
4.  Pembobotan dan pembagian kerja pada saat tim kerja beroperasi dilapangan . 1 2 3 4 5 6
5.  Pemberian nilai lebih dalam tim anda apabila seorang anggota tim kerja  bekerja lebih dominan daripada yang  lainnya. 1 2 3 4 5 6

PROFIL RESPONDEN

Silahkan Lingkari nomor yang mewakili respons yang paling tepat untuk Anda terkait dengan item berikut ,

1. Usia anda (tahun)

1. Dibawah 20

2. 20-35

3. 36-50

4. 51-65

2.Tingkat Pendidikan tertinggi anda

1. Sekolah Menengah Pertama

2. Sekolah Menengah Atas

3. Tingkat Sekolah tinggi

4. Tingkat Sarjana

3.   Jenis Kelamin Anda

1. Wanita

2. Pria

4. Status Pernikahan Anda

1. Menikah

2. Bujang

3. Janda /Duda

4. Cerai

5. Lama Bekerja dalam Organisasi (Tahun)

1. Kurang Dari 1

2. 1 – 2

3. 3- 5

4. 6 – 10

5. Lebih dari 10

6. Jumlah organisasi dimana anda pernah bekerja sebelum bergabung dengan Organisasi ini

1. Tidak satupun

2. Satu

3. Dua

4. Tiga

5. Empat atau lebih

Dengan tulus saya menghargai waktu dan kerja sama Anda. Pertanyaan dalam survei ini mungkin belum mencakup semua hal dan belum selengkap dan komprehensif, sehingga tidak memberi Anda kesempatan untuk menyampaikan beberapa hal yang mungkin ingin Anda sampaikan mengenai pekerjaan, organisasi, atau diri anda sendiri. Mohon periksa kembali untuk memastikan Anda tidak melewatkan satu pertanyaan secara tidak sengaja.

Terima Kasih.

Teori Organisasi “Strategi”

Posted in Kuliah on October 25, 2009 by JonRS

Pendahuluan

Sebagian besar perekonomian pada abad ke 20 terisolasi , dan perusahaan diharuskan untuk mengontrol dan mengelola lingkungan mereka sedemikian rupa sehingga mereka berada pada suatu sistem tertutup , dan pada suatu sistem tertutup. Perkembangan dari globalisasi dan persaingan atau kompetisi promosi telah mengubah lingkungan dimana perusahaan beroperasi. Beberapa penelitian dan riset juga telah memberikan sebuah penjelasan bagaimana tujuan dan strategi ditentukan. Terlepas dari keterbatasan ini kita masih dapat mengidentifikasikan bagaimana strategi mempengaruhi struktur. Kita dapat dikatakan beruntung karena strategi tersebut dapat dijabarkan ke dalam beberapa klasifikasi. Sebagai hasilnya beberapa jumlah dari model yang dapat digunakan dan dikembangkan untuk dapat diaplikasikan ke dalam semua jenis organisasi , tergantung dari jenis usahanya. Biasanya ini mengacu kepada organisasi-organisasi yang beroperasi dalam pasar ekonomi.Beberapa model tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan bagaiman hubungan antara strategi dan struktur berjenis amal dan perusahaan bergerak dalam menawarkan jasa atau service seperti rumah sakit. Apapun itu manajemennya pasti akan membahas tentang strategi dan bagaimana strategi tersebut dapat digunakan.Strategi dapat didefinisikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan kita untuk dapat memberikan makna yang tepat. Kita harus mempelajari tentang strategi , dalam rangka untuk mempelajarinya dapat dilakukan secara sitematis bagaimana dampaknya kedalam struktur organisasi.

Strategi

Menurut artikel Chandler Strategi dapat didefinisikan sebagai dasar penentuan tujuan jangka panjang suatu perusahaan, dan pengadopsian tindakan dan pengalokasian sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tujuan organisasi.
Contohnya seperti pengambilan keputusan untuk memperluas volume aktifitas, untuk membuka cabang baru atau kantor baru, atau untuk bergerak kedalam sebuah fungsi ekonomi baru atau untuk menjadi diversifikasi diantara banyaknya keterlibatan bisnis dan mendefinisikan tujuan dasar. Tindakan baru harus direncanakan dan sumber daya yang dialokasikan akan dialokasikan kembali dalam rangka untuk mencapai tujuan tersebut dan untuk mempertahankan dan memperluas kegiatan-kegiatan perusahaan dalam bidang-bidang baru dalam rangka merespon pergeseran permintaan , dan perubahan sumber persediaan, turun naiknya kondisi ekonomi , perkembangan teknologi baru dan tindakan-tindakan dari pesaing. Dengan penjelasan sebelumnya dapat dilihat bahwa tujuan dan strategi adalah tidak sama. Tujuan mengacu kepada hasil akhir , sedangkan strategi mengacu kepada dua maksud yaitu bagaimana caranya dan hasil akhir. Dengan demikian , tujuan juga merupakan strategi dari sebuah organisasi. Walaupun tidak semua tujuan yang mencerminkan bagaimana strategi harus dilaksanakan dan dilakukan. Definsi tidak menceritakan bagaimana perusahaan menentukan tipe strategi mereka. Dengan segala hal yang penting dan strategi yang rumit seperti itu tidak mengherankan bahwa ada pendekatan yang berbeda tentang bagaimana hal itu dapat mungkin dilaksanakan.

Modus Perencanaan

Pandangan pertama dapat disebut dengan modus perencanaan. Modus perencanaan menjelaskan dan melihat bahwa strategi sebagai rencana dan seperangkat panduan sistematis yang dikembangkan. Manajer mengidentifikasi kemana mereka akan bertujuan, yang kemudian mereka akan mengembangkan sebuah rencana sistematis dan terstruktur untuk mencapai tujuan.Strategi ini memainkan peran yang signifikan, banyak yang menganggap bahwa modus perencanaan sebagai bentuk ideal tekad strategi dan sampai baru-baru ini didominasi sudut pandang teori organisasi. Modus perencanaan pada saat ini masih banyak dipraktekkan, atau digunakan oleh beberapa perusahaan. Semua perusahaan besar memiliki rencana strategi, yang menetapkan apa yang ingin dicapai oleh perusahaan, dan bagaimana perusahaan agar dapat mencapai tujuannya. Lingkungan bisnis tidak akan pernah stabil, kompetitor yang sulit ditebak gerak-geriknya dan perjalanan strategi yang tidak lepas dari faktor keberuntungan.

Modus Evolusioner

Perspektif yang mengakui proses kompleks yang terlibat dalam pembentukan strategi adalah apa yang kita sebut modus evolusioner. Modus Evolusioner adalah modus yang memandang bahwa strategi keputusan penting yang mengalir dalam arti lain berkembang dari waktu-waktu. Modus ini tidak memandang strategi sebagai rencana yang sudah sistematis. Strategi dari beberapa perusahaan besar menggunakan modus evolusioner, ini dapat terjadi karena terbukanya kesempatan-kesempatan yang tidak diharapkan, berubahnya persepsi dan pandangan dari direktur dan manajemen senior atau tindakan kompetitor yang tidak dapat diantisipasi.

Tingkat Strategi

Perusahaan yang bergerak dalam beberapa bidang bisnis, perlu mengembangkan strategi berbeda untuk beberapa tingkat aktifitas. Maka karena itu sangatlah penting untuk membedakan antara strategi tingkat perusahaan dan strategi tingkat bisnis.

Corporate Level Strategy (Startegi tingkat perusahaan)

Apabila sebuah perusahaan bergerak dalam satu atau lebih lini bisnis , maka perusahaan tersebut akan membutuhkan Strategi Tingkat Perusahaan. Strategi ini menjelaskan bagaimana cara menjawab pertanyaan “dalam tipe bisnis apa kita harus berada?“. Strategi tingkat perusahaan berupaya untuk mendefinisikan sifat dan lingkungan bisnis, dalam sifat bisnis mana perusahaan akan beroperasi.

Business Level Strategy (Strategi Tingkat Bisnis)

Strategi tingkat bisnis disini berpacu untuk menjawab pertanyaan “bagaimana kita harus berkompetisi dalam setiap bisnis kita?”.Untuk sebuah organisasi kecil yang hanya bergerak dalam bidang satu lini bisnis kecil , atau perusahaan besar yang telah menghindari diversifikasi, Strategi tingkat bisnis ini sama saja seperti Strategi tingkat perusahaan. Melainkan dengan perusahaan besar yang memiliki banyak bisnis dalam setiap divisinya akan memiliki strateginya sendiri yang mendefinisikan produk atau jasa yang akan ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Maka Strategi Tingkat Bisnis mengacu kepada strategi yang disesuaikan dengan unit bisnis dari organisasi.

Miles and Snow’s Four Strategic Types

Raymond Miles dan Charles Snow mengklasifikasikan organisasi kedalam empat tipe berdasarkan pada tingkat dimana mereka mengubah produk atau pasar. Mereka menamakan tipe ini Defenders , Prospectors , Analysers , Reactors.

Defenders

Mengacu kepada stabilitas dengan memproduksi hanya sebuah produk yang terbatas pada sebuah segmen yang kecil, dari beberapa segmen pasar yang ada. Dalam lini pasar yang terbatas ini Defenders berjuang sekuat-kuatnya untuk mencegah para competitor dari memasuki pasar mereka. Maka karena itu Defenders disini adalah sebuah perusahaan yang yang strateginya adalah untuk memproduksi dan menghasilkan sebuah produk yang terbatas dan diarahan pada segmen yang sempit dari semua pasar potensial.

Prospectors

Prospector disini hampir kebalikanya dari defenders. Kekuatan dari Prospector adalah berada dalam pencarian dan mengeksploitasi produk baru dan peluang pasar. Maka karena itu Prospector disini adalah organisasi yang strateginya adalah untuk mencari dan mengeksploitasi produk baru dan peluang pasar. Dasar kesuksesan dari prospector disini tergantung dari pengembangan dan mempertahankan kapasitas untuk mengsurvey kondisi lingkungan bisnis secara luas, trend , dan peristiwa-peristiwa, dan kemudian membuat sebuah produk berdasarkan pencarian tersebut.

Analysers

Adalah sebuh organisasi yang strateginya adalah untuk berpindah untuk membuat produk baru atau pasar baru hanya apabila kelangsungan mereka dapat dibuktikan oleh prospectors. Analysers bergerak dalam bidang imitasi, mereka hanya mengambil ide sukses dari para prospectors , dan kemudian membuat salinan produk para prospectors, dan kemudian menyebarluaskan produk mereka keseluruh dunia.

Reactors

Yang tersisa dan menggambarkan sebuah organisasi yang mengikuti pola yang tidak stabil dan tidak konsisten. Ketika salah satu dari tiga strategi lainnya bekerja secara tidak benar Secara umum tanggapan reaktor tidak dapat diprediksi, berkinerja buruk dan sebagai hasilnya enggan untuk melibatkan diri secara agresif untuk strategi tertentu di masa depan.

Elemen kunci dari teori struktur Startegi Miles dan Snow disini adalah penilaian manajemen terhadap lingkungan bisnis yang penuh dengan ketidakpastian . Apabila manajemen memilih untuk memakai strategi defenders maka sebagai contoh apabila lingkungan stabil tentu saja persepsi dari ketidakpastian lingkungan dari beberapa manajer dapat bervariasi. Manajer di kedua organisasi dapat menghadapi situasi yang sama namun melihat dengan cara yang berbeda.

Porters Competitives Strategies

Michael Porters dari Harvard School of Business adalah salah satu pemimpin dalam studi strategi bisnis. Dia percaya bahwa tidak ada perusahaan yang dapat sukses dengan diatas tingkat rata-rata dengan memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan orang. Manajer harus memiliki strategi agar dapat memberikan organisasi keuntungan kompetitif. Manajemen dapat memilih salah satu dari strategi, baik itu Cost Leadership(kepemimpinan harga) , diferensiasi dan fokus. Pilihan yang dipilih manajemen tergantung dari kekuatan organisasi dan kelemahan competitor. Pilihan yang dipilih haruslah tepat dan sesuai dengan kekuatan manajemen itu sendiri dan organisasinya. Manajemen harus menghindari sebuah posisi yang membahayakan , manajemen lebih baik memposisikan organisasinya dan bisnisnya pada situasi dan kondisi bisnis yang sesuai dengan kekuatannya.

Cost Leadership Strategy (Strategi Kepemimpinan harga)

Strategi kepemimpinan harga dapat diadopsi apabila organisasi menetapkan untuk menjadi produsen dengan harga jual yang rendah. Apabila ingin sukses dengan strategi ini organisasi diperlukan untuk menjadi pemimpin harga dan tidak hanya menjadi salah satu pesaing dalam posisi tersebut. Produk dan barang atau jasa yang ditawarkan harus dapat dikomparasikan dengan apa yang ditawarkan juga oleh pesaing , atau paling tidak , dapat diterima oleh para pembeli.

Differentiation Strategy (Strategi Diferensiasi)

Adalah salah satu strategi dimana perusahaan yang menargetkan untuk mendapatkan posisi unik didalam sebuah industry dengan cara-cara yang dinilai secara luas oleh pembeli. Mungkin menekankan pada kualitas tinggi , jasa yang tidak biasa, design yang inovatif, kapasitas teknologi yang tidak biasa , dan nama merek yang positif dimata masyarakat. Kuncinya dalam strategi ini adalah atribut yang dipilih harus berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh pesaing lainya. Dan cukup signifikan perbedaanya untuk membenarkan harga tinggi yang melebihi biaya produk2 lainnya.

Focus Strategy (Strategi Fokus)

Bertujuan pada keunggulan biaya atau keunggulan diferensiasi dalam segmen yang sempit. Dimana manajemen akan memilih sebuah segmen pasar atau beberapa grup segmen didalam industri sebagai contoh variasi produk , tipe pembeli terakhir , jalur distribusi, dan lokasi geografikal pembeli. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mengeksploitasi sebuah segmen pasar yang sempit.

Stuck in the Middle

Organisasi yang tidak dapat meraih keuntungan kompetitif melalui satu atau lebih strategi. Organisasi-organisasi yang sulit mendapatkan kesuksesan jangka panjang.

Strategi dan Globalisasi

Apa yang membuat organisasi dan perusahaan-perusahaan tertantang untuk bergerak dengan cepat keluar negeri dan beroperasi secara internasional, untuk beberapa prusahaan memasuki pasar lintas negara memperkenalkan kepada perusahaan sebuah kompleksitas yang baru kepada operasi mereka. Beroperasi pada negara yang berbeda tentu membutuhkan beberapa regulasi baru dan peraturan baru dan beberapa factor lain yang baru , yang diantaranya adalah citra rasa atau selera, cara berpakaian, praktek kerja , dan legalitas yang berbeda ,seperti halnya dengan struktur industry , dan kesulitan teknologi.
Dua peneliti Barlett dan Goshal menetapkan sebuah teori yang berubungan dengan startegi global dan struktur. Mereka menyatakan bahwa strategi diadopsi dan digunakan pada saat memasuki pasar global tergantung dari interaksi dari tekanan biaya yang ditemukan pada pasar dan tekanan dari pertanggungjawaban lokal.

Strategi Internasional

Strategi yang membutuhkan perusahaan untuk mentransfer ketrampilan dan pengetahuan akan produk ke pasar luar negeri. Beberapa penyesuaian dilakukan di pasar negara asal, penelitian dan perkembangan tersentral di pasar negara asal, namun proses manufaktur, distribusi , dan pemasaran dilakukan secara local. Bagaimanapun juga kantor pusat tetap menjaga dengan pengelolaan ketat.

Multidomestic Strategy (strategi multidomestic)

Strategi ini bertujuan untuk mencapai tanggapan lokal yang maksimum dengan produk-produk yang telah disesuaikan dengan kondisi lokal.
Global Strategy (strategi global)

Strategi ini diadopsikan ketika sebuah produk dapat dijual di beberapa pasar dengan perubahan yang sangat sedikit. Perusahaan yang menggunakan strategi ini bekerja keras dalam menurunkan biaya dengan aktivitas dimana yang paling menguntungkan. Maka strategi ini dapat disebut dengan strategi menurunkan biaya dengan menjual produk biasa keseluruh dunia atau berbasis global.

Transnational Strategy

Strategi transnasional adalah strategi yang sangat jarang digunakan. Strategi Transnasional berusaha untuk meraih dan mencapai tanggapan maksimum pada saat mencapai skala ekonomi dunia.

Barlett dan Goshal menyatakan beberapa dari startegi ini membutuhkan beberapa struktur organisasi, mereka menyatakan strategi ini berdasarkan penelitian yang luas , setelah melaksanakan beebrapa studi yang luas diseluruh dunia, dan melibatkan beberapa perusahaan yang tersebar antar benua , meraka dapat menentukan bahwa kegagalan dapat terjadi bukan karena majunya teknologi atau kecanggihan teknologi dan produk yang kurang dapat diterima di masyarakat, melainkan kegagalan tersebut timbul dari faktor kapabilitas organisasi. Karena kapasitas organisasi sangat menentukan bagaimana organisasi tersebut dapat beroperasi dengan baik atau sebaliknya.

Industri dan Hubungan Struktur

Berhubungan erat dengan dampak strategi dalam struktur organisasi. Dalam menentukan strukturnya, ada yang membedakan karakterisitk dari industri dengan strategi mana yang akan mereka pilih. Mungkin strategi semata-mata merupakan langkah penengah antara karakteristik unik industri dimana organisasi beroperasi dan menerapkan struktur untuk mencapai kesejajaran. Industri berbeda dalam hal pertumbuhan kemungkinan , baik itu kendala regulasi , batasan untuk masuk , persyaratan modal , dan beberapa faktor lainnya. Sekedar mengetahui bahwa industri yang bergerak dalam beberapa bidang memiliki beberapa strategi yang berbeda juga. Untuk mengilustrasikan bagaimana industri dapat mempengaruhi struktur, kita dapat mengambil dua variable yang dapat dibedakan dengan kategori industrinya, baik itu persyaratan modal yang tinggi dan tingkat inovasi produk. Pada bagan A , industri memiliki tingkat tinggi dalam kedua variable yakni sebagai contoh (perusahaan kedirgantaraan dan perusahaan telekomunikasi) , sedangkan pada bagan tipe C, industri memiliki persyaratan modal yang tinggi dan inovasi produk yang rendah. Persayaratan modal yang tinggi cenderung diaplikasikan pada perusahaan berskala besar dan jumlah pesaing yang terbatas. Perusahaan dalam tipe A dan tipe C akan sangat terstruktur. Industri pada bagan B dan D memiliki persyaratan modal yang rendah dan cenderung terdiri dari beberapa jumlah perusahaan kecil. Akan tetapi perusahaan pada bagan tipe D memiliki beberapa perbedaan ,yang biasanya terdiri dari beberapa pembagian kerja dan lebih formal daripada tipe B, karena inovasi produk yang rendah membutuhkan standarisasi yang lebih tinggi.

Dua variable analisis Industri
A Contoh Perusahaan :
– Perusahaan Penerbangan /Kedirgantaraan
– Perusahaan Telekomunikasi B Contoh Perusahaan :
– Perusahaan Software Komputer
– Penerbit Majalah
C Contoh Perusahaan :
– Perusahaan Logam dan pertambangan
– Pembuatan Alat D Contoh Perusahaan :
– Pengecer Alat-alat bangunan
– Perusahaan Sepeda

Kekuatan Strategi Kombinasi Jaringan Industri

Setelah berkonsentrasi kepada strategi dan tanggapan atau peran struktur pada organisasi. Industri dapat bekerja dengan industri lainnya dalam membuat suatu produk masiv atau besar, contoh dari perusahaan tersebut adalah dapat diambil dari perusahaan mobil Ford ,General Motor ,dan Toyota. Sebagai contoh apabila Toyota akan membuat suatu mobil balap, mobil tentunya terdiri dari beberapa komponen penting, baik mesin, rem, body, ban, velg, interior dan Jok. Dan contohnya pada produk kaki-kaki mobil tersebut terdapat ban, per, velg dan sistem rem. Mereka Toyota memberikan keleluasaan pada perusahaan yang memproduksi khusus kaki-kaki mobil balap, misalnya Brembo yang bergerak dalam bidang rem mobil , Bridgestone dan Dunlop yang bergerak dalam bidang ban mobil, dan MacPherson pada per dan shock absorber, dan SSR ,Volk Racing, Falken, Rays pada velg mobilnya. Dan kemudian jadilah sebuh produk koperatif yang terdiri dari keterlibatan perusahaan lain.

Tipe ini dapat disebut dengan tipe clusters, dan biasanya ter-koordinasi dengan tekanan pasar. Jaringan dalam cluster ini tidak memiliki hubungan membership atau asosiasi , namun hubungan ini memang benar-benar ada dan dapat dikatakan legal. Setiap bagian saling bertukar informasi , satu sama lain saling bertukar ide dan ide-ide sumber daya, bahkan kadang-kadang bersifat personal.

Strategi lainnya adalah Strategi Aliansi , strategi yang terbentuk dari gabungan para atau antar tim manajemen yang terdiri dari dua atau lebih perusahaan , yang ber ko-operasi dan berusaha mendistribusikan keahlian khusus mereka masing-masing dan pada saat itu juga mempertahankan ketergantungan mereka satu sama lain. Strategi ini dapat terwujud dalam industri, desain konstruksi mesin dan desain sebuah konsep produk baru . Hubungan relationship antara Strategi aliansi ini merupakan partner dan seringkali terbentuk dengan perjanjian kontrak dan dapat juga dengan surat persetujuan antar pihak-pihak yang terlibat, walaupun terjadi tingkat kepercayaan yang tinggi diantara para pelaku atau perusahaan yang menggunakan strategi ini

Kesimpulan.

Maka dari pertanyaan apakah hal yang menetukan struktur , apakah itu strategi organisasi atau tujuan organisasi. Struktur terlihat sebagai alasan yang sangat rasional dan jelas perannya dalam pencapaian sebuah tujuan. Strategi ditentukan dengan tujuan jangka panjang dari sebuah organisasi dan bagaiman cara untuk memenuhi tujuan tersebut. Sangat jelas bahwa perusahaan pada zaman globalisasi ini harus memiliki strategi yang tepat agar dapat beroperasi dan bersaing dengan ketat dengan para pesaing baik itu dalam batasan domestic maupun internasional. Tidak ada perusahaan yang menjalankan operasinya dan sukses dipasar tanpa menggunakan strategi yang tepat.